Di Balik Kontroversinya, Film Joker Cetak Rekor di Berbagai Negara

Adegan dalam Film Joker 2019. (Foto: Tribunnews)

Adegan dalam Film Joker 2019. (Foto: Tribunnews)

Makassar, PANRITA.News – Film Joker 2019 yang diperankan oleh Joaquin Phoenix menuai pro dan kontra. Banyak yang memuji namun banyak juga yang mengkritik karena dinilai terlalu menampilkan aksi kejahatan massal.

Joker disutradarai oleh Todd Phillips yang menceritakan kisah Arthur (Joaquin Phoenix), seorang komedian gagal yang menjadi penjahat psikopat.

Meski film ini diselimuti kontroversi atas kekerasan yang digambarkan dalam film tersebut. ‘Joker’ berhasil meraih rekor di berbagai negara.

Di pasar domestik Amerika Utara dengan memperoleh US$93,5 juta atau setara dengan Rp 1,3 triliun pada akhir pekan debutnya.

Atas capaian dari 4.375 lokasi tersebut, Variety menyebut Joker berhasil mencetak rekor baru, yaitu penayangan debut terbesar di Oktober sepanjang masa.

Perolehan Joker ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Venom dengan US$80 juta.

Di pasar internasional, Joker juga mendominasi. Film ini memperoleh US$141 juta dari 22.552 layar di 73 negara. Dengan pendapatan ini, Joker secara global mendulang US$234 juta.

Bukan hanya di pasar domestik, Joker juga mencetak sejumlah rekor di pasar internasional.

Film ini menjadi film Warner Bros dengan angka pembukaan terbesar pada 2019 di 39 negara, seperti Inggris Raya, Rusia, Italia, Spanyol, Uni Emirat Arab, Jepang, Korea Selatan, Indonesia, Brasil, Meksiko, dan Australia.

Berdasarkan data Box Office Report, pada akhir pekan debut, Joker berhasil mendulang US$9,2 juta di Korea Selatan.

Joker kemudian berjaya di Inggris Raya dengan US$4,7 juta, lalu Meksiko dengan US$4,2 juta, Rusia dengan US$3,9 juta, Australia dengan US$3,1 juta, lalu Brasil dengan US$2,9 juta.

Sementara itu di Indonesia, Joker memperoleh US$2,7 juta atau setara dengan Rp38,2 miliar per 5 Oktober. Angka itu melonjak drastis dari hari pembukaan pertama di Indonesia yang mencetak Rp11 miliar.

“Bukan hanya Joker tampil mengesankan di Amerika Utara, namun juga secara internasional. Gaung dan kontroversi yang mengelilingi film ini bergema kuat dengan penonton yang kemudian menempatkan film ini sebagai prioritas utama,” kata Paul Dergarabedian, analis media senior dengan Comscore, dikutip dari Variety.

Leave a Reply