Lingkar Studi Ushuluddin Diskusikan Soal Moderasi Beragama di Pondok Pesantren

Lingkar Studi Ushuluddin Diskusikan Soal Moderasi Beragama di Pondok Pesantren.

Makassar, PANRITA.News – Sebagai bagian dari upaya untuk menjadikan Fakultas Uhusluddin, Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar sebagai pusat kajian dan kebebasan berfikir, maka Dekan Fakultas Ushuluddin melaunching Lingkar Studi Ushuluddin (LISU). LISU diharapkan menjadi sebuah ruang akademik untuk berbagi gagasan, isu, hasil penelitian ataupun kegelisahan intelektual bagi civitas akademika Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Dalam sambutannya, Dr. Muhsin, M. Th.I mengungkapkan bahwa Forum Akademik ini adalah salah satu Program Kerja yang dicanangkan di masa kepemimpinannya. Forum ini seharusnya sudah dimulai beberapa saat yang lalu namun tertunda karena persoalan pandemi. Namun kemudian dirinya menyadari bahwa kajian seperti ini tidak harusnya terpaku pada program.

“Ilmu itu adalah perbuatan yang sangat mandiri. Ilmu sejatinya tidak tergantung apapun karena ilmu selalu menyuarakan kebenaran,” ungkapnya.

Dekan Fakultas Ushuluddin ini juga berharap bahwa forum ini menjadi awal yang baik dan semoga menjadi tradisi yang baik di Fakultas Ushuluddin.

Hadir sebagai pemantik pertama dalam diskusi awal ini adalah dosen Prodi Studi Agama-Agama, Wahyuddin Halim Ph.D. Wahyuddin yang menyelesaikan S2 nya di Amerika dan Kanada serta S3 di Australia membagikan gagasannya tentang Pesantren dan Penyemaian Nilai-Nilai Moderasi Islam; Studi Kasus Pesantren As’adiyah Sengkang.

Dalam paparannya, Wahyuddin memulai dengan menyebutkan tentang 5 unsur pesantren dikutip dari padangan Zamakhsyari Dhofier yakni memiliki pondok, mesjid, teks teks Ke-Islaman sebagai sumber pembelajaran, Santri dan juga Kyai. Zamakhsyari Dhofier adalah murid dari James J. Fox yang juga merupakan salah satu pembimbinya di Australia National University.

Selanjutnya dijelaskan bahwa literatur dan kajian tentang Pondok Pesantren telah banyak dilakukan baik peneliti dari dalam dan luar negeri. Sebagian temuan dari peneliti tersebut di natara bahwa Pesantren dianggap sebagai lembaga yang dapat mentransmisi nilai Islam, memiliki kemampuan beradaptasi hingga mendorong pembangunan ekonomi masyarakat.

Wahyuddin Halim sendiri menyebutkan bahwa Pesantren dapat menginisiasi transformasi dan reproduksi otoritas keagamaan dalam konteks lokal.

Lingkar Studi Ushuluddin ini menarik banyak kalangan untuk terlibat hadir dalam diskusi dan berharap agar kegiatan ini berlanjut terus dalam kesempatan selanjutnya.

Moderator Kegiatan, Syamsul Arif Galib, M.A yang juga merupakan sekretaris jurusan Prodi SAA mengungkapkan bahwa geliat akademik forum ini semacam ini penting sebagai wadah transfer keilmuan di luar ruang-ruang kelas. Penting bagi mahasiswa mengenali dosennya bukan hanya karena namanya namun karena buku, kajian, kepakaran dan juga penelitian yang pernah dilakukannya.

Hadir dalam kegiatan ini adalah civitas akademika Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar baik itu dosen dan juga para mahasiwa. Turut hadir pula para alumni dan juga masyarakat yang tertarik pada tema kajian yang diangkat.

Tinggalkan Komentar