Himpaudi Gelar Workshop Guru Berkarakter

Bulukumba, PANRITA.News – Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kabupaten Bulukumba menggelar Workshop Guru Berkarakter.

Workshop yang diikuti oleh para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini menghadirkan narasumber dari seorang motivator pendidikan yakni Sardin Damis yang juga penulis buku Quantum Miracle Teaching.

Laporan dari Ketua Himpaudi Bulukumba Siti Isniyah menyebut jumlah peserta mencapai 389 orang yang berasal dari 10 kecamatan di Kabupaten Bulukumba. Setiap tahun kata istri Wakil Bupati ini, Himpaudi selalu melaksanakan workshop pendidikan dan peminatnya semakin banyak.

“Dulu selalu dilaksanakan di Ruang Pola Kantor Bupati, namun dua tahun terakhir ini kami pindahkan di tempat yang lebih luas oleh karena pesertanya semakin bertambah dari tahun ke tahun,” tutur Siti Isniyah saat menyampaikan laporannya pada pembukaan workshop di Ballroom Hotel Agri Bulukumba, Rabu (12/9/2018).

Adapun tujuan workhsop lanjut Isniyah, untuk meningkatkan kompetensi para pendidik PAUD sehingga bisa lebih profesional dalam menyelenggarakan pendidikan.

“Kami dari Himpaudi memang berkomitmen akan selalu memerhatikan kualitas SDM dari para guru PAUD Kabupaten Bulukumba,” imbuhnya.

Sementara itu Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto dalam pengantar sambutannya mengatakan bahwa Indonesia dan Korea Selatan hanya berbeda dua hari dalam memproklamirkan hari kemerdekaannya.

Namun pada perkembangannya, fakta menunjukkan Korea Selatan jauh lebih maju dibanding Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan strategi pembangunan dari awal, dimana Korea Selatan melakukan investasi Sumber Daya Manusia (SDM) sedangkan Indonesia lebih memilih investasi Sumber Daya Alam (SDA) dengan melakukan eksploitasi alam.

“Hasilnya hari ini, ibu-ibu sekalian menikmati produk handphone dari Korea Selatan bermerek Samsung, begitu pula peralatan di rumah lebih familiar dengan produk Korea Selatan,” ujarnya.

Menurutnya kebijakan investasi SDM bagi sebagian kalangan masyarakat tidak populis, karena tolak ukur pembangunan adalah pekerjaan fisik seperti jalanan, jembatan atau pembangunan fisik lainnya. Resiko investasi SDM itu hasilnya baru bisa dinikmati 20 atau 30 tahun ke depan.

Dikatakannya, ada dua profesi yang membutuhkan keahlian khusus, yaitu profesi kesehatan dan profesi pendidikan. Relevansinya dengan kegiatan tersebut, Tomy mengajak para guru untuk membangun keyakinan bahwa menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia.

“Analoginya, jika siswa itu diibaratkan tumbuhan, maka para guru PAUD memiliki peran penting dalam menyemai bibit bibit yang baik untuk tumbuh dikemudian hari,” ungkap Tomy.

Namun sayangnya, para guru PAUD sepi dari ucapan terima kasih. Faktanya tidak ada reuni alumni taman kanak-kanak, yang ada hanya reuni alumni SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Artinya para guru PAUD harus bersiap-siap dilupakan. Itulah mungkin juga yang menyebabkan para guru-guru PAUD kita, lanjut Tomy, menjadikan mereka merasa minder bila bertemu dengan guru-guru tingkatan lebih tinggi.

“Saya berharap para guru PAUD ini jangan minder dengan guru lainnya. Bagaimana bisa membangun kepercayaan diri siswa kalau gurunya sendiri yang tidak percaya diri. Olehnya itu saya minta mulai saat ini, para guru PAUD kita harus bangga dengan profesinya,” pinta Tomy Satria Yulianto.

Workshop sehari ini mengambil tema, Jadilah Sosok Guru yang Senantiasa Menginspirasi dan Mampu Mengantarkan Siswa Menemukan Karakter Pembelajar Sejati.