Waspada! Terungkap Modus Baru Pelecehan Seksual di Pontianak

Pontianak, PANRITA.News – Nasib malang kembali dialami seorang anak di bawah umur di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) . Sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya), gadis berusia 14 tahun. Siswi kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu menjadi korban pelecehan seksual oleh pria (18) berinisial DE, pada Rabu (7/11/2018).

Kasus pelecehan seksual itu terbilang modus baru yang kini mulai terungkap. Berawal dari perkenalan di media sosial Facebook beberapa hari sebelum kejadian itu berhasil memperdaya Bunga.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Eka Nurhayati Ishak saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (15/11/2018).

“Kami kemarin Selasa 13 November menerima laporan dari seorang bapak yang mengaku bahwa anaknya disetubuhi oleh lelaki berusia 18 tahun. Inisialnya DE. Sedangkan korban baru masuk usia 14 tahun,” terangnya.

Dalam keterangan Bunga dan ayahnya, dijelaskan Eka, sebelumnya Bunga diajak teman seumuran berinisial K. Teman Bunga sesama perempuan tersebut mengajaknya secara paksa ke suatu tempat untuk bertemu dengan DE.

Awalnya Bunga yang merupakan bungsu dari dua bersaudara ini sempat menolak. Karena dia canggung dan baru kenal dengan DE.

Namun Bunga polos dan menurut saja apa kata teman sekolahnya tersebut. Pertemuan dengan pemuda putus sekolah itu pun terjadi.

“Nah, saat bertemu di kawasan Sungai Ambawang, korban diberi makanan oleh pelaku. Tidak lama kemudian korban hilang ingatan dan tertidur. Sadar tak sadar, sekitar jam lima subuh (8 November, red), leher korban penuh dengan tanda merah. Perutnya juga sakit dan mau buang air kecil, terasa pedih,” jelas Eka menerangkan pengakuan Bunga.

Menurut cerita Bunga, kata Eka, dia keluar dari rumahnya diajak oleh K sekitar pukul 18.00 Wib. Pada 7 November itu. Bunga sempat izin ke orangtuanya untuk ke warnet yang tak jauh dari rumahnya.

Seingat Bunga, lanjut Eka, dia memakan makanan itu sekitar pukul 01.00 Wib. Selepas itulah dia tak ingat apapun yang terjadi.

Dalam kondisi tak stabil, Bunga hendak dibawa DE ke suatu tempat. Sekitar pukul 11.00 Wib, Bunga terlihat oleh ibunya berbonceng dengan DE di di simpang empat Parit Mayor-Desa Kapur. Ibunya, saat itu juga langsung membawa Bunga pulang ke rumah.

“Korban kemudian dibiarkan beberapa jam untuk beristirahat di rumah,” terang Eka.

Ketika terbangun, Bunga kemudian menceritakan kepada orangtuanya mengenai cap merah di leher dan tubuhnya serta rasa sakit perut dan perih ketika mau buang air kecil.

“Reaksi orang tuanya langsung memeriksa korban dan melaporkan ke kepolisian, Unit PPA Polresta Pontianak, pada 8 November,” beber Eka.

Saat ini, menurut Eka, Polresta Pontianak masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Pihak KPPAD pun masih menunggu hasil visum. “Untuk pelaku, belum ditangkap,” katanya.

Kondisi Bunga pun disebut Eka, masih belum stabil. Dia menduga, hal itu akibat zat yang terkandung dari makanan yang diberi oleh pelaku.

“Jadi korban ini, kalau bahasa kita, suka meracau. Tapi soal kejadian dan siapa saja, dia masih ingat. Korban pun masih malu untuk ke sekolah dan keluar rumah,” terangnya.

Hal yang masih diingat betul oleh Bunga adalah, bahwa dia kenalan dengan DE di FB, dua hari sebelum kejadian. Itu pun dipaksa oleh temannya, K. Pengakuan Bunga, DE masih sering melakukan pengintaian terhadapnya dan berusaha menghubungi lewat messenger.

“Setelah kejadian itu korban mengalami traumatik. Dia menceritakan semua kejadian dengan mata yang berkaca-kaca. Kami juga memberikan pendampingan dengan menghadirkan psikolog untuk memulihkan traumatik korban,” ujarnya.

Eka meminta, kepolisian cepat mengungkap kasus ini. Selain DE, K juga harus diamankan. Karena, K lah yang memaksa Bunga untuk bertemu dengan DE. Sesuai pengakuan Bunga.

“Namun, kami menyerahkan sepenuhnya ke kepolisian. Apakah ini bisa dikembangkan mengarah ke K atau tidak. Ini tugas kepolisian. Tugas kami hanya melindungi dan mendampingi serta pengawasan,” ujarnya.

Kasus di atas memang patut disesali, lantaran kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya semacam fenomena gunung es.

Sebelumnya, kasus tiga beradik yang dicabuli pamannya di Pontianak Utara dan hingga saat ini juga belum tuntas.

Leave a Reply