Memburu Dosen Cabul di UIN Bandung

Bandung, PANRITA.News – Dugaan skandal pelecehan seksual yang melibatkan dosen di lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung perlahan terkuak.

Berawal dari pegakuan sejumlah korban mengenai pelecehan seksual dialami. Pelaku diduga salah seorang oknum dosen berinisial T. Peristiwa itu terjadi sepanjang tahun 2016 hingga 2018.

Adapun pelecehan seksual yang dilakukan oknum dosen di Fakultas Dakwah itu bermoduskan bimbingan skripsi. Korbannya mendapatkan perlakuan tidak mengenakan baik secara verbal maupun fisik.

Seperti yang dialami salah seorang yang kini sudah berstatus alumni UIN berinisial BB. Dia mendapat perlakuan tidak menyenangkan baik secara verbal maupun kontak fisik. Peristiwa itu terjadi sepanjang tahun 2016 – 2017.

BB pernah diajak bertemu di luar kampus dengan alasan membahas skripsi. Namun, bukannya bimbingan skripsi, BB malah hanya diajak makan, nonton bahkan menginap di hotel. Namun, upaya T mengajak BB nonton dan menginap di hotel gagal.

“Selama perjalanan malam itu ketemu, dia (dosen) 10 kali mencoba memegang tubuh saya,” ungkap dia.

Aksi tak pantas T tidak hanya berlangsung ketika BB masih berstatus mahasisiwi. Pada tahun 2017 saat BB sudah lulus, T masih mencoba menghubungi dengan berbagai modus. Bahkan mengirimkan foto tidak senonoh.

“Dia sempat kirim foto lagi di mobil. Yaudah saya kirim foto selfi. Lalu dia nanya mana foto yang bawahnya, saya bingung. Terus iseng aja temen yang balesin chatnya dia, nyuruh dia kirim foto duluan. Saya kaget dia ngirim foto vulgar,” ujar BB.

Korban lainnya seorang alumni benisial SS juga merasakan perlakuan tak biasa dari T yang tak lain dosen pembimbing skripsinya. T sering sekali menghubungi menanyakan hal-hal di luar skripsi dan mengjaknya jalan-jalan.

Namun, permintaan T tidak pernah digubris. Selama bimbingan skripsi, T juga lebih banyak mengajak SS membahas hal-hal yang bersifat pribadi. Hal itu membuanya bertanya-tanya mengenai sikap sang dosen.

“Kadang malam chating nanya udah tidur atau belum, gak aku gubris. Sering banget chating ngajak jalan-jalan, cuma gak aku respon juga,” ungkap alumni KPI ini.

Singkat cerita, SS juga mengalami pelecehan ketika tangannya tiba-tiba dicium oleh T. Padahal saat itu, SS berniat untuk hormat dengan menyalami dosen pembimbingnya tersebut.

“Jadi pas salam tangan aku dia tarik, dia cium tangan aku pake bibirnya,” tutur mahasiswi yang lulus tahun 2018 ini.

Merespon kasus tersebut, Rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah membentuk tim khusus untuk menelusuri pelecehan seksual yang dilakukan salah seorang oknum dosennya. Hasil penelusuran jadi dasar tindakan selanjutnya.

Tim Pemeriksa Dugaan Pelanggaran Kode Etik Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini dipimpin Ahmad Sarbini. Rektor menyerahkan sepenuhnya kepada tim tersebut untuk mencari fakta-fakta di lapangan.

“Kami dalam tim berjumlah 9 orang mencari fakta-fakta terkait kasus ini di lapangan,” kata Ahmad Sarbini, Selasa (20/11/2018).

Pria yang juga Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi itu mengatakan nantinya hasil investigasi diserahkan kepada Rektor. Kemudian diputuskan sanksi oleh Komisi Etik Senat UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Nantinya komisi etik yang menentukan adanya pelanggaran atau tidak. Termasuk sanksi yang akan diberikan kalau terbukti salah,” tutur dia.

Tinggalkan Komentar