Oleh: Rusli
Alumni Pascasarjana UNIFA
Menyimak situasi politik Indonesia saat ini, tampak ada berbgai fenomena yang menonjol jika dipotret dari perspektif komunikasi politik. Mereka mulai berebut simpati massa lewat pendekatan-pendejkatan persuasive dan semuanya mendadak menjadi baik hati, dan perhatian terharap pilihan rakyat yang menjadi patokan pertma dalam merai suara agar dapat terpilih.
Jelas kondisi ini sangat kontaras dengan hari-hari biasanya. Menjelang Pemilu adalah masa saatnya kampanye dimana setiap calon melakukan pendekatan pada massa untuk menarik dukungan hal ini kita dapat lihat Pertama, praktik demokrasi prosedural yang membuka ruang-ruang ekspresi dan partisipasi politik masyarakat.
Fenomena ini yang dapat melahirkan beragam manuver, rivalitas dalam perumusan regulasi untuk saling mendukung atau menundukkan. Kontestasi politik ini menyuburkan dalam basis komunikasi politik sebagai kebutuhan di hampir seluruh tindakan actor yang sudah diandalkan ekspektasinya dalam berbagai komunikasi.
Kedua, banyak perkembangan baru yang muncul dan menjadi penanda modernisasi di bidang komunikasi politik. Misalnya, penggunaan sosial media dalam menyosialisasikan ide,gagasan, konsep, ataupun dalam eksistensi para aktor politik. Mewabahnya penggunaan Twitter, Facebook dan sejumlah sosial media lainnya oleh para politisi, membuat lingkup komunikasi politik semakin luas.
Bahkan, fenomena protes di cyber pun kian menggejala meski belum nampak matang sebagai gerakan hacktivist yang menentang superioritas rezim kekuasaan dan korporasi dalam dunia politik
Hal ini menarik dalam komunikasi politik di Indonesia adalah fenomena penggunaan media baru yakni internet sebagai media atau saluran komunikasi yang semakin intensif digunakan. Para aktor politik baik politisi (wakil maupun ideolog), figur politik, birokrat, aktivis kelompok kepentingan, kelompok penekan dalam media massa, saat ini semakin adaptif dengan penggunaan internet baik sifatnya statis maupun dinamis.
Terlebih setelah terjadinya yang memperbaharui kelemahan-kelemahan dalam konteks distribusi pesan secara lebih interaktif. Dinamika Komunikasi politik pun banyak dipengaruhi oleh partisipasi para netizen yang tidak hanya berbagi pesan tetapi menjadikan internet sebagai ruang publik baru.
Sebagain besar proses komunikasi politik merupakan mediated politics atau bahkan media-driven politics. Artinya, proses memproduksi dan mereproduksi berbagai sumber daya politik, seperti menggalang dan menghimpun dukungan politik dalam pemilu, merekayasa citra dan sebagainya, dapat dijembatani atau bahkan dikemudikan oleh industri media. Maka keberhasilan politisi di era ini, akan banyak ditentukan oleh kemampuannya membangun jaringan atau akses terhadap media, untuk kemudian mengelola opini, persepsi, merebut simpati, dan sebagainya melalui media. Panggung politik Indonesia terutama yang dibingkai oleh media pun kerap hanya menyajikan hyperealitas politik yang berlebihan.
Jika ditelisik, benang merah pemaparan memosisikan beragam peristiwa politik sebagai hal yang berpola. Banyak kesamaan pola peristiwa meskipun antara satu peristiwa dengan peristiwa lain terjadi dalam waktu berbeda dan memiliki sejumlah aktor yang berbeda pula. Relasi kuasa yang dibangun antar aktor pun kerap berkisar dalam model-model relasi yang hampir sama dengan berbagai isu-isu komunikasi politik di Indonesia ini mendapatkan tempat istimewa.
Kita senantiasa butuh sebuah dokumentasi yang memotret dinamika yang terjadi di masa lalu, sekarang dan prediksi mendatang. Pentingnya membumikan komunikasi politik sebagai bauran pengetahuan, skill dan sikap politik. pentingnya asketisme politik sebagai laku para aktor. Asketisme politik dipahami sebagai upaya menjalankan aktivitas berpolitik berdasarkan prinsip kesederhanaan dan etika serta memproyeksikan tindakannya demi kemaslahatan rakyat banyak.
