Makassar, PANRITA.News — Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban tenggelamnya KLM Nurul Salsa di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel), direncanakan akan resmi ditutup pada Jumat (24/7/2026) sore ini.
Keputusan ini diambil setelah proses pencarian memasuki hari ke-10, yang merupakan batas akhir dari masa perpanjangan operasi.
“Direncanakan sore hari ini, penutupan sementara,” ujar Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, saat menggelar konferensi pers di RS Bhayangkara Makassar, Jumat (24/7/2026).
Arif menjelaskan bahwa penutupan dilakukan setelah tim SAR gabungan menyelesaikan masa perpanjangan pencarian selama 3 hari. Keputusan akhir mengenai status operasi ini akan difinalisasi dalam rapat evaluasi sore nanti.
“Operasi SAR itu sesuai dengan SOP atau Surat Edaran Nomor 5 Kabasarnas, itu batas pencarian 7 hari. Namun karena kemarin ada perpanjangan karena adanya evaluasi tim di lapangan. Instruksi dari pimpinan pusat, hari ke-10 ditutup sementara. Jadi sementara yah,” katanya.
Kendati ditutup sementara, Basarnas menegaskan bahwa pergerakan personel akan langsung diaktifkan kembali jika ada perkembangan informasi terbaru di lapangan. Namun, sifat operasinya akan berubah.
“Dalam hal ini tinggal mengambil korban untuk diserahkan ke tim DVI, seperti itu,” jelas Arif mengenai prosedur evakuasi lanjutan jika ditemukan korban baru.
14 Penumpang Masih Hilang
Hingga memasuki hari ke-10, tim SAR gabungan tercatat telah berhasil mengevakuasi total 62 korban. Rinciannya, sebanyak 58 orang ditemukan dalam kondisi selamat dan empat korban dinyatakan meninggal dunia. Hingga saat ini, masih ada 14 penumpang kapal yang dinyatakan hilang dan belum ditemukan.
“Saat ini kami sudah mengevakuasi atau selamat 58 orang, dan sampai hari ini kita serahkan korban yang ketiga,” tutur Arif.
“Dan yang pertama, itu tidak diserahkan ke DVI karena memang korbannya pas meninggal bersamaan dengan evakuasi yang selamat. Jadi, meninggal dunia 4 orang, dan masih dalam pencarian sampai saat ini itu 14 orang,” sambungnya.
Pada hari terakhir ini, tim SAR memfokuskan area pencarian di wilayah Pulau Sabalana dan Pulau Sanana, Kabupaten Pangkep. Petugas juga menyisir pulau-pulau kecil tak berpenghuni di sekitarnya menyusul temuan dua jenazah sebelumnya di kawasan tersebut.
“Hari ini kami berfokus di dua pulau tersebut menggunakan Sea Rider milik KN SAR Pacitan dan KN SAR Kamajaya, serta kami berkoordinasi dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia yang ada di Kabupaten Pangkep untuk menginformasikan kepada kami apabila mendapatkan korban disampaikan,” terangnya.
Arif menambahkan, ada sekitar 20 pulau kecil tak berpenghuni di sekitar Sabalana dan Sanana yang menjadi titik krusial penyisiran. Pihaknya masih menyisipkan harapan adanya korban yang berhasil menyelamatkan diri ke pulau-pulau tersebut.
“Makanya dengan mohon maaf, manusia itu kan biasanya kehidupannya itu kita evaluasi itu batas 7 hari. Itu kalau lebih dari itu kan biasanya (sudah meninggal), ya ada lah juga yang sampai sebulan. Makanya kami berharap di pulau-pulau tak berpenghuni ini mereka ada di sana, sehingga apabila ada, tinggal kami melaksanakan evakuasi,” jelasnya.
Dihadang Cuaca Buruk Bergelombang 3 Angka
Selama 10 hari berturut-turut, tim gabungan harus berhadapan dengan kendala cuaca buruk di laut. Kecepatan angin timur menuju tenggara yang mencapai 15 hingga 20 knot memicu gelombang tinggi hingga 3 meter, yang menyulitkan kapal besar merapat ke pulau-pulau kecil.
“Dalam hal ini, operasi pencarian selama 10 hari ini tidak pernah ada cuaca yang bagus. Karena kecepatan angin dari angin timur menuju ke tenggara saat ini mencapai 15 sampai 20 knot, dan itu akan memicu gelombang yang sangat tinggi,” pungkas Arif.
Sebagai informasi, KLM Nurul Salsa dilaporkan tenggelam pada Rabu (15/7/2026) setelah bertolak dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar.
Kapal mengalami mati mesin di tengah laut hingga karam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, atau sekitar 43 nautical mile dari Pelabuhan Benteng.

Comment