Perludem Menunggu Gagasan Besar Disampaikan Jokowi-Prabowo di Debat Kedua

Jakarta, PANRITA.News – Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) meminta kedua calon presiden (capres) Joko Widodo dan Prabowo Subianto tidak berbicara isu normatif pada debat capres kedua.

Hal itu diaampaikan Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini dalam diskusi yang bertajuk ‘prioritas sektor energi dan tata kelola SDA dalam visi capres-cawapres’ di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019). Pada kesempatan itu, Titi berharap kedua capres bisa berfokus pada pendalaman materi debat.

Titi mengatakan tantangan calon yang paling besar di debat kedua adalah menjaga konsistensi agar fokus di visi-misi. Selain itu, tidak berbicara pada hal normatif atau sekedar bicara isu permukaan juga menjadi tantangan bagi kandidat.

“Saya kira jangan terjebak kepada hanya ingin dapat dukungan, akhirnya biara normatif dan main aman, jangan lagi main narasi sekedar merayu pemilih tetapi kosong secara substansi,” Titi.

Dari hasil pemahamannya setelah membaca visi-misi kedua capres, Titi menilai masing-masing mencoba menekan isu berbeda. Jokowi-Ma’ruf disebut berfokus pada energi dan infrastruktur, sedangkan Prabowo-Sandi berfokus pada satu isu, yaitu pangan.

Sebab itu, dia meminta para capres saat debat nanti jangan hanya berfokus pada isu yang ingin ditekankan di visi-misinya saja. Tetapi harus juga menekankan isu lain juga seperti sumber daya alam dan lingkungan hidup.

“Nah, jangan sampai tema debat karena ada 5, karena isunya itu dikenakan di pangan jadi semuanya pangan, apa pun isu semuanya pangan. Jadi pasangan calon selain format debatnya sudah diperbaiki, para calon juga harus jaga performanya untuk konsisten dalami lima tema fokus pada visi-misi program,” ucapnya.

Terakhir, dia berharap agar dalam debat kedua nanti para capres bisa menuangkan konsep dan gagasan besar mengenai tema debat yang meliputi pangan, sumber daya alam (SDA), infrastruktur, pangan, dan lingkungan hidup.

“Kita nggak mungkin harap capres paham hal-hal teknis seperti kami, tapi konsep dan gagasan besar itu mereka harus bisa, karena mereka yang mendelegasi tata kelola energi pangan dan infrastruktur ke depan. Jadi konsep itu yang ingin didengar dan kalau bicara operasional lapangan itu yang dikuasai,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar