Festival Literasi UIN Alauddin Makassar; Anugerah untuk Kekuatan

Penulis: Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar, Pernah menjadi Presiden Mahasiswa Periode 2018 dan terpilih kembali menjadi Duta Literasi UIN Alauddin Makassar Tahun 2019.

Cikal bakal peradaban tidak terlepas daripada kehadiran transformasi ilmu pengetahuan di dalamnya dan ilmu pengetahuan akan mengalami degradasi dan stagnasi tanpa adanya kemampuan melek aksara (membaca dan menulis) atau kita kenal dengan sapaan akrab “Literasi”. Peradaban dan literasi ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Layaknya ketika Pramoedya Ananta Toer dalam beberapa karyanya mengisyaratkan bahwa “Sastra dan perjuangan ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Sastra tidak bisa dilepaskan dari masyarakat karena sastra merupakan bagian dari masyarakat yang harus mengekspresikan dan membayangkan penderitaan rakyat dalam melawan segala bentuk penindasan”. Begitupula peradaban dan literasi, peradaban akan betul-betul menjadi khazanah pengembangan ilmu pengetahuan jika ditopang dengan kemampuan melek literasi.

Kampus Peradaban, UIN Alauddin Makassar, yang merupakan sebuah wadah yang bisa dikategorikan sebagai laboratorium sosial bagi manusia yang bernaung di bawahnya untuk berekspresi guna pengolahan potensi membentuk wawasan dan kecerdasan intelektual demi proses perbaikan terhadap bangsa dan negara ke arah kemajuan telah menyelenggarakan sebuah kegiatan yang bernilai, kegiatan yang bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawabannya terhadap tag line atau jargonnya sebagai “Kampus Peradaban” yakni Festival dan Anugerah Literasi 2019. Salah satu item kegiatan dalam festival tersebut adalah Pemilihan Duta Literasi UIN Alauddin Makassar dengan kategori mahasiswa dan mahasiswi. Dengan penuh kesyukuran, saya dinobatkan atau diberikan kepercayaan untuk menjadi Duta Literasi UIN Alauddin Makassar 2019 kategori mahasiswa. Di awal saya mengatakan bahwa kegiatan ini adalah “kegiatan yang bernilai”, saya katakan demikian bukan karena saya dalam posisi terpilih sebagai Duta Literasi dalam kegiatan tersebut melainkan kegiatan tersebut memang kegiatan yang produktif dan bernilai. Bagi saya, membaca dan menulis bukanlah untuk sesuatu (dalam hal ini, mengharapkan penghargaan) tapi membaca dan menulis atas sesuatu (menempatkan realitas di atas kertas). Saya membaca dan menulis untuk diri saya dan orang lain. Menulis adalah sebuah seni dan sastra untuk perjuangan melawan kesewenang-wenangan. Jika telinga penguasa tidak mampu lagi mendengar gelombang teriakan protes dengan jelas, mereka masih memiliki mata untuk melihat nyanyian-nyanyian protes dalam deretan aksara yang membentuk kata untuk kalimat yang bertitik tulisan.

Penobatan atau penghargaan sebagai Duta Literasi UIN Alauddin Makassar 2019, dengan penuh kebahagiaan, saya persembahkan untuk kedua orang tuaku dan junior-juniorku khususnya di Fakultas Adab dan Humaniora atau fakultas yang sering kami sebut sebagai Fakultas Adab-beradik (nama Adab-beradik pertama kali dicetuskan oleh salah satu kakak atau senior kami di Fakultas yakni Zulkifli (Bang Jul) yang memberi judul Adab-beradik di salah satu cerpen dalam buku Antologi Cerpennya yang berjudul “Resolusi yang Usang”). Kepada kedua orang tuaku, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya karena Telepon Selular atau Handphone yang kalian belikan sering saya ganti ke versi yang lebih rendah dikarenakan untuk membeli buku yang saya butuhkan. Itu bukan karena saya tidak menghargai pemberian kalian tapi karena saya tidak ingin menambah beban untuk uang pembeli buku, bagiku perjuangan kalian untuk membiayai uang kuliah dan hidupku di Makassar dan perjuangan-perjuangan lainnya yang harus membuat kalian banting tulang di bawah terik matahari, di tengah sawah setiap harinya untuk kehidupan anak-anak kalian merupakan perjuangan abadi yang selalu ku bingkai dalam syair-syair harap untuk kebahagiaan dan keselamatan kalian yang ku panjatkan kepada-Nya, Sang Pemilik Segala-Nya. Dan kepada adik-adik atau junior-juniorku khususnya di Fakultas Adab dan Humaniora, penganugerahan ini bukan hanya untuk saya namun terlebih untuk kalian semua sebagai kekuatan atau spirit untuk tetap menyelami kedalaman ilmu pengetahuan sehingga mampu menjadi insan pencipta yang penuh tanggungjawab yang berguna dan bernilai dalam kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.

Rasa terima kasih juga kepada para penyelenggara festival tersebut karena berkat kehadiran kegiatan ini buah pikir dan tangan para peserta didik yang bernaung di bawah Kampus Peradaban mampu muncul di permukaan dan bernafas bebas. Semoga kemunculannya di permukaan mampu mencipta arus kesegaran bagi habitus untuk kelangsungan hidup ranah atau arena sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan.

Selamat berjumpa di Festival dan Anugerah Literasi UIN Alauddin Makassar 2020! Ini hanyalah pemantik, selanjutnya adalah percikan sampai kobaran literasi membumi-hanguskan ketidaktahuan dan ketidakbenaran pada wajah Bumi Pertiwi yang anggun.

Leave a Reply