Masjid, Pelantang, dan Tadarus: Merayakan Bulan Alquran

Makassar, PANRITA.News – Dengan datangnya bulan Ramadan yang kerap juga disebut bulan suci Ramadan, bukan hanya tentang puasa. Juga, menjadi momen untuk mengingatkan kembali soal turunnya Alquran. Maka, Ramadan dilalui dengan tadarus. Menelaah kembali Alquran dan dengan target tertentu setiap orang membacanya yang melebihi kebiasaan membaca selain bulan Ramadan.

Kesempatan membaca Alquran pulalah yang kemudian mendorong kerjasama antara warga di Makassar melalui IMMIM, dan Radio Republik Indoneia (RRI) mengadakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) sebagai upaya untuk menjadikan lomba bagi penyemangat untuk tetap dan terus membaca Alquran. Saat itu, Ramadan 1968 dimana MTQ dijadikan salah satu syiar. Juga dalam kaitan memberi motivasi bagi pembaca Alquran untuk terus belajar (putri, 2023).

Setelah kurang lebih 50 tahun, pelaksanaan MTQ bukan lagi tentang syiar. Bahkan kini menjadi pembentukan karakter bagi para qari/qariah ataupun peserta di pelbagai cabang yang tersedia (Hamdalah & Mujiburrohman, 2023).

MTQ yang dahulu di berawal Makassar, setiap tahun diadakan secara nasional. Termasuk di daerah minoritas muslim sekalipun. Di tanah Papua, LPTQ Provini Papua Barat memiliki program secara khusus untuk melakanakan MTQ. Sekalipun di kabupaten tertentu, wakil kepala daerah dipimpin pejabat non-muslim. Begitu pula di Saumlaki (Baharuddin, Jamaa, dan Syarif, 2022).

Mereka tetap saja menjadi bagian dari LPTQ dan turut mendorong terselenggaranya MTQ pada tahun genap. Sementara dalam tahun ganjil, dilaksanakan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) yang kini didampingi pula dengan hafalan hadis. Sehingga menjadi STQH.

Sekarang ini, MTQ dan juga STQH tidak hanya untuk kalangan tertentu. Semua kalangan, termasuk bagi penyandang disabilitas juga diberikan kesempatan. Merekapun memiliki peluang untuk mendapatkan pelajaran dalam kaitan membaca dan kemahiran lainnya terkait Alquran (Ilmiawan & Damri, 2022).

Selain membaca Alquran diantara waktu salat, jamaahpun juga mendirikan salat dengan ukuran bacaan Alquran. Untuk satu kali qiyamulail, dituntaskan satu juz dalam satu kali salat malam. Sehingga dalam satu bulan, satu Alquran telah diselesaikan dengan mendirikan salat lail berjamaah.

Sebelum Ramadan datang, terlaksana Muktamar Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang diselenggarakan di Jakarta, 1-3 Maret 2024. Dalam satu kesempatan, Ketua Umum DMI, Jusuf Kalla menyampaikan bagaimana sebaiknya sebuah masjid menggunakan pelantang yang dibedakan suara luar dan suara luar.

Pengeras suara hanya untuk adzan, dan ikamah yang ditujukan keluar. Adapun untuk pelaksanaan tadarus, ceramah, khutbah, dan doa zikir lima waktu, cukup menggunakan suara dalam. Sehingga akan terjaga kekhusyuan dan kesyahduan dalam beribadah. Begitu pesan Ketua Umum DMI yang terpilih kembali dalam muktamar di Jakarta.

Ini sekaligus memberi panduan bagi takmir masjid. Diantara mereka, ketika usai tarawih tetap menggunakan pelantang sampai menjelang sahur untuk untuk tadarus Alquran. Akibatnya, ada komentar warga bahwa bisa menjadi potensi gangguan bagi warga yang memerlukan istirahat. Sehingga himbauan untuk menggunakan suara dalam dalam kaitan dengan tadarus pelru diperhatikan.

Secara khusus, musallah kampung saya di Tangkuli (Maros), kini sudah masjid, setiap malam dalam bulan Ramadan menempatkan satu sesi membaca Alquran dalam bentuk tilawah sebelum ceramah Ramadan. Bacaan tilawah akan dipanjangkan durasinya saat perayaan Nuzulul Quran. Bahkan dalam kesempatan tertentu, qari disandingkan untuk memberik kesempatan kepada jamaah menikmati bacaan Quran.

Masa-masa itu sebelum 1989, hiburan berupa televisi belumlah tersedia. Sehingga berkumpul di masjid menjadi kesempatan tersendiri. Bahkan di lingkungan Tangkuli, mengenal televisi dari sebuah hadiah atas perhelatan MTQ. Sepupu kami, pulang dengan memboyong televise. Dari situlah kemudian berkumpul setiap sabtu malam untuk menonton sampai tayangan ditamatkan TVRI.

Tadarus Alquran sebagai sebuah cara meneruskan apresiasi bulan Ramadan. Pakar tafsir yang juga guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Quraish Shihab mengisi program-program Ramadan di televisi dengan pelbagai nama, diantaranya Tafsir Al-Misbah. Nama ini, diambil dari judul buku tafsir yang ditulisnya.

Kesemarakan dalam membaca Alquran senantiasa dilaksanakan. Dengan cara dan ragam yang sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing. Alquran sebagai panduan beragama dan pegangan hidup, perlu ditelaah. Kesempatan terbaik dating, sata Ramadan dimana baginda Rasulullah SAW menerima wahyu juga pada saat bulan Ramadan.

*Ismail Suardi Wekke, Wakil Ketua Umum MPP Pemuda ICMI.

Comment