Pengusaha Gowa: Beautiful Malino Bukan Sekadar Festival, Tapi Magnet Ekonomi Baru

Pengusaha Gowa: Beautiful Malino Bukan Sekadar Festival, Tapi Magnet Ekonomi Baru

Pengusaha asal Gowa H. Rohandi (kanan) sedang berbincang dengan Bupati Gowa Husniah Talenrang (kiri) dan Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin (tengah) di salah satu tempat wisata kuliner di Malino, Kabupaten Gowa. © Dok.ist

Gowa, PANRITA.News – Pengusaha asal Kabupaten Gowa, H. Rohandi, menyebut gelaran Beautiful Malino 2025 sebagai salah satu event paling spektakuler yang mampu menyulap kawasan wisata pegunungan itu menjadi pusat denyut ekonomi masyarakat.

“Bukan hanya seru dan meriah, acara ini sudah jadi magnet ekonomi. UMKM bergairah, homestay penuh, petani bunga kebanjiran pesanan, bahkan transportasi lokal ikut hidup,” ujarnya H. Rohandi.

Sebagai pelaku usaha properti di Gowa, H. Rohandi merasakan betul geliat ekonomi yang meningkat drastis di Malino dan sekitarnya selama festival berlangsung. Ia berharap, ke depan, dampaknya bisa lebih meluas hingga menjangkau desa-desa sekitar.

“Kami ingin desa-desa seperti Bonto Lerung, Pattapang, dan Kanreapia juga dilibatkan secara aktif. Supaya manfaat ekonominya merata, bukan hanya terpusat di satu titik,” harapnya.

H. Rohandi Apresiasi Pemerintah Gowa

Tahun ini, Beautiful Malino kembali memikat ribuan pasang mata. Ratusan ribu pengunjung dari berbagai daerah datang memadati Malino, Kecamatan Tinggimoncong, menikmati keindahan panorama pegunungan yang berpadu harmonis dengan suguhan seni budaya lokal yang memukau.

H. Rohandi pun mengacungi jempol untuk pemerintah daerah Kabupaten Gowa dan seluruh elemen yang terlibat dalam kesuksesan acara tersebut. Baginya, Beautiful Malino bukan sekadar hiburan, tapi punya efek domino yang luar biasa bagi ekonomi masyarakat.

Lebih dari itu, ia mendorong agar cakupan acara diperluas hingga ke wilayah administratif Desa Malino dan sekitarnya. Ia juga menekankan pentingnya menjadikan festival ini sebagai pintu gerbang pengembangan ekowisata berbasis desa.

“Kita punya banyak potensi tersembunyi, air terjun yang eksotis, kebun hortikultura, wisata edukasi pertanian. Kalau dikelola serius dan bersama, Gowa bisa jadi destinasi nasional, bahkan internasional, tanpa kehilangan identitas lokalnya,” tuturnya.

Ekowisata dan Kesadaran Lingkungan

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, H. Rohandi melihat Beautiful Malino sebagai ajang yang pas untuk membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan. Ia menegaskan, pariwisata masa depan Gowa harus mengarah pada konsep berkelanjutan.

“Hutan pinus, sungai, dan sumber air adalah aset yang harus kita jaga. Bukan hanya demi wisatawan hari ini, tapi untuk anak-cucu kita nanti,” ucapnya.

Meski berjalan sukses, Rohandi tak menutup mata terhadap sejumlah hal yang perlu dibenahi. Masalah sampah, pengaturan lalu lintas, dan distribusi titik-titik pertunjukan serta lokasi UMKM dinilainya perlu dievaluasi agar lebih tertata.

“Pemerintah daerah pasti terus berinovasi. Harapan saya, Beautiful Malino ke depan bisa menjelma menjadi festival rakyat lintas desa, merangkul seluruh potensi wisata yang dimiliki Gowa,” pungkasnya.

Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, Beautiful Malino tak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan momentum strategis untuk mengangkat citra Gowa sebagai destinasi wisata unggulan yang berakar pada budaya dan cinta lingkungan.

Comment