Caranya, berpolitik tidak dengan mengedepankan kepentingan mengejar kekuasaan melainkan demi kemaslahatan bangsa dan negara. Artinya, asketisme politik diarahkan untuk meningkatkan “kesalehan” berpolitik baik di tingkat pribadi maupun institusional.
Hubungan antara pemilu dengan komunikasi politik begitu erat. Komunikasi ini merupakan suatu interaksi dan share informasi maupun berita pada khalayak sebagai news. Dalam kaitan politik sendiri bermakna berkuasa, menguasai, dan menginfluence rakyat maupun pengikutnya gar ikut ataupun memahami paham mereka. hal ini berarti mempunyai makna menginformasi dan mempengaruhi masa.
Terkadang para politikus bermain politik dengan berbagai dan mempunyai cendenrung menghalalkan segala cara, hal ini bertentangan dengan tata cara dan etika berkampanye.
Proses komunikasi politik sama dengan proses komunikasi pada umumnya (komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia) dengan alur dan komponen:
1. Komunikator/Sender – Pengirim pesan
2. Encoding – Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan
3. Message – Pesan
4. Media – Saluran
5. Decoding – Proses pemecahan/ penerjemahan simbol-simbol
6. Komunikan/Receiver – Penerima pesan
7. Feed Back – Umpan balik, respon.
Komunikasi politik suatu proses penyampaian pesan, proses dimana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik pada bagian lainnya dan diantara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik.
Proses ini berlangsung disemua tingkat masyarakat disetiap tempat yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi diantara individu-individu dengan berbagai kelompok juga. Sebab dalam kehidupan bernegara setiap individu memerlukan informasi terutama mengenai kegiatan masing-masing pihak. Akan tetapi masih banyak masyarakat yang golput dalam melaksanakan pemilihan kepala daerah dan sering juga timbul keluhan-keluhan yang berupa kurangnya pemahaman dari arti dan peranan komunikasi politik dalam pemilukada, hal ini terutama dipengaruhi oleh keragaman sudut pandang atau paradigma terhadap kompleksitas realitas sehari-hari.
Padahal perlu diketahui bahwa pengetahuan terhadap komunikasi politik dalam pemilukada merupakan suatu peranan yang sangat penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan perlu diketahui bahwa komunikasi politik menyangkut prilaku penguasa dan berupa lahirnya partai politik-partai politik baru yang kita hanya menganggap persaingan-persaingan kegiatan berupa pemilu maupun pemilukada merupakan sebuah pesta politik untuk kalangan elit tetapi pemilu maupun pemilukada merupakan kegiatan yang amat penting dalam menegakkan kedaulatan rakyat dan karena melalui pemilu atau pemilukada, seleksi kepemimpinan dan perwakilan dapat dilakukan secara lebih fear. Kebesaran suatu bangsa bergantung pada kemampuan rakyat, masyarakat umum, dan massa untuk menemukan simbol dalam orang pilihan, karena orang pilihanlah yang mampu membimbing massa.
Setiap pemimpin dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi, membentuk komunikasi, membentuk sikap dan prilaku khalayak, masyarakat yang mendukung terhadap aktivitas kepemimpinannya.
Dalam menjalankan kampanye dan orasi kita harus mengetahui dan memahami daerah yang akan disinggahi dalam kampanye, dalam segi (budaya, adat, norma, etika, dll). Politikus juga wajib memahami kebutuhan apa yang sedang di dambakan dan diinginkan masyarakat tersebut, jangan sampai salah kampanye atau orasi.
Di sebuah desa yang berkembang dalam berbagai hal seperti jalan, pendidikan, dan SDM hal yang perlu diperhatikan seperti sarana harus di utamakan. Kampanye juga harus menggunakan media, media yang dimaksud seperti orang kepercayaan (ketua adat/suku) sebagai perantara antara politikus dan warga sekitar serta dapat pula berupa hiburan rakyat yang menarik sehingga warga mau menyaksikan. Prioritas hal tersebut juga tanpa meninggalkan aspk penting dari kampanye dan penyampaian orasi yang memihak warga. Sebaiknya dalam kampanye juga disolusikan dalam pemecahan masalah yang ada di sekitar sebagai pengembangan informasi.
Kesuksesan sebuah kampanye dapat dilihat dari massa atau warga yang datang menyaksikan dan yang akhirnya memilih politikus tersebut sebaggi wakil rakyat mereka. Dengan menggunakan aspek yang benar kapanye sehat dapat dilaksanakan. Karena sudah memenuhi berbagai aspek seperti komunikator- pesan- media- decoding- receiver- feedback.

Comment