Nurdin Abdullah Diduga Berikan Perintah Khusus untuk Menangkan Kontraktor

Nurdin Abdullah (rompi orange) usai Konferensi Pers yang digelar KPK di Gedung Merah Putih, Jakarta, Minggu (28/02/2021) dini hari

Nurdin Abdullah (rompi orange) usai Konferensi Pers yang digelar KPK di Gedung Merah Putih, Jakarta, Minggu (28/02/2021) dini hari

Jakarta, PANRITA.News – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan suap dan gratifikasi sejumlah proyek infrastruktur di Sulawesi Selatan yang menjerat Gubernur Nurdin Abdullah.

KPK telah memeriksa lima Apratur Sipil Negara (ASN) Pemprov Sulsel dan menelusuri soal dugaan adanya perintah khusus oleh Nurdin melalui untuk memenangkan kontraktor tertentu dalam lelang proyek.

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengatakan, penyidik mendalami soal proses lelang proyek jalan ruas Palampang-Munte-Botolempangan.

“Melalui pengetahuan para saksi tersebut, Tim Penyidik KPK terus mendalami antara lain terkait dengan lelang pekerjaan proyek jalan ruas Palampang- Munte-Botolempangan yang diduga ada perintah khusus oleh tersangka NA (Nurdin Abdullah) melalui Tersangka Edy Rahmat agar memenangkan kontraktor tertentu,” kata Ali dalam keterangannya, Minggu (14/3/2021).

Adapun lima PNS yang menjadi saksi itu adalah Samsuriadi, Herman Parudani, Andi Salmiati, Munandar Naim, dan Abdul Muin. Mereka diperiksa di Polda Sulsel pada Sabtu (13/4) lalu.

KPK menetapkan Gubernur nonaktif Sulsel Nurdin Abdullah dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa, perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2020-2021.

Nurdin ditetapkan sebagai penerima suap bersama Sekretaris Dinas PUPR Provinsi Sulawesi Selatan Edy Rahmat. Sementara yang dijerat sebagai pemberi adalah Direktur PT Agung Perdana Bulukumba (APB) Agung Sucipto.

Ketua KPK Komjen Firli Bahuri mengatakan, Nurdin diduga menerima suap sebesar Rp 2 miliar dari Agung.

Tak hanya suap, Nurdin juga diduga menerima gratifikasi dengan total sebesar Rp 3,4 miliar. Gratifikasi tersebut diterima Nurdin dari beberapa kontraktor.

Tinggalkan Komentar