Oleh: Muh Arya Dwi Madaprama
Politik adu domba (Devide et Impera) adalah tindakan memecahbelah suatu kelompok menjadi bagian yang terpisah dengan tujuan invasi otoritas, penanaman hegemoni, maupun penguasaan terhadap suatu wilayah dan kondisi
Melalui sistem produksi isu yang sistematis dan agitatif Devide et Impera dapat melahirkan konfrontasi serta garis demarkasi terhadap suatu golongan yang semula memiliki tujuan yang sama namun terbelah dan saling berbenturan bahkan sampai bersimbah darah.
Lazimnya, tindakan ini dilakukan oleh kolonialisme untuk merebut dan menaklukkan suatu negara dengan cara yang dinilai sangat hemat serta sederhana, hanya bermodal ucapan atau melempar opini, membuat kelompok menjadi berlawanan lalu hadir sebagai pahlawan sekaligus menjadi gerbang atau transportasi untuk sebuah tujuan
Di Indonesia sendiri, Metode ini pernah digunakan oleh beberapa negara sebagai pintu masuk untuk memonopoli perdagangan dan mengakusisikan kekuasaan, seperti yang dilakukan oleh portugis dan spanyol terhadap kerjaan ternate dan tidore pada abad 16.
Semula hubungan antar kerajaan ternate dan tidore begitu erat sebagai wilayah yang satu kepulauan dan salah satu penghasil rempah-rempah (cengkeh), akan tetapi keterlibatan Portugis maupun spanyol dengan model Devide et Impera membuat hubungan kedua kerajaan tersebut retak dan berujung pada peperangan, sedangkan spanyol dan Portugis mendapatkan bagian dan menjadi pahlawan atas konflik yang telah diciptakan.
Senada dengan peristiwa tersebut, sebagai negara yang cukup lama menjajaki indonesia, belanda juga tidak luput menerapkan Devide et Impera dalam perjalanannya untuk membangun pengaruh dan kekuasaan di indonesia. Seperti perpecahan kerajaan mataram yang berujung pada perjanjian Giyanti & Konflik Sumatera barat yang berakhir diatas perjanjian Padri
Dari beberapa rangkaian perpecahan di indonesia akibat politik Devide et Impera, satu hal yang bisa dipastikan bahwa pihak yang menerapakan politik adu domba selalu memiliki tangan yang bersih, menjadi heroik, bahkan mendapatkan upeti yang sangat menguntungkan bagi pelakunya.
Kendati pelaku dari politik adu domba Devide et Impera selalu identik diduduki oleh Kolonial, namun bukan berarti hal tersebut sebagai sesuatu yang permanen, bisa saja semua hal mengenai kejadian tersebut dapat berubah selaras dengan teori Evolusi Darwin.
Perubahan tersebut dapat meliputi aktor atau tokoh pelaksana, metodologi yang digunakan, tujuan yang ingin dicapai dan keuntungan yang dapat diterima dalam mengaplikasikan politik adu domba, sehingga belakangan ini saya mencoba menganalisis transisi politik adu domba dalam beberapa tahun keberlangsungan pemerintahan, terkhusus di Era Pemerintahan hari ini yang cukup menuai kontroversial dengan beberapa Program
Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis yang di harapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Upaya Pencegahan terhadap stunting dalam menjemput Generasi Emas. Terlepas dari berbagai sudut pandang ekonomi, politik, maupun yang lain mengenai kebijakan tersebut, saya melihat Makan Bergizi Gratis akan menjadikan Pemerintah sebagai Aktor Devide et Impera dan sekaligus sebagai Sumbu terhadap perang saudara di Indonesia (Detonator Civil War).
Saya melihat, Makan Bergizi Gratis seperti Proklamasi Politik yang dibungkus dengan Kebijakan dan akan membawa pengaruh perpecahan yang luar biasa ke depan. Bagaimana tidak? akibat MBG Pemangkasan dana dari beberapa sektor membentuk perpecahan di beberapa bidang yang melahirkan pengelompokan Pro & Kontra di tubuh masyarakat
Kelompok yang Kontra terhadap MBG bersumber dari berbagai kalangan, salah satunya ialah mereka yang mengalami dampak langsung akibat pemangkasan Anggaran karena Makanan Bergizi Gratis, Penolakan juga lahir dari beberapa pengamat yang menilai MBG lebih kepada Rencana atau Aktivitas Politik belaka, bahkan sebagai panggung korupsi yang ditandai dengan Kepala Badan Gizi Nasional dan sejajarannya yang terjarat kasus Korupsi Pengelolaan Tata Kelola MBG Belakangan ini.
Sedangkan Kelompok yang Pro terhadap Makan Bergizi Gratis adalah mereka yang terlanjur sedang menikmati keberlangsungan Program ini dan Menilai sebagai hal yang positif, juga tak luput turut untuk melakukan upaya Defensif dalam mempertahankan keberlangsungan Makan Gizi Gratis ini, sehingga kelompok Masyarakat terbagi dan saling berbenturan satu dengan yang lainnya.
Kenyataan pahit tersebut dapat dilihat dari beberapa waktu lalu, Demonstrasi yang dilakukan oleh beberapa kalangan dalam menyoal penolakan terhadap Makan Bergizi Gratis di Respon oleh Demontrasi tandingan yang terjadi di Kota Makassar untuk Mempertahankan keberlanjutan Makan Bergizi Gratis, Sehingga Menurut Saya Akan ada titik dimana kelompok masyarakat akan mencapai perang sipil akibat kebijakan pemerintah sendiri.
Hal tersebutlah yang melatarbelakangi pandangan saya dalam melihat kondisi pemerintah tidak lagi berfungsi sebagai tempat penampungan aspirasi maupun perancang regulasi yang solutif terhadap masyarakat, melainkan sebagai aktor politik adu domba melalui kebijakan yang entah menguntungkan bagi siapa sebenarnya?
Secara akar rumput telah saling sikut antar satu dengan yang lain, bahkan menurut saya jika polemik ini tidak cepat tertangani akan ada titik Masyarakat saling bersimbah darah, bukan karena penjajah, melainkan akibat dari kebijakan pemerintah sendiri.hal inilah yang membuat saya sangat sulit untuk membedakan antara kolonial dengan pemerintah dalam kedudukan Politik Adu Domba / Devide Et Impera.
Jika penjajah datang dengan politik adu domba atas upaya investasi maupun ekploitasi, lantas apa tujuan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memecah bela masyarakat juga? Jika hanya karena kelanggengan kekuasaan belaka, maka saya menyebut pemerintah sebagai kolonial dengan model Devide it Empera yang baru. Semoga polemik perpecahan ini dapat terasi dengan cepat dan baik, kejadian hari ini mengingatkan kita atas pernyataan Ir. Soekarno dalam pidatonya di tahun 1961 bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit untuk karena melawan bangsamu sendiri”
Maka, sebagai upaya dalam menjaga kesadaran sebagai Masyarakat Indonesia, mari kita membekali diri dengan ilmu pengetahuan agar tidak mudah untuk terjerumus dalam rekayasa sosial yang dimainkan oleh beberapa kelompok untuk memecah bela, ilmu pengetahuan adalah vaksin terbaik terhadap virus yang diciptakan oleh siapapun, bahkan pemerintah itu sendiri!

Comment