Jakarta, PANRITA.News — Partai Golkar dan PDIP saling melempar pandangan terkait sikap politik menjadi oposisi pemerintah.
Hal itu bermula saat Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa dirinya tidak terbiasa oposisi di Musda XI DPD Golkar Sumatera Selatan pada Minggu 2 Agustus 2026.
Menteri ESDM itu menegaskan partainya tak akan menjadi oposisi dalam pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran. Golkar katanya, akan menjadi garda terdepan mendukung program-program pemerintah.
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira enggan berkomentar terkait pernyataan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia. Namun, Andreas mengatakan prinsip berpolitik PDIP bukan untuk mencari enaknya.
“Nggak tahu saya. Itu urusan Golkar. Kalau PDI Perjuangan, berpolitik bukan untuk cari enak,” kata Andreas pada Senin 3 Agustus 2026.
Andreas mengatakan posisi oposisi dan di dalam pemerintahan sebetulnya sama-sama baik. Dia menyebut di luar pemerintah juga bisa bermanfaat untuk rakyat.
“Dua-duanya bisa baik, tergantung bagaimana mengimplementasikan gagasan menjadi program-program untuk kepentingan rakyat. Di luar pemerintahan pun akan sangat bermanfaat sebagai penyeimbang terhadap kekuasaan,” ucap Andreas.
Dia juga mengatakan kekuasaan cenderung korup. Selain itu, menurutnya, posisi partai di dalam pemerintahan tapi membohongi rakyat sama saja dengan mencelakakan negara.
“Karena kekuasaan itu cenderung korup, power tends to corrupt. Kalau di dalam tapi hanya menikmati, atau malah korupsi, membohongi rakyat, ya, malah mencelakakan negara,” ujarnya.
Respon Balik Golkar
Waketum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, menjelaskan posisi partainya tak pernah menjadi oposisi lantaran konsisten untuk mendukung pembangunan.
Golkar menjawab pernyataan Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira, yang mengatakan politik bukan hanya mencari enaknya.
“Masing-masing partai politik memiliki ideologi, nilai, doktrin, konsep, dan cara di dalam menjalankan perannya. Golkar adalah partai politik berideologikan Pancasila, yang mengembangkan paradigma developmentalism, melalui doktrin karya kekaryaan,” kata Doli pada Rabu (5/6/2026).
Doli mengatakan Golkar konsisten sebagai partai politik mengusung konsep pembangunan. Ia mengakui Golkar tak pernah mengenal oposisi.
“Itulah karakteristik Partai Golkar yang tentu berbeda dengan karakteristik partai politik lain. Jadi Golkar memang tidak pernah mengenal posisi oposisi. Apalagi Indonesia memang sistem pemerintahannya adalah presidensial, yang juga tidak pernah mengenal oposisi,” tambahnya.
Ia mengatakan sejak awal partai Golkar mendukung pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Pihaknya berkomitmen memperjuangkan program prioritas pemerintah.
Kendati demikian, Doli mengatakan Golkar menghormati posisi partai lain yang berada di luar pemerintahan. Ia mengatakan posisi tersebut sama mulianya.
“Kami juga menghargai dan menghormati partai politik yang mengambil posisi berada di luar pemerintahan saat ini. Untuk maju, Indonesia membutuhkan peran partai-partai politik, baik yang berada di dalam pemerintahan, maupun yang berada di luar pemerintahan. Dan itu sama mulianya,” tutur dia.

Comment