Alat Rapid Tes Bermasalah, Ratusan Orang Positif Tapi Saat Tes Swab Hasilnya Negatif

Ilustrasi tes covid-19.

Denpasar, PANRITA.News – Sebanyak 443 orang yang sebelumnya dinyatakan reaktif (Positif) berdasarkan hasil rapid tes, namun kemudian kembali dinyatakan negatif Covid-19.

Hal itu setelah dilakukan rapid test ulang dan pengujian sampel SWAB untuk diuji tes PCR.

Kejadian tersebut terjadi di Banjar Serokadan, Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali.

Pemerintah Provinsi Bali pun menghentikan penggunaan alat rapid test virus corona yang diketahui alatnya bermerek VivaDiag.

Pemprov menyebut, ada indikasi produk asal Tiongkok tersebut tidak akurat.

“Sementara ini rapid test tersebut kami tarik dan diganti dengan yang lain,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu salah satu banjar di Bali diisolasi lantaran sekitar 443 dari 1.210 warganya dinyatakan positif oleh perangkat rapid test VivaDiag.

Namun, ketika diuji ulang menggunakan PCR, sebagian besar dari mereka ternyata negatif.

Menurut Suarjaya, Pemprov Bali membeli 4 ribu unit alat rapid test yang dijual oleh PT Kirana Jaya Lestari tersebut. Namun, kini pihaknya masih menunggu arahan dari Kemenkes mengenai penggunaan lebih lanjut VivaDiag.

“Kemenkes nantinya yang akan membahas ini dengan sampel dari rapid test yang kita beli itu, kenapa ada perbedaan. Nanti Kemenkes yang akan membahasnya apakah itu akurat atau tidak,” ujar Suarjaya.

Yang pasti, lanjut Suarjaya, pembelian VivaDiag dilakukan karena merek itu tercantum di laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional sebagai salah satu alat yang direkomendasikan.

Dalam daftar rekomendasi rapid diagnostic test (RDT) antibodi Covid-19 per 21 April 2020, merek VivaDiag berada pada urutan ke-13. Alat tes tersebut diproduksi oleh VivaChek Biotech (Hangzhou) Co., Ltd dan diimpor oleh PT Kirana Jaya Lestari.

Tinggalkan Komentar