Kantongi Data BIN, JK Bakal Sikapi Masjid Terpapar Radikalisme

Jakarta, PANRITA.News – Badan Intelijen Negara mengutip data Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) tentang 41 masjid di lingkungan pemerintah yang terpapar radikalisme.

Kasubdit di Direktorat 83 BIN, Arief Tugiman memerinci ada 11 masjid di kementerian, 11 masjid di lembaga, dan 21 masjid di BUMN yang terpapar paham radikal. Bahkan 17 di antaranya masuk kategori tinggi.

“Berdasarkan pemetaan dari kita, dari 100 masjid di kementerian, lembaga, dan BUMN itu terdapat 41 masjid yang terindikasi terpapar paham radikal,” ujar Arief Tugiman, dalam diskusi ‘Peran Ormas-ormas Islam dalam NKRI’ di kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Jakarta Pusat, Sabtu (17/11) lalu.

Menanggapi informasi BIN tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengaku telah berbicara dengan Kepala BIN Budi Gunawan dan telah mengantongi data yang dibeberkan pihak BIN itu.

“Saya sudah bicara dengan Kepala BIN Pak Budi Gunawan tentang hal ini dan saya diberikan daftarnya,” kata JK di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat, (23/11/2018).

JK melanjutkan, 41 masjid itu tak seluruhnya masuk dalam kategori terpapar radikalisme berat. Terdapat beberapa masjid yang terpapar radikalisme sedang dan ringan.

Menurut JK, radikalisme itu diukur dari khotbah yang diberikan penceramah saat salat Jumat di Masjid tersebut. Setidaknya terdapat 17 masjid terpapar radikalisme berat, 17 masjid masuk kategori sedang, dan tujuh masjid kategori ringan.

“Memang yang menarik karena surveinya ke masjid yang dibangun pemerintah,” singgung JK.

Menyikapi persoalan tersebut, JK menegaskan bahwa Dewan Masjid Indonesia (DMI) bakal meninjau masjid-masjid yang dianggap terpapar radikal tersebut. Ketua Umum DMI ini akan membuat kurikulum dan penilaian buat para penceramah.

JK juga mengaku pemerintah tak bisa melarang seorang penceramah berkhotbah. Tapi menurutnya, penceramah harus mematuhi aturan saat naik ke atas mimbar. Kalla yakin hal ini bisa mengurangi penyebaran radikalisme di lingkungan masjid.

“Kita luruskan. Kita temui ustaznya dan meminta mereka menyebarkan Islam yang wasatiyah,” katanya.

Tinggalkan Komentar