ASN Level Up: Cara BPSDM Sulsel Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik

ASN Level Up: Webinar Adaptif BPSDM Sulsel Diikuti 3.767 Peserta Se-Indonesia

Makassar, PANRITA.News — Kemampuan mengelola emosi menjadi salah satu kompetensi penting bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menghadapi kompleksitas tugas dan tuntutan pelayanan publik.

Untuk memperkuat kapasitas tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) menggelar Webinar ASN Adaptif Seri ke-65 bertema “ASN Level Up: Cara Cerdas Mengatur Emosi agar Kinerja Naik dan Stres Minggat” secara virtual melalui Zoom Meeting dan kanal YouTube BPSDM Sulsel, Kamis (6/8/2026).

Kegiatan ini diikuti 3.767 peserta yang berasal dari kementerian, lembaga, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten/kota dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Jufri, mengatakan pengembangan kompetensi ASN tidak hanya mencakup peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan mengenali serta mengelola emosi dalam menjalankan tugas.

“Kita mencintai pekerjaan kita, tetapi kita juga punya tanggung jawab untuk bekerja dengan baik. Orang-orang hebat tidak akan pernah berhenti belajar untuk menjadi ASN yang unggul berkelas dunia,” ujarnya.

BACA JUGA:  Jadi Narasumber PKA III, Sekda Sulsel Tantang Peserta Hadirkan Birokrasi Adaptif dan Inovatif

Muhammad Jufri juga mengapresiasi partisipasi peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ia berharap Webinar ASN Adaptif terus menjadi ruang pembelajaran yang menghadirkan materi-materi relevan untuk mendukung pengembangan kompetensi ASN dalam menghadapi dinamika birokrasi.

“Terima kasih kepada narasumber dan seluruh peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang telah bergabung hari ini. Semoga kegiatan ini menjadi awal untuk terus berbagi pengetahuan melalui topik-topik yang bermanfaat bagi pengembangan kompetensi ASN,” tuturnya.

Webinar ini menghadirkan psikolog sekaligus dosen Program Studi Psikologi Universitas Hasanuddin, Istiana Tajuddin. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa regulasi emosi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan terus dilatih. Kemampuan tersebut berpengaruh terhadap kesehatan mental, kualitas komunikasi, serta kemampuan membangun hubungan kerja yang sehat.

“Orang yang tidak mampu meregulasi emosinya lebih rentan mengalami stres, kelelahan emosional, hingga burnout. Sebaliknya, kemampuan mengelola emosi akan membantu kita membangun hubungan kerja yang lebih sehat dan profesional,” jelasnya.

BACA JUGA:  Progres Infrastruktur Sulsel: 49 Ruas Jalan Mulai Dikerja, Hertasning Sentuh 90 Persen

Istiana juga mengajak peserta membangun kebiasaan sederhana dalam mengelola emosi, antara lain memberi jeda sebelum merespons, mengenali sinyal tubuh saat emosi muncul, serta menyampaikan pendapat berdasarkan fakta, prioritas, dan tindak lanjut.

Menurutnya, kemampuan mengendalikan respons merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun lingkungan kerja yang profesional.

“Orang yang kuat mampu bertahan saat menghadapi emosinya sendiri. Orang yang bijaksana mampu memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosinya dengan tetap menjaga harga diri sendiri serta orang lain,” imbuhnya.

Pada sesi diskusi, peserta mengangkat berbagai tantangan di lingkungan kerja, mulai dari menghadapi karakter pimpinan dan rekan kerja, mengelola dinamika lingkungan kerja yang kurang kondusif, hingga menjaga stabilitas emosi saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. (*)

Comment