Soal Sidang MK, BPN Sebut Saksi Mereka Gugup Lantaran Merasa Jadi Tersangka

Sejumlah saksi dari pihak pemohon kembali ke ruangang saksi setelah diambil sumpahnya saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6/2019). (Foto: Antara)

Sejumlah saksi dari pihak pemohon kembali ke ruangang saksi setelah diambil sumpahnya saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6/2019). (Foto: Antara)

Jakarta, PANRITA.News – Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN), Prabowo – Sandi, Andre Rosiade menyebut masih banyak bukti-bukti kecurangan Pemilihan Presiden 2019 yang belum diungkap oleh saksi fakta disebabkan oleh kegugupan lantaran merasa sebagai seorang tersangka.

“Tentu ada beberapa hal karena saksi kami terkesan gugup juga karena terkesan mereka sebagai tersangka sehingga muncul kegugupan,” kata Andre di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Kamis (20/6/2019).

Diketahui, 15 orang telah bersaksi dalam sidang gugatan sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi, Rabu (19/6/2019) kemarin.

Alasan lain yang menjadi penyebab ialah sulitnya mendatangkan saksi dari unsur aparat keamanan. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, aparat yang menjadi saksi tersebut tidak mendapatkan izin dari atasannya sehingga urung hadir dalam persidangan.

Selain itu, Andre juga kembali mengungkit soal jumlah 30 saksi yang hendak dihadirkan pihaknya ke dalam ruang sidang. Peraturan MK yang membatasi jumlah saksi fakta hanya 15 orang dinilai Andre membatasi pihaknya untuk menyampaikan bukti-bukti kecurangan secara gamblang.

“Kita butuh saksi banyak untuk buktikan dugaan TSM tidak mungkin saksi sedikit dibatasi lalu kita bisa buktikan,” tandasnya.

Tinggalkan Komentar