Akhir tahun 2019 lalu, dunia dihebohkan dengan teridentifikasinya virus baru bernama Novel Corona Virus yang saat ini disebut dengan COVID-19. Virus berbahaya ini membuat banyak masyarakat di dunia resah dan meningkatnya standar keamanan di berbagai negara termasuk Indonesia.
Apa itu COVID-19?
COVID-19 merupakan keluarga besar dari virus SARS and MERS yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Virus ini merupakan virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia, yang kemudian pertama kali didentifikasi di kota Wuhan, China pada Desember 2019.
Virus corona dapat ditularkan antara hewan ke manusia dan manusia ke manusia. Gejala klinis akan muncul setelah 2-14 hari setelah terinfeksi, namun dapat menular meski belum menunjukkan gelaja infeksi.
Sejak jenis virus baru terdeteksi pertama kali di kota Wuhan di China tengah pada Desember 2019. Sampai saat ini virus corona telah menginfeksi lebih dari 334.000 orang dan menyebar ke lebih dari 187 negara. Negara Indonesia hingga saat ini terkonfirmasi positif yakni 686 orang.
Dilansir dari CNBC, virus corona dapat bertahan di udara selama kurang lebih 8 jam, sehingga penyebaran virus tersebut lebih cepat karena melalui udara.
Penyebaran cepat virus ini telah memicu ketakutan di seluruh dunia. Ketika peringatan menyebar, para ilmuwan, peneliti bahkan pengamat di seluruh dunia meningkatkan upaya untuk memahami virus baru dan bagaimana virus ini mempengaruhi tubuh manusia.
Dampak covid-19 bagi Kesehatan?
Penelitian terhadap 138 pasien yang terinfeksi virus corona di Wuhan, yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association (JAMA) pada 7 Februari, menunjukkan gejala yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering.
Sepertiga dari pasien juga melaporkan nyeri otot dan kesulitan bernafas, sementara sekitar 10 persen memiliki gejala atipikal, termasuk diare dan mual. Sementara sebagian besar kasus tampak ringan, semua pasien mengalami pneumonia.
Sekitar sepertiga pasien mengalami kesulitan bernapas yang parah, membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif. Orang yang sakit kritis biasanya berusia lebih tua dan memiliki penyakit diabetes dan hipertensi.
“Usia rata-rata pasien adalah antara 49 dan 56 tahun,” kata JAMA.
Sementara itu, sebuah penelitian yang diterbitkan pada 24 Januari di The Lancet, sebuah jurnal medis menemukan apa yang disebutnya “badai sitokin” pada pasien yang terinfeksi yang sakit parah. Kondisi ini merupakan reaksi kekebalan yang parah di mana tubuh memproduksi sel-sel kekebalan dan protein yang dapat menghancurkan organ-organ lain yang dapat menyebabkan kematian.
Hingga saat ini yang terkonfirmasi meninggal di negara Indonesia sebanyak 55 orang dan akan selalu bertambah jika penanganan pemerintah tidak serius membangun infrastruktur Kesehatan.
Yang pada akhirnya ini telah meresahkan masyarakat Indonesia hingga bapak presiden Joko Widodo menginstruksikan untuk social distanding yang mana bekerja di rumah, belajar di rumah, dan, ibadah di rumah. Dampak dari instruksi tersebut pasti sangat berpangaruh pada kehidupan social masyarakat Indonesia.
Tapi hingga kini masyarakat masih juga ‘ngeyel’ kesana kemari dan tidak menganggap angka 686 terkonfirmasi positif dengan tingkat kesembuhan hanya sekitar 4,3% atau 30 orang saja.
Infrastruktur kesehatan yang ada saat ini masih jauh dari kata cukup untuk penanggulangan virus corona tersebut, Mulai dari Rumah Sakit Rujukan hingga Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga Kesehatan yang bekerja di garda terdepan masih sangat minim.
Menjadi pertanyaan besar bagi semua orang kepada pemerintah, kenapa bisa hal kecil seperti APD sulit untuk diadakan ? ini sungguh berbahaya bagi tenaga Kesehatan, terkhusus para dokter yang bekerja di rumah sakit rujukan pasien dengan penyakit korona ini.
