Harga Minyak Dunia Meroket Tembus US$ 100 per Barel, Ini Pemicunya

Ilustrasi minyak global. (Freepik)

Ilustrasi minyak global. (Freepik)

pemkot-makassar

Jakarta, PANRITA.News — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu guncangan hebat di pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Jumat (24/7/2026), dengan minyak mentah jenis Brent resmi ditutup di atas level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2026.

Lonjakan ini dipicu oleh klaim kelompok Houthi di Yaman yang mengaku telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di kawasan Laut Merah.

Berdasarkan data perdagangan, minyak mentah Brent ditutup naik signifikan sebesar US$ 6,62 atau 7 persen menjadi US$ 100,69 per barel.

Angka ini menandai posisi penutupan tertinggi sejak 22 Mei 2026. Sejak perang Iran pecah pada Februari 2026, harga Brent tercatat telah melonjak hampir 40 persen, di mana sebagian besar reli kenaikan tersebut terjadi sepanjang bulan ini.

Kondisi serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang menguat sebesar US$ 5,36 atau 6,2 persen ke posisi US$ 92,19 per barel. Ini merupakan level penutupan tertinggi untuk WTI sejak 4 Juni 2026.

Direktur energy futures Mizuho, Bob Yawger, menjelaskan bahwa kombinasi antara risiko militer dan hambatan logistik di jalur laut menjadi motor utama meroketnya harga komoditas ini.

BACA JUGA:  Trump Klaim Selat Hormuz dan Kapal Melintas Bayar 20%, PBB-Iran Bereaksi!

“Meningkatnya potensi perang darat serta terganggunya lalu lintas kapal tanker di dua jalur pelayaran utama dunia mendorong harga minyak mendekati rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir,” kata Bob Yawger dalam keterangannya.

Ia juga menambahkan peringatan mengenai arah pergerakan harga ke depan jika eskalasi terus memburuk. “Apabila gangguan pasokan terus berlanjut, harga minyak berpotensi kembali menguji level tertinggi sekitar US$ 126,41 per barel,” ujarnya.

Sebelum insiden ini terjadi, kelompok Houthi secara terbuka menyatakan niatnya untuk memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pengiriman minyak yang berasal dari Arab Saudi.

Hingga pada Kamis (23/7/2026), kelompok tersebut mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi yang tengah melintasi Selat Bab el-Mandeb.

Pihak Riyadh sendiri tidak menampik adanya insiden keamanan di wilayah tersebut. Kantor berita pemerintah Arab Saudi, SPA, mengonfirmasi bahwa salah satu kapal tanker mereka memang mengalami kebakaran saat berlayar di Laut Merah, meskipun dalam rilisnya SPA tidak menyebutkan secara spesifik pihak yang berada di balik serangan tersebut.

Analis dari Gelber and Associates menilai situasi ini memperparah kerentanan rantai pasok energi yang sudah ada. Eskalasi konflik dinilai memperburuk gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya telah dipicu oleh menurunnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz serta berkurangnya ekspor minyak dari Iran.

BACA JUGA:  Lalu Lintas Kapal Tanker Selat Hormuz Sepi di Tengah Guncangan Harga Minyak Dunia

Para analis memperkirakan bahwa Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb secara bersama-sama mengontrol jalur distribusi sekitar seperempat pasokan minyak dunia.

Oleh karena itu, setiap gangguan sekecil apa pun di kedua titik nadi tersebut dipastikan langsung menggoyang pasar energi global.

Di tengah situasi yang mencekam tersebut, data pelayaran mencatat ada dua kapal tanker raksasa asal China yang membawa muatan total 4 juta barel minyak Arab Saudi terdeteksi berhasil keluar dari Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb pada Kamis (23/7/2026).

Melihat situasi yang berkembang, lembaga keuangan global Goldman Sachs merilis proyeksi terbaru yang cukup mengkhawatirkan bagi negara-negara importir minyak.

Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent dapat melampaui level US$ 120 per barel pada kuartal IV 2026.

Lebih lanjut, harga minyak diprediksi akan bertahan tinggi di kisaran rata-rata US$ 100 per barel pada tahun 2027 mendatang, dengan catatan apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlangsung hingga tahun depan.

Prediksi harga tersebut bahkan berpotensi melambung lebih tinggi lagi dari perkiraan semula apabila gangguan navigasi dan keamanan juga terjadi secara berkepanjangan di Selat Bab el-Mandeb serta Terusan Suez.

Comment