Komnas HAM Pertanyakan Adanya Peluru Tajam dalam Aksi 22 Mei

Jakarta, PANRITA.News РKomnas HAM menyatakan akan mendalami penyebab korban tewas dalam kerusuhan aksi 22 Mei 2019. Selain itu, Komnas HAM juga meminta Polri mengusut adanya dugaan penggunaan peluru tajam dalam aksi tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik kepada wartawan di RSCM, Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2019).

“Tentu (didalami). Tapi kan Pak Kapolri sudah menyatakan bahwa mencurigai ada kelompok tertentu yang menggunakan peluru tajam. Nah, kita sekarang meminta pengusutan itu, dilakukan sesegera mungkin, sehingga dapat dilakukan siapa sebetulnya pelakunya? Ini peluru dari mana?” katanya.

“Kalau yang lain yang ditemukan kemarin itu kan peluru karet dalam rangka petugas PHH, itu pasukan anti huru-hara itu katakanlah melumpuhkan kelompok-kelompok yang dianggap melakukan kerusuhan,” tambahnya.

Taufan mendesak Kapolri Jenderal Tito Karnavian segera meluruskan isu tersebut, karena kerusuhan pada 22 Mei itu menimbulkan korban jiwa.

Sejauh ini, kata dia, Komnas HAM belum mendapatkan laporan terkait dugaan penggunaan peluru tajam dan masih mempercayai keterangan pihak kepolisian bahwa senjata maksimum yang bisa digunakan aparat keamanan sesuai SOP adalah peluru karet.

“Nah, ini yang kita minta Pak Kapolri untuk betul-betul menindaklanjuti. Sementara ini, Kapolri mengatakan akan mengusut. Maka kita akan percaya Kapolri, kita akan mendukung Kapolri sepenuhnya proses pengungkapan dan penegakan hukum,” ujar Taufan.

Menurut Taufan, berdasarkan keterangan Tito, peluru tajam itu digunakan pihak ketiga. Ia mendukung Polri mengusut tuntas hingga identitas pelaku terkuak.

“Oh iya, pasti. Kan sekarang ada informasi dari pihak petugas keamanan bahwa ini ada pihak ketiga, memprovokasi, memobilisasi, gitu. Ya kita menginginkan pengungkapan fakta atas apa yang dituduhkan itu, sehingga terang,” ucapnya.

Taufan pun menyatakan pihaknya belum menemukan kesimpulan ada dugaan pelanggaran HAM dalam aksi 22 Mei. Jika terbukti yang menggunakan peluru tajam adalah pihak ketiga, menurut Taufan, itu termasuk tindakan kriminal.

“Kalau itu dari kelompok yang kriminal, ya itu kan tindak kriminal berarti kan. Ya kalau dari polisi kan gitu. Tapi kan sementara ini polisi berkeyakinan dan punya bukti-bukti awal bahwa ada pihak ketiga yang menumpangi dan membuat kerusuhan dan kemudian ada peluru tajam itu,” tutur Taufan.

Sementara itu, Taufan menyatakan Komnas HAM akan melakukan pengawasan terhadap tim khusus bentukan Kapolri yang mengusut aksi 22 Mei. Ia mempercayakan pengusutan itu kepada pihak kepolisian.

“Sekarang kan mereka sudah bentuk tim itu. Itu tim yang dibuat Kapolri itu kan melibatkan intelijen, segala macam. Kita percayakan aja. Dan kita mengawasi jalannya tim itu. Koordinasi kita juga dengan mereka selalu,” pungkasnya.

Leave a Reply