Jakarta, PANRITA.News – Rakornas Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang dilaksanakan pada tanggal 24 s.d 27 Februari 2020 lalu di Hotel Bidakara Jakarta selatan yang dihadiri sekitar 1.500 peserta dari berbagai daerah di indonesia, salah satunya Bilik Pustaka perwakilan dari Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.
“Acara ini sangat kami nantikan untuk dapat menyuarakan kondisi perkembangan literasi di pelosok sulawesi,” ujar founder Bilik Pustaka Gowa Qadry Paolai.
Rakornas ini dibuka langsung oleh Menteri Dalam Negeri Prof. Tito Karnavian, Ph.D. di Aula Hotel Bidakara Jakarta Selatan.
Dalam sambutannya, Tito menegaskan bahwa kepala Desa yang tidak mau mengalokasikan Dana Desa untuk kepentingan Pembangunan Perpustakaan/Pengembangan Literasi di Desa akan sangat mungkin bisa menjadi temuan.
Olehnya itu, founder Bilik Pustaka Gowa Qadry Paolai berharap kepada pemerintah agar bersinergi untuk meningkatkan budaya baca Masyarakat Gowa.
“Kami berharap kepada Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati Gowa & Dinas Perpustakaan dan Kearsipan agar bisa bersinergi dengan pegiat literasi untuk meningkatkan budaya baca di masyarakat,” imbuh Qadry Paolai.
Sementara itu, Presiden Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) – Nirwan Ahmad Arsuka dalam pemaparan materinya, ia menjelaskan banyak hal yang bisa dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat dalam gerakan literasi.
“Salah satu akses untuk mendekatkan akses baca ke masyarakat seperti kuda pustaka, perahu pustaka, becak pustaka dan sebagainya, dimana sambil membawa buku-buku untuk dipinjamkan ke masyarakat, perahu pustaka atau sekedar keranjang berisi buku, polisi pustaka, jalan kaki pustaka, pustaka keliling demi mencerdaskan generasi bangsa,” jelasnya.
“Luar biasa teman-teman pegiat literasi mampu menggerakkan masyarakat sampai ke pelosok negeri demi membawa buku-buku untuk dibacakan dan dipinjamkan kepada anak-anak negeri,” sambung Nirwan.
Nirwan juga mengatakan bahwa Indonesia, bukan minat bacanya yang rendah, tapi akses untuk mendapatkan buku-buku atau bahan bacaan yang sulit.
“Sehingga kami dari pegiat literasi sangat berharap kepada semua pemangku kebijakan agar bisa memudahkan anak-anak indonesia mengakses bahan bacaan yang layak. Walau salah satu strategi agar anak pelosok indonesia dapat bahan bacaan gratis yang selama ini berjalan baik, yakni melalui program pengiriman buku gratis (FCL) diberhentikan oleh pemerintah tanpa melihat dari kebermanfaatan Free Cargo Literacy (FCL) untuk anak-anak negeri dan para pegiat literasi,” ungkapnya.
Dari kegiatan ini, para pegiat literasi bersama Pustaka Bergerak Indonesia merekomendasikan untuk menghidupkan kembali FCL karena itu sangat bermanfaat, pemerintah pusat melalui APBN segera direalisasikan dan terus memantau sampai ke desa dalam penganggarannya untuk kebutuhan fasilitas perpustakaan atau rumah baca yang sudah dilaksanakan oleh para pegiat literasi.

Comment