Kaleidoskop Demokrasi di Gowa: Partisipasi Pemilih Menanjak di ‘Zona Hijau’

Gowa, PANRITA.News – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Gowa, Muhtar Muis menyinggung soal tingkat kerawanan Pemilu di Kabupaten Gowa yang terus mengalami penurunan. Hal itu menunjukkan nilai positif dalam ukuran penyelenggaraan pemilihan.

Terhitung sejak penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak tahun 2018 lalu, status Kabupaten Gowa sudah dikategorikan oleh sejumlah pihak berada di ‘zona hijau’, yang sebelumnya selalu di posisikan dalam kategori Rawan atau ‘zona merah’.

“Kita bersyukur di Kabupaten Gowa, yang sebelum-sebelumnya selalu disebut berada di ‘zona merah’, pada Pilgub 2018 lalu itu semua terbantahkan dengan penyelenggaraan yang aman, damai dan sangat demokratis” ungkap Muhtar Muis dalam Dialog Akhir Tahun KPU Gowa di Aula Kantor KPU Gowa, Senin (31/12/2018).

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Gowa, Muchlis mengatakan bahwa status ‘zona hijau’ yang diraih Gowa tidak terlepas dari peran dan kerjasama seluruh instansi terkait dan masyarakat di Gowa secara umum.

“Dengan ini kita naik peringkat, yang awalnya disebut-sebut sebagai zona merah, dan berdasarkan penyelenggaraan Pilkada 2018 lalu kita buktikan, Kabupaten Gowa sudah berada di zona hijau” pungkasnya.

Muchlis menambahkan, bahwa masuknya Gowa di ‘zona hijau’ membuktikan bahwa Gowa sejak dulu menjaga marwah demokrasi.

“Sebab dari sejak masa kerajaan, Gowa sudah menunjukkan proses demokrasi yang baik. Proses pemilihan raja yang demokratis, pemeriksaan aset kerajaan tiap tahunnya, beserta proses demokrasi yang sehat lainnya” jelasnya.

Berdasarkan data resmi Bawaslu RI melalui Indeks Kerawanan Pemilihan Umum (IKP) Tahun 2019 yang dilansir September 2018, untuk tingkat provinsi, Sulawesi Selatan bersama 15 provinsi lainnya masih berada di posisi ‘Zona Merah’ atau berada di atas rata-rata nasional.

Di luar temuan Bawaslu RI itu, Ketua KPU Sulsel Misna M Attas pada kesempatan berbeda menegaskan bahwa Sulsel telah berhasil keluar dari zona rawan Pemilu.

“Sulsel telah berhasil keluar dari sebuah kekhawatiran, dari sebuah momok yang namanya zona merah. Agar kondisi ini dipertahankan untuk 2019 mendatang, kita berharap peserta pemilu ini, elit-elit politik, pemimpin parpol untuk bisa berikan teladan dan tidak melupakan bahwa mereka punya tanggung jawab moril untuk memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat,” kata Misna M Attas saat kegiatan deklarasi kampanye damai Pemilu 2019 di anjungan Pantai Losari, Makassar, Minggu (23/9/2018) lalu.

Sementara itu, temuan lapangan IKP 2019 seluruh kabupaten/kota skor IKP untuk semua
dimensi berada dikategori Sedang (Konteks Sosial Politik 44,89, Penyelenggaraan Pemilu yang Bebas dan Adil 53,80, Kontestasi 50,65, dan Partisipasi 46,18.

Skor IKP Tertinggi 10 Kabupaten/Kota di Indonesia

Hanya ada 2 (dua) kabupaten berkategori kerawanan Tinggi yaitu Kabupaten Lombok Timur (skor 70,02) dan Kabupaten Teluk Bintuni (66,47). Sedangkan 512 Kabupaten/Kota lainnya termasuk Kabupaten Gowa berkategori Sedang, dan tidak ada satu pun kabupaten/kota yang berkategori Rendah.

Partisipasi Pemilih di Gowa

Sekkab Gowa, Muchlis menegaskan bahwa salah satu indikator keberhasilan Pemilu adalah tingginya tingkat partisipasi pemilih.

“Kita di Gowa pada Pilkada 2018 lalu belum mencapai target 80 persen. Sehingga saya menyarankan pihak-pihak parpol, mumpung lagi Pemilu, mungkin bisa memperlebar sayapnya hingga ke tingkat grass root. Atau bahkan tidur sama pemilih kalau perlu” ungkap Muchlis disambut tawa peserta Dialog Akhir Tahun KPU Gowa, Senin (31/12/2018).

Untuk diketahui, pada Pilkada Serentak 27 Juni 2018 lalu, Pemda Gowa menargetkan partisipasi pemilih sebesar 80 persen, namun pemilih yang hadir memberikan suara di TPS hanya 75, 85 persen.

Data 75,85 persen pengguna hak pilih itu terhitung dari 386.004 orang dengan rincian laki-laki 181.145 orang dan perempuan 205.914 orang. Sementara jumlah DPT mencapai 508.889 orang.

Meski begitu, partisipasi itu terbilang naik 10 persen jika dibandingkan dengan partisipasi pemilih pada Pemilihan Bupati Gowa 2015 yang hanya 60 persen.

 “Yah upaya itu tidak sia-sia. Buktinya data yang dirilis KPU Sulsel menyebutkan jika angka partisipasi pemilih mencapai 70 persen. Raihan ini lebih tinggi dibanding partisipasi pemilih pada pemilihan Bupati Gowa tahun 2015 yang hanya sekitar 60 persen saja,” jelas Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan YL, Senin (02/07/2018).

Untuk mendongkrak partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 itu, Muchlis mengaku menunggu petunjuk dari KPU Gowa untuk menggunakan seluruh sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Pemda Gowa.

“Kami dari Pemda Gowa siap mensosialisasikan Pemilu ini. Berikan kami konsep dan konten yang bisa kami aplikasikan di tengah masyarakat. Kami punya, dai-dai yang rutin ceramah di gerakan jumat ibadah” jelas Muchlis.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Kabupaten Gowa, Samsuar Saleh menyatakan bahwa standard penilaian dari keberhasilan sebuah Pemilu tidak hanya dilihat dari tingkat partisipasi pemilih semata.

“Keberhasilan Pemilu ini selain diukur dari partisipasi pemilih, juga dari kualitas penyelenggaraan. Kualitas itu, salah satunya diukur dari netralitas penyelenggara, aparat keamanan dan ASN. Selain itu, tidak adanya praktek yang kita kenal dengan istilah politik uang” tegasnya.

Data di atas merupakan catatan Dialog Akhir Tahun dan peresmian Rumah Pintar yang dilaksanakan oleh KPU Kabupaten Gowa, serta rangkuman dari berbagai sumber.

Salah satu pengurus Parpol berbicara saat Dialog Akhir Tahun KPU Gowa, Senin (31/12/2018)

Dialog Akhir Tahun yang dilaksanakan KPU Gowa, Senin (31/12/2018) itu, dihadiri Sekkab Muchlis, Polres diwakili Wakapolres Kompol Muh Fajri, Kodim 1409 diwakili Kasdim Mayor Inf Husain, Ketua Bawaslu Samsuar Saleh dan anggota, Ketua KPU Gowa Muhtar Muis dan anggota.

Selain itu, turut hadir pula perwakilan dari seluruh partai peserta Pemilu 2019 di Kabupaten Gowa, serta jajaran penyelenggara Pemilu di tingkat Kecamatan.

Leave a Reply