Makassar, PANRITA.News – Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) menorehkan prestasi yang cukup membanggakan, dimana profesi apoteker berhasil meraih akreditasi unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan tinggi Kesehatan (LAM-PTKes).
Farmasi UMI merupakan perguruan tinggi swasta pertama di luar Pulau Jawa yang mampu meraih akreditasi unggul, dan sejarah pertama bagi fakultas farmasi khususnya profesi apoteker sejak berdiri tahun 2016.
Dekan Fakultas Farmasi UMI, Abd Malik, Phd, saat ditemui di ruang kerjanya menyampaikan jika pemberian akreditasi unggul terhadap profesi apoteker adalah hasil dari kerja keras para dosen.
Hal itu karena untuk meraih akreditasi unggul ada 9 variabel wajib yang harus dipenuhi, salah satunya adanya hasil karya penelitian mahasiswa dan dosen yang dipatenkan dan terdaftar di HAKI, serta infrastruktur pendidikan dan dan kualifikasi pendidikan dosen.
“Alhamdulillah, Farmasi UMI satu-satunya PTS di luar Pulau Jawa yang mampu meraih akreditasi unggul dari LAM PTKes, dari 9 variabel yang menjadi ukuran kami mampu menghadirkan semuanya hingga kami diberi akreditasi unggul,” katanya, Kamis (13/10/2022).
Selain profesi apoteker, Fakultas Farmasi UMI juga diganjar akreditasi Baik Sekali, sehingga untuk mempertahankan capaian yang diberikan tersebut, Fakultas Farmasi akan lebih meningkatkan kompetensi tenaga dosen dengan kualifikasi pendidikan doktoral.
Fakultas yang dipimpin pria lulusan Doktor pada Universitas Kopenhagen di Denmark ini juga akan mendorong sains terapan kepada mahasiswa sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan kualitas.
Dilihat dari keberhasilan mahasiswa, Farmasi UMI juga telah menjuarai sejumlah event tingkat nasional maupun lokal. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran serta sumber daya manusia (SDM) dosen dalam melakukan pembinaan dan materi ilmu kepada mahasiswa.
“Iya, penerapan sains teknologi sangat penting dalam menunjang kualitas pendidikan, sebab diera saat ini penerapan sains sangat dibutuhkan, khusus dalam bidang kesehatan,” jelasnya.
Dia juga menjelaskan jika tenaga pendidik di Fakultas Farmasi UMI sebagian besar merupakan lulusan doktoral luar negeri dan telah melahirkan beberapa jurnal-jurnal internasional hingga dilirik oleh lembaga BPOM untuk ikut melakukan pengawasan dan pengujian bahan berbahaya khusus pada kosmetik.
“Iya kami memang diminta oleh BPOM menyiapkan tim untuk menjadi bagian dari pengawasaan dan tim penguji bahan berbahaya seperti penggunaan mercury dalam kosmetik dan timnya juga sudah kami bentuk,” ucapnya.
Malik menambahkan, jika saat ini ada beberapa dosen di Fakultas Farmasi UMI sedang mengejar pendidikan doktor di luar negeri seperti di Jepang, Inggris, Thailand dan beberapa negara maju lainnya.
Diketahui saat ini Farmasi UMI telah berhasil mencetak kurang lebih 1000 orang alumni profesi apoteker dan ribuan sarjana farmasi yang telah mengabdi di sejumlah instansi baik swasta maupun milik pemerintah.

Comment