Jakarta, PANRITA.News — Rencana Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, untuk maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V pada Pemilu 2029 belum memicu kekhawatiran di kalangan partai politik pesaing.
Sejumlah partai pemilik kursi di parlemen justru merespons santai deklarasi putra bungsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tersebut.
Mereka menilai pencalonan Kaesang adalah hak politik setiap warga negara sekaligus bagian dari dinamika demokrasi yang sehat.
Meski begitu, para rival politik sepakat bahwa Dapil Jawa Tengah V yang meliputi Kota Solo, Kabupaten Boyolali, Sukoharjo, dan Klaten merupakan salah satu daerah pemilihan dengan tingkat kompetisi paling sengit di Indonesia, hingga kerap dijuluki sebagai “dapil neraka”.
Pada Pemilu Legislatif 2024 lalu, PDI-P mendominasi dapil ini dengan mengamankan tiga kursi DPR RI. Sementara itu, Gerindra, PKS, PAN, PKB, dan Golkar masing-masing memperoleh satu kursi.
Dapil Jateng V juga menjadi basis kuat bagi tokoh-tokoh politik nasional papan atas, seperti Ketua DPR RI Puan Maharani yang sudah empat kali terpilih, serta politikus senior PDI-P Aria Bima yang sukses lolos ke parlemen lima periode berturut-turut.
PDI-P: Politik Itu Dipimpin Ideologi, Bukan Sekadar Kursi
PDI-P menjadi salah satu partai yang tidak melihat pencalonan Kaesang sebagai sesuatu yang luar biasa. Sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa keputusan Kaesang maju sebagai caleg merupakan proses politik yang sangat lazim dalam sistem demokrasi.
“Sehingga hal-hal yang sifatnya praktis-praktis, menjadi calon anggota legislatif, itu kan proses yang normal,” ujar Hasto saat ditemui di Sekolah Partai PDI-P, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Namun, ia menekankan bahwa orientasi politik PDI-P jauh lebih besar daripada sekadar berebut kursi. “Ya, bagi PDI-P, politisi itu dipimpin oleh ideologi, oleh gagasan-gagasan besar,” tambahnya.
Senada dengan Hasto, Ketua DPP PDI-P Ganjar Pranowo juga menepis anggapan bahwa kehadiran Kaesang akan mengganggu dominasi banteng di Solo Raya, termasuk memengaruhi perolehan suara Puan Maharani.
“Enggak, enggak, kita kan partainya beda,” kata Ganjar di Kantor DPP PDI-P, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).
Ia juga menolak jika langkah Kaesang ini dianggap sebagai sebuah tantangan bagi partainya. “Oh, orang nyalon kok nantang. Kamu juga nyalonin boleh-boleh saja. Semuanya boleh,” tandasnya.
Gerindra Sebut “Amunisi Baru”, Golkar Siap Adu Teknokrasi
Sikap optimistis dan rileks juga ditunjukkan oleh Partai Gerindra. Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menyebut masuknya Kaesang ke gelanggang Jateng V bukan ancaman, melainkan energi positif bagi demokrasi lokal.
“Masuknya Mas Kaesang ke Jateng V bukan ancaman bagi Gerindra, melainkan amunisi baru untuk menyemarakkan demokrasi. Di lapangan kita bertanding gagasan, tapi tujuannya tetap sama: memajukan warga Solo Raya,” ujar Sugiat, Selasa (28/7/2026).
Ia mengklaim akar rumput Gerindra di Solo Raya sudah sangat kuat berkat kerja nyata, sehingga mereka yakin perolehan suara partai justru akan meningkat pada Pemilu 2029.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, menilai peta kompetisi di Jawa Tengah akan tetap ketat dengan atau tanpa adanya figur baru.
“Biasa saja, persaingan akan tetap ketat dengan atau tanpa masuknya orang baru dalam gelanggang,” kata Sarmuji, Senin (27/7/2026).
Ia menegaskan Beringin sudah siap menghadapi iklim kontestasi yang menantang secara nasional. “Semua partai bisa menyajikan harapan tetapi kami membuktikan kemampuan teknokrasi yang bisa diandalkan,” imbuhnya.
PAN Nilai Wajar ke Kampung Halaman, PKB Enggan Ambil Pusing
Respons unik datang dari Ketua Umum PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Ia secara singkat menegaskan bahwa rencana pencalonan Kaesang sama sekali bukan fokus perhatian partainya. “Wah bukan urusan kita itu,” cetus Cak Imin singkat, Minggu (26/7/2026).
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum PAN, Saleh Partaonan Daulay, menilai keputusan Kaesang memilih Dapil Jateng V sebagai langkah yang sangat wajar mengingat ikatan historis keluarganya dengan Solo.
“Kaesang itu orang Solo. Banyak kenal orang di sana. Orangtuanya juga pernah jadi wali kota di situ. Wajarlah kalau nanti mau maju dari dapil itu,” kata Saleh, Senin (27/7/2026).
Walau begitu, ia mengakui tensi politik di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur memang selalu lebih tinggi dibanding daerah lain, sehingga tidak heran jika partai-partai politik sudah mulai menyusun strategi pemetaan dapil sejak dini demi menyambut Pemilu 2029.

Comment