Karya Sastra Menginspirasi Perilaku dan Pola Pikir Manusia

Jakarta, PANRITA.News – Karya sastra dinilai dapat menginspirasi perilaku dan pola pikir manusia. Sastra juga bisa menjadi formula tepat dalam meredam budaya kekerasan di masyarakat.

Demikian menurut pakar sastra Profesor Doktor Nani Solihati.

“Tidak ada satu pun karya sastra yang tanpa makna. Karya sastra selalu dibuat untuk memberi pesan dan merupakan formula tepat dalam pembentukan karakter bangsa,” kata guru besar bidang Ilmu Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) di Jakarta, Sabtu (15/12), seperti dilansir Republika.

Menurut dia, perlu ada reposisi sastra dalam pembentukan karakter, seperti yang diinginkan, yaitu menggencarkan karya sastra yang memberi manfaat, bukan sekadar memberi pengalaman yang menghibur kepada penikmatnya.

“Karya sastra diharapkan bisa mengubah perilaku masyarakat yang negatif, seperti suka kekerasan, beringas, mudah marah, menjadi cinta damai, pemaaf, santun, penyabar, dan perilaku baik lainnya,” katanya menyikapi banyaknya peristiwa kekerasan di tengah masyarakat.

Karya sastra, menurut dia, jangan hanya bergerak di ranah kognitif atau aspek pengetahuan belaka, namun harus mampu dibawa ke arah psikomotorik dan afektif, yang menyentuh emosi. Ia juga menyoroti karya sastra yang ditulis pada masa kini, yang haruslah menyesuaikan zaman dari sisi paradigma, gaya ucap atau pola ekspresinya sehingga akan lebih diterima, seperti karya Tere Liye, Habiburrahman El-Shirazi, Aan Mansur, Bernard Batubara, atau Faisal Odang.

Di sisi lain, ia juga menyayangkan masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, yang menurut penelitian World’s Most Literate Nations, menempati peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. “Ini tentu menjadi hambatan, karena karya sastra lebih efektif menginspirasi masyarakat yang memiliki minat baca tinggi,” katanya.

Pada zaman milenial ini, menurut dia, karya sastra semakin melimpah. Karya sastra tidak hanya bisa dinikmati melalui buku seperti pada masa lalu, tetapi juga melalui internet.

“Sastra digital berkembang pesat ditandai anak-anak muda yang membaca buku melalui aplikasi semacam Wattpad,” katanya.

Leave a Reply