Bulog Minta Impor Beras Dihentikan, Pengamat:  Jangan Sampai Negara Kalah Dari Pemburu Rente

Jakarta, PANRITA.News – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) meminta impor beras dihentikan. Pasalnya, jumlah pasokan beras yang dikelola dan ditempatkan di gudang milik mereka sampai dengan Oktober ini masih ada sekitar 2,4 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah pada akhir tahun menjadi sekitar 2,7-3 juta ton.

Hal itu ditegaskan oleh Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso. Ia menyatakan bahwa jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras masyarakat sampai akhir tahun. Sehingga menurutnya, pemerintah tidak perlu menambah cadangan beras dengan membuka keran impor.

“Stok tersebut siap disalurkan bila sewaktu-waktu pemerintah memerlukannya untuk bencana alam maupun intervensi pasar guna menjaga stabilitas harga,” ucapnya dalam laman CNNIndonesia, Rabu (31/10/2018).

Lebih lanjut, menurutnya, sekalipun ada kecenderungan lonjakan permintaan jelang akhir tahun, pasokan beras di tanah air tetap akan mencukupi kebutuhan masyarakat. Sebab, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dimiliki melebihi target sebesar 1-1,5 juta ton.

Budi juga menjamin kecenderungan terjadinya lonjakan permintaan beras pada akhir tahun, akan bisa diantisipasi Bulog. Bulog akan mampu mendistribusikan pasokan ke masyarakat melalui Operasi Pasar (OP).

Ia mengklaim Bulog sudah menggelontorkan CBP untuk OP sebanyak 384.328 ton sepanjang Januari-Oktober 2018 atau sekitar 2.500 ton per hari.

“Kami juga terus memantau perkembangan harga beras dari hari ke hari, supaya intervensi pasar dapat kami lakukan dengan mengelontorkan stok CBP dan komoditas komersial yang kami miliki,” jelasnya.

Di sisi lain, menurut Budi, impor juga tidak dibutuhkan karena berdasarkan data proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih akan mengalami surplus pasokan beras sekitar 2,85 juta ton.

Menurutnya, proyeksi ini memang sejalan dengan perkiraan rata-rata serapan beras Perum Bulog yang mencapai 3.000 ton per hari dari petani lokal.

Mengamati soal impor beras yang tak kunjung dihentikan itu, Ketua PBNU sekaligus guru besar Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) Mochammad Maksum Machfoedz angkat bicara. Ia mengatakan situasi produksi yang cenderung surplus dan besaran konsumsi rutin normal, namun di lapangan justru harga beras melonjak.

“Ini ada semacam tekanan politik yang dibuat agar impor beras dilakukan. Ada yang memanfaatkan situasi. Jangan sampai negara kalah dengan para pemburu rente. Harus bisa ditangkap dan diberi sanksi,” kata Mochammad, dalam dalam laman detikcom, Selasa (30/10/2018).

Tinggalkan Komentar