Prof Hamka Haq, Tokoh Intelektual Sulsel yang Layak Jadi Menteri

Prof. Dr. Hamka Haq

Prof. Dr. Hamka Haq

Makassar, PANRITA.News – Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Prof. Dr. Hamka Haq digadang-gadang masuk bursa menteri pada Kabinet Joko Widodo di periode keduanya.

Diketahui, Pria kelahiran Barru itu masih menjabat di Komisi VIII DPR RI.

Sebelum masuk ke dunia politik praktis, Hamka bersama tiga kawannya Prof. Dr. Jalaluddin Rahman dan almarhum Dr. Harifuddin Cawidu tercatat sebagai akademisi di Kampus UIN Alauddin Makassar, hingga ketiganya pun bersama-sama terjun ke dunia perpolitikan.

Niat mereka pun terwujud. Harifuddin Cawidu melalui partai golkar dan Jalaluddin Rahman di PPP sempat menjadi Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, sementara Hamka Haq sampai saat ini masih menjadi Anggota DPR RI dari fraksi PDIP.

Di sisi lain, Deklarator Pemuda Baitul Muslimin, Andhika Nugrahamenilai bahwa Hamka Haq yang dengan berbagai pengalamannya sebagai akademisi dan juga politisi layak menjadi menteri.

Andhika sappaan akrabnya memandang bahwa Hamka Haq selalu menyuarakan aspirasi Perguruan Agama. Hamka kecewa melihat wakil-wakil rakyat di DPR RI yang pada umumnya berbicara soal proyek fisik pendidikan. Padahal yang paling utama ialah penyempurnaan kurikulum dan perbaikan nasib para tenaga kependidikan yg bergelut dalam pengelolaan dan pengajaran tanpa melupakan sarana fisiknya.

“Niat dan peran berdakwah Hamka terbilang tercapai di PDIP. Hamka selain tercatat sebagai pengurus teras PDIP, juga dipercaya sebagai Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), organisasi Islam bentukan dan binaan PDIP, yang digagas alm. Bapak Taufiq Kemas bersama Prof. Dr. Din Syamauddin dan alm. KH. Hasyim Muzadi,” jelas Andhika melalui keterangan tertulisnya, Senin (15/7/2019).

Selain itu, Andhika menilai bahwa Hamka sering mendapat tugas sebagai pemberi nasehat dan pemimpin doa Islam di berbagai kegiatan PDIP.

Hamka bagi Andhika mengingatkannya akan sosok mantan menteri agama periode 1972-1978 yang aktif mengampanyekan kerukunan dan pemahaman keagamaan yang modern dengan istilah sepakat dalam ketidaksepakatan (agree in disagreement).

“Sosok Hamka Haq Albadri mengingatkan kita pada Prof Mukti Ali Profesor Mukti Ali (1925- 2004) adalah salah satu legenda muslim Indonesia yang berkontribusi signifikan dalam panggung agama dan politik di Tanah Air.

Karena kepeloporannya dalam mendirikan program studi Perbandingan Agama pada 1961 di PTAIN Yogyakarta,” ungkapnya.

“Suatu Kebetulan Prof Hamka Haq adalah Guru Besar Ilmu Perbandingan Agama, salah satu Studi Ilmu yang di rintis oleh Prof Mukti Ali dan Beliau juga pencetus Forum Komunikasi Umat Beragama di Sulawesi Selatan,” tutup Andhika.

Leave a Reply