Era Revolusi Industri 4.0, Mahasiswa Tidak Cukup Bermodal IPK Tinggi

Ilustrasi

Ilustrasi.

PANRITA.News – Dunia semakin membutuhkan manusia-manusia kreatif, proaktif, dan berintegritas serti memiliki kompetensi soft skill, Apalagi di tengah era evolusi 4.0.

Karena itu, para lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kompetensi tersebut. Bukan menyandarkan masa depan pada Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK.

Bahkan dinyatakan lulusan perguruan tinggi hanya bermodalkan capaian indek prestasi kumulatif (IPK) tinggi itu sudah menjadi masa lalu.

“Tuntutan di era kompetisi sekarang ini justru yang terpenting sekarang disamping IPK tinggi adalah kemampuan berkomunikasi, literasi teknologi informasi, kepemimpinan, dan critical thinking,” ujar Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) Prof Ganferi di Auditorium UNP di Padang, Sumatera Barat, Minggu (23/6/2019), seperti dilansir dari Indopos.

Olehnya itu, UNP terus mendorong para lulusannya untuk dapat memanfaatkan dan melakukan inovasi dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

“Kreativitas dan kontribusi generasi millenial dalam dunia pendidikan dan sosial budaya menjadi hal yang sangat krusial, sebab mereka adalah generasi yang akan mewarisi bangsa ini,” ucapnya.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan “Roadmap Making Indonesia 4.0” sebagai strategi dalam mencapai target menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030. Perkembangan Infrastruktur dan SDM dapat menjadi modal penting melaksanakan revolusi Industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 sebutnya tidak hanya mengubah industri, namun juga pekerjaan, cara berkomunikasi, berbelanja, bertransaksi hingga gaya hidup. Untuk itu semua pihak dan pelaku bisnis untuk dapat memberikan dukungan agar anak bangsa mampu berkembang dan mengikuti perkembangan dunia digital.

Ganefri juga menyampaikan, memasuki era revolusi industri 4.0 mahasiswa tidak cukup hanya bermodalkan IPK tinggi, namun kecerdasan emosional menjadi hal yang tidak kalah penting untuk menyongsong zaman serba cepat dan digital ini.

Era revolusi industri 4.0 akan mengancam 130 juta generasi milenial di Indonesia, dalam kondisi demikian mahasiswa dituntut untuk memiliki kompetensi yang mumpuni.

Leave a Reply