Singgung Solusi Redam Radikalisme, Prabowo: Pemimpin Harus Mengajar

Jakarta, PANRITA.News – Pembahasan tentang radikalisme di Indonesia kembali mencuat beberapa hari terakhir ini, menyusul informasi yang disampaikan Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyebut 41 dari 100 masjid di kementerian/ lembaga/BUMN, diduga terpapar radikalisme.

“Yaitu, 11 masjid kementerian, 11 lembaga, dan 21 masjid BUMN,” ujar Staf Khusus Kepala BIN Arief Tugiman, dalam diskusi Peran Ormas Islam dalam NKRI di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Jakarta, Sabtu (17/11/2018).

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebut radikalisme yang lahir di suatu negara terkait erat dengan ketiadaan lapangan kerja. Hal itu disampaikan Prabowo pada sambutan di acara The World 2019 Gala Dinner yang diselenggaran The Economist di Singapura, Selasa (27/11/2018) malam.

Prabowo menyebut, sudah selayaknya pemimpin berperan meredam radikalisme. Salah satu cara menurutnya adalah dengan seoptimal mungkin menyediakan lapangan pekerjaan.

“Saya yakin pemimpin yang baik itu bisa meredakan segala bentuk radikalisme. Namun sekali lagi, apabila ada rasa kehilangan harapan, frustasi, pesimisme, jika tidak ada masa depan bagi anak muda, maka sikap radikal ini akan mempengaruhi mereka,” ungkapnya.

Paham radikalisme menurut Prabowo bisa muncul akibat rasa frustrasi dan kehilangan harapan yang berakhir menjadi sikap pesimisme terhadap suatu kepemimpinan. Lebih lanjut, sebagai salah satu kandidat calon presiden RI, diakui Prabowo dirinya sangat prihatin dengan keadaan umat Muslim di Indonesia saat ini. Sebab, kata dia, belakangan ini banyak sekali ulama yang justru digolongkan dalam kelompok radikal.

Meski tak menyebut secara eksplisit pemimpin yang mana, diakui Prabowo mestinya pemimpin saat ini berperan vital dalam mendidik umat dan mengayomi ulama agar tidak tersesat mengambil jalan radikal.

“Saya yakin bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia adalah moderat dan mereka lelah sekali dikategorikan dalam politik yang radikal. Tapi sekali lagi, merupakan tanggung jawab seorang pemimpin untuk memimpin, pemimpin harus mengajar,” kata Prabowo.

Meski begitu, dia pun tetap optimistis bahwa mayoritas pemuka agama di Indonesia tentunya mengecam sikap radikalisme dan mengkampanyekan ajaran Islam yang damai.

“Ya saya optimis karena saya melihat masih banyak pemuka agama di Indonesia yang mengecam radikalisme dalam bentuk apapun, dan ajaran Islam menekankan ini,” kata Prabowo.

Tinggalkan Komentar