Tidak dipungkiri lagi hingga detik ini ada beberapa nyawa dokter dan perawat Indonesia yang harus melayang karena melawan virus ini. Dan jika kondisi ini tetap berlanjut, entah harus berapa nyawa lagi tenaga Kesehatan yang dikorbankan untuk melawan virus korona.
Peran Pemerintah khusunya kementerian kesehatan kini kian di pertanyakan, berawal dari ditutupnya informasi data pasien yang terkena virus korona yang menyebabkan masyarakat sekitar yang berada didaerah pasien 01 dan 02 tidak melakukan jaga jarak dengan si penderita, kemudian persoalan obat-obatan yang di rekomendasikan tidak mengacu pada hasil penellitian ataupun Riwayat penggunaan.
Contohnya penggunaan obat ibuprofen kepada pasien terinfeksi virus korona justru malah memperparah keadaan si pasien, dan masih banyak lagi.
Masyarakat Indonesia khususnya tenaga medis, sangat berharap pemerintah bisa lebih fokus mempertimbangkan kebutuhan saat ini seperti alat pelindung diri (APD), alat tes yang lebih banyak, dan infrastruktur yang memadai
Dampak Covid-19 bagi Ekonomi
Seperti yang kita ketahui, virus ini pertama kali di temukan di Wuhan dengan berbagai asumsi bahwa telah terjadi kebocoran pipa industry biologic di Wuhan, dan disamping itu spekulasi yang dibangun bahwa virus tersebut di sebarkan oleh tentara negara paman sam sebagai war biologic tools, yang pada saat itu ingin menguasai 5G milik Huawei.
Ini sungguh memukul perekonomian negara China khususnya di Wuhan dengan menerapkan Lockdown dimana semua aktivitas manusia dihentikan.
Negara Indonesia tidak memilih kata Lockdown, lebih kepada social distancing yang kini diganti oleh who menjadi physical distancing dengan alasan menjaga jarak bukan berarti memutus hubungan social dengan orang lain. Meskipun demikian dilansir dari media, Bank Indonesia (BI) Bank merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020, dari 5,0-5,4 persen menjadi 4,2-4,6 persen.
Proyeksi tersebut dipengaruhi adanya kasus pandemi virus corona (Covid-19) yang juga melanda Indonesia. Salah satu contoh yang terjadi di Indonesia yakni wabah virus corona menyebabkan lesunya pariwisata Indonesia. Yang mana hingga saat ini, wabah ini telah membuat pengusaha jasa pariwisata kehilangan 30% keuntungan akibat pembatalan atau penundaan perjalanan, dan disamping itu masih banyak pejuang jalanan yang butuh untuk di perhatikan dari aspek ekonomi seperti, ojek online yang Ketika tidak mengaktifkan aplikasinya tidak mendapatkan keuntungan, para pemulung yang tidak mendapatkan sepeser pun Ketika tidak mengais dijalanan, dan mereka yang bekerja serabutan.
Syahdan, ditengah mewabahnya virus corona ini, nilai mata uang rupiah melemah mendekati krisis tahun 98’, ini berdampak pada perusahaan-perusahaan besar yang bahan bakunya berasal dari luar negeri atau barang impor, sehingga barang yang masuk ke pasaran Indonesia menjadi lebih mahal yang tentunya menyulitkan masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah untuk mengkonsumsinya.
Lalu, saking mematikannya virus ini, masyarakat Indonesia dibuat ‘panic buying’ dengan menumpuk bahan makanan dan obat-obatan sehingga harga sembako harganya kian melambung, lagi-lagi ini menyulitkan bagi masyarakat ekonomi rendah, dan masih banyak dampak yang lainnya dari virus corona ini.
Di tengah Ketegangan ini, peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengontrol kepanikan dari masyarakat agar perekonomian dalam hal ini harga barang dapat tetap stabil dan tak ada lagi penimbunan sembako juga obat-obatan sehingga seluruh masyarakat dapat memperolehnya selama physical distancing ini diberlakukan.
Penulis: Arditya Noor | Mahasiswa Pascasarjana UHO

Comment