Memperkuat Kedudukan Ilmu Hikmah dalam Perkaderan HMI

Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI periode 2003-2005)

Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI periode 2003-2005)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) selalu memperoleh perhatian karena kepeloporan kader-kader mereka dalam “menelurkan” gagasan-gagasan segar ditengah tuntutan masyarakat akan pentingnya spirit baru dalam menjawab aneka tantangan dalam membangun peradaban. Tapi akhir-akhir ini, perhatian tertuju kepada HMI bukan disebabkan oleh mengalirkan air kehidupan berupa limpahan ide-ide segar dari para kader-kader HMI, namun lebih karena terkait urusan aktifisme politik para kadernya yang menjunjung nilai profetik dalam berpolitik. Dan yang termutakhir, perhatian tertuju kepada HMI bukan lagi karena urusan intelektualitas dan aktifisme politik yang bersifat profetik diatas, namun justru pada aspek yang tidak pantas sama sekali untuk dicatat dalam pergolakan pemikiran HMI. Sebab itu, risalah ini pun tidak perlu menyebutnya secara terbuka, dan cukup jadi bahan renungan kenapa situasi ini mesti terjadi dan melanda HMI.
Kerinduan kepada munculnya suatu kekuatan pembaruan pemikiran di HMI, pasca generasi Nurcholish Madjid (Cak Nur) Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, Kuntowidjoyo, (untuk menyebut beberapa nama), sesungguhnya amat dinantikan. Dan memang faktualnya, belum nampak sosok penarik lokomotif pemikiran baru di kalangan HMI yang dapat “disetarakan” apalagi untuk dikatakan melampaui kesuksesan Cak Nur. Tidak ada maksud untuk menyesali apalagi menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Pun catatan ini diturunkan dalam rangka melihat satu sisi lain, yang “alfa” untuk memperoleh perhatian, agar memperkaya warna-warni pemikiran yang terkemas sistem perkaderan HMI.

Qalbu dan Kehadiran Ilahi

Ilmu, sesungguhnya adalah sebuah sifat yang menghendaki bahkan mengharuskan adanya pencapaian oleh Qalbu, maka yang mengetahui (al-alim) adalah qalbu, dan objek ilmu (al-ma’lum) adalah perkara yang dicapai. Qalbu menurut para pemikir Muslim tradional adalah cermin yang terpoles dan mengkilap. Di mana semua bagian dari cermin itu disebit wajah (wajh), dan selamanya tidak akan berkarat. Jika suatu saat qalbu disebut mengalami karatan, seperti sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya qalbu-qalbu benar-benar bisa berkarat layaknya besi yang berkarat” dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi, dan terdapat dalam Kitab Syu’ab al-Iman, bab 19 no. 1863 ini, dikatakan; “yang bisa membuatnya mengkilap adalah mengingat (dzikr) Allah dan membaca tilawah Al-Quran”. Maka “tilawah Al-Quran” (dalam pengertian yang seluas-luasnya) adalah point penting yang tidak dapat diabaikan oleh sistem perkaderan HMI. Tetapi dari segi keberadaan Alquran sebagai “peningat/dzikr yanh mengandung Hikmah (az-dzikr al-hakiim) sebagaimana yang dimaksud QS. Ali Imran ayat 58, maka yang dimaksud karat di sini bukanlah kabut berupa kebodohan, kesedihan atau kegelisahan (takhta) yang muncul dan menutupi permukaan qalbu. Tetapi ketika qalbu tersibukkan oleh ilmu-ilmu sekunder (asbab) sebagai ganti dari tiada perhatian terhadap ilmu-ilmu primer yang bersumber langsung dari Allah SWT, maka keterkaitan dan kecintaannya (taalluq) kepada selain Allah tersebut yang menutupi wajah atau permukaan qalbu, karenanya akan menjadi penghalang untuk tajalli Al-Haqq kepada qalbu. Dan inilah problem sesungguhnya yang selama ini tidak terjawab oleh sistem perkaderan HMI dan sebab itu harus segera disempurnakan.

