Gelar Rakornas, JK Berharap KAHMI Mampu Membaca Perubahan Demokrasi

Kahmi Gelar Rakornis di Jambi

Kahmi Gelar Rakornis di Jambi

Jambi, PANRITA.News – Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menggelar Rakornas I dengan mengangkat tema “Meningkatkan Kualitas Demokrasi Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat” di Abadi Suite Hotel and Tower, Jl. Jenderal Gatot Subroto No, 92-98 Pasar Jambi, Kota Jambi, Jum’at, Sabtu (24/11/18).

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang menghadiri pembukaan Rakornas I KAHMI tersebut mengatakan sistem demokrasi harus dikoreksi apakah masih sesuai diterapkan sebagai sistem pemerintahan.

“Demokrasi juga harus dikoreksi sesuai zamannya. Demokrasi mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Sekarang tentu pertanyaannya ialah demokrasi bagaimana yang kita harapkan untuk memajukan bangsa ini,” kata JK dalam sambutannya, dikutip dari Antara.

JK menjelaskan, negara-negara maju seperti Amerika Serikat berkampanye dengan cara diskriminatif.

“Mulai bertanya-tanya apakah Amerika yang merupakan suatu negara demokrasi yang sangat tinggi, tapi yang terpilih Trump, yang berkampanye dengan cara diskriminatif. Artinya tidak demokratis, Islam tidak boleh masuk, mendekati Korea (Utara) dan sebagainya,” jelasnya.

lanjut JK, Inggris pun, menerapkan kebijakan ekslusif setelah meloloskan diri dari Uni Eropa lewat referendum Brexit. JK mengatakan, lewat contoh dari dua negara tersebut menimbulkan pertanyaan baru apakah sistem demokrasi masih sesuai diterapkan saat ini.

“Di Inggris, (referendum) Brexit menang. Itu juga karena ingin proteksionis. Maka terjadilah suatu paham-paham yang putar balik pada masa lalu,” tuturnya.

Tidak hanya itu, di bidang ekonomi, JK menyebut Amerika juga mulai menerapkan kebijakan eksklusif dengan menerapkan pajak tinggi bagi barang ekspor dari negara lain. Sementara negara penganut paham komunis-sosialis seperti China, kata dia, justru ingin membuka diri lewat kerja sama dengan negara lain.

“Kalau masa lalu, negara demokratis cenderung ekonominya terbuka dan negara yang tidak demokratis-sosialis atau komunis, ekonominya tertutup, proteksionis. Sekarang terbalik, Amerika ingin proteksionis sementara China yang sosialis-komunis itu ingin ekonomi terbuka,” pungkasnya.

JK berharap KAHMI sebagai organisasi intelektual dapat membaca perubahan-perubahan tersebut. Sehingga bersama-sama menemukan sistem pemerintah yang sesuai, namun tidak menjadikan Indonesia sebagai bangsa otoriter.

Tinggalkan Komentar