Jakarta, PANRITA.News – Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2025 menunjukkan tren perlambatan. Berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia, total ULN Indonesia mencapai US $435,6 miliar, naik 6,8 persen dibanding tahun lalu (yoy). Angka ini menurun dibandingkan pertumbuhan pada April yang tercatat 8,2 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perlambatan ini dipengaruhi oleh dua hal utama: melemahnya laju pertumbuhan utang pemerintah dan makin dalamnya kontraksi utang di sektor swasta.
“Utang luar negeri pemerintah tumbuh lebih lambat karena ada sejumlah Surat Berharga Negara (SBN) internasional yang jatuh tempo,” ujar Ramdan, dikutip Selasa (15/7).
Meski begitu, kepercayaan investor asing masih kuat, tercermin dari aliran dana asing yang terus masuk ke pasar SBN domestik.
Per Mei 2025, ULN pemerintah tercatat sebesar US $209,6 miliar, tumbuh 9,8 persen (yoy), sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 10,4 persen di bulan sebelumnya.
Pemerintah menggunakan utang ini untuk membiayai program prioritas dalam APBN yang mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, khususnya di sektor kesehatan, pendidikan, pertahanan, hingga transportasi.
“Sebagian besar utang pemerintah merupakan utang jangka panjang, mencapai 99,9 persen dari total ULN pemerintah, sehingga risikonya tetap terjaga,” tegas Ramdan.
Di sisi lain, sektor swasta masih mencatatkan kontraksi. Total ULN swasta turun 0,9 persen (yoy) menjadi US $196,4 miliar, setelah sebelumnya turun 0,4 persen. Penurunan ini bersumber dari dua kelompok: lembaga keuangan yang pertumbuhannya melambat dari 2,8 persen menjadi 1,2 persen, dan perusahaan non-keuangan yang kontraksinya dalam dari 1,2 persen menjadi 1,4 persen (yoy).
Sektor industri pengolahan, jasa keuangan, listrik dan gas, serta pertambangan masih menjadi kontributor utama ULN swasta, menyumbang 80,2 persen dari total.
Meskipun mengalami penurunan, mayoritas ULN swasta tetap dalam bentuk jangka panjang, sebesar 76,5 persen.
Secara keseluruhan, struktur utang luar negeri Indonesia dinilai sehat dan terkelola dengan baik. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tetap stabil di 30,6 persen, dengan porsi besar utang jangka panjang sebesar 84,6 persen dari total ULN nasional.
“Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat sinergi dalam memantau ULN, agar tetap menjadi sumber pembiayaan yang aman dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” pungkas Ramdan.

Comment