Tajalli Ilahi sesungguhnya berlangsung terus-menerus tanpa henti. Maka sebenarnya tidak ada hijab yang dapat menghalangi kita darinya sama sekali. Hanya saia, ketika qalbu tidak menerima tajalli Kehadiran Ilahi tersebut dari segi perintah syariat yang benar, yang terpuji, dikarenakan karena ia menerima sesuatu yang lain. Maka penerimaan atas sesuatu yang lain itu diibaratkan dalam Alquran sebagai “tutup” atau Kinn (QS. 41:5); atau sebagai gembok (qulf) QS. 47:24), kebutaan (‘ama’) (QS. 22:46) atau kotoran yang menutupi seperti yang dimaksud QS 83:14 sebagai “ran”. Atau jika tidak, Al-Haqq memberikan penjelasan bahwa ilmu ada di qalbu, namun ilmu yang ada disitu bukan ilmu dari Allah SWT. Demikianlah yang disampaikan Allah swt dalam firman-Nya;

“Dan mereka berkata:Qalbu-qalbu kami berada dalam tutup yang menutupi dari apa yang kau serukan” (QS. 41:15).

Jadi qalbu-qalbu itu tertutupi dari apa yang diserukan Rasulullah, sehingga qalbu-qalbu itu buta untuk memahami apa yang diserukan kepadanya serta tidak dapat melihat apapun. Qalbu sesungguhnya senantiasa bersih dan mengkilap, dan didalamnya kekhadiran Ilahi senantiasa dapat bertajalli, atau menampakkan Diri-Nya seperti “Batu Yakut Merah” dan ini adalah tajalli Zati, yang IA itu adalah pemilik musyahadah, dari seorang insan yang tersempurnakan, pemilik ilmu (alim). Di bawah tajalli zati ini, ada tajalli sifat, dan ada tajalli perbuatan-perbuatan atau af’al.

Tidak boleh dibenarkan bahwa qalbu dipahami sebagai ilmu; tidak boleh dibenarkan bahwa ilmu adalah kilapan dari Zati yang dimiliki qalbu; karena kilapan Zati itu hanyalah sebab yang bisa menghantarkan kepada ilmu, bukan ilmu itu sendiri. Sama halnya dengan manifestasi objek ilmu bagi qalbu yang juga hanya menjadi sebab untuk sampainya ilmu. Tidak juga dapat dikatakan bahwa ilmu adalah sebab yang menyampaikan objek ilmu kepada qalbu. Jangan pula mengatakan bahwa ilmu adalah pola dari objek ilmu yang tercetak dalam diri, yang artinya berupa gambaran ilmu.

Yang benar adalah; bahwa ilmu merupakan pemahaman terhadap sebuah objek pemahaman (mudrak) yang sesuai dengan bagaimana sebenarnya objek tersebut. Tetapi pengertian seperti ini hanya berlaku bagi sesuatu yang tidak terdapat penghalang dalam memahaminya. Namun, bagi sesuatu yang terdapat penghalang dalam memahaminya, maka ilmu tentang sesuatu itu adalah dengan “tidak memahaminya”. Inilah yang dimaksud oleh Sahabat Utama Rasulullah SAW, Sayyedinw Abu Bakar As-Siddiq ra, bahwa “ketidakpahaman untuk memahami sebuah pemahaman adalah sebuah pemahaman.

Perjelasan perihal ilmu, objek ilmu dan bagaimana orang yang berilmu, kami kira tidak perlu diurai panjang lebar pada kesempatan ini. Karena catatan ini memang hanya bermaksud untuk mengingatkan kepada kader-kader HMI mengenai suatu hal, yang jika tidak memperoleh perhatian akan membuat “kekacauan” dalam sistem perkaderan HMI, yang akan menjadikan HMI sama sekali tidak lagi dibutuhkan perannya dalam memberikan konstribusi pengembangan ilmu pengetahuan melalui ide-ide pembaruan pemikiran.

Sebagai pengingat, maka perlu ditegaskan beberapa hal: pertama, HMI mesti menyempurnakan sistem perkaderannya, guna menjawab berbagai tantangan manusia yang makin kompleks dan memerlukan solusi. Kedua; kurikulum perkaderan HMI memerlukan “ciri pembeda” (furqon) dengan kurikulum perkaderan organisasi/ormas lain atau institusi pendidikan lain, baik itu milik pemerintah maupun swasta. Sehingga memiliki nilai keunggulan tersendiri. Ketiga; nafas Islam dalam tujuan HMI pada frase “bernafaskan Islam” harus di manifestasikan dalam sistem perkaderan dengan memperhatikan fungsi Alquran sebagai az-dzikr al-hakiim.

Ketiga hal diatas, mendesak untuk diterjemahkan secara operasional dalam sistem perkaderan HMI. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan, petunjuk dan bimbingan-Nya kepada para pimpinan HMI untuk memberi respons secara bijaksana.

Billahit Taufiq Walhidayah

Depok, 7 Februari 2021

Tinggalkan Komentar