Tak Punya Uang untuk Seminar, Mahasiswa Unismuh Diancam Sanksi Akademik

Kampus UNISMUH Makassar

Kampus UNISMUH Makassar

Makassar, PANRITA.News – Ratusan Mahasiswa mengkritik kebijakan petinggi Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Prodi Jurusan Sosiologi lantaran dianggap mengambil kebijakan sepihak yang mengenakan biaya 150 Ribu untuk mengikuti kegiatan Seminar Workshop dan berupa ancaman akademik. Hal itu sehingga dianggap adanya indikasi dugaan mencari keuntungan.

“Kami kritik dengan alasan jelas. Kami diminta untuk ikut seminar oleh sekertaris jurusan prodi sosiologi dan dosen pengajar Jamaluddin Arifin di kelas lain yang adanya dugaan dipaksa membayar. Kami dari tiga kelas, masih tanyakan soalnya mahal sekali. Disuruh bayar 150 ribu. Katanya dosen pembayaran itu untuk konsumsi, snack, makan siang, sertifikat dan gedung. Tapi kan kalau perhitungan kami, dari 220 orang mahasiswa di jurusan sekitar 30 juta lebih. Tapi setelah dihitung itu tidak lebih dari 10 juta untuk tanggung itu semua. Nah 20 juta lagi dikemanakan. Apalagi, seminarnya cuma dalam kampusji,” ungkap perwakilan mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya, Jumat (2/11/2018).

Selain dari mahalnya, mahasiswa ini juga pertimbangan kedepannya seperti pembelian buku bimbingan skripsi, dan konsumsi pada saat penelitian. Selain itu, setelah beberapa kali mendiskusikan persoalan ini tidak mendapat kejelasan dari pihak petinggi Jurusan Prodi Sosiologi, khususnya Ketua Jurusan bahkan ia sempat mendapat ancaman dari Sekjur dan Dosen Jamaluddin Arifin.

“Beberapa kali bicara sama dekan. Tapi katanya, menghadap ke ketua jurusan. Tapi saat saya menghadap, kedengarannya ini ketua jurusan tidak tahu soal ancaman ke mahasiswa berupa pemberian nilai buruk, pengurusan berkas dipersulit dan mengulang pengajuan judul tahun depan. Disini juga dekan, serasa tidak mewakili kami, apakah fakultas (dekan) dan ketua jurusan tidak tahu atau memihak ke Sekertaris jurusan. Begini, kalau memang itu pembayaran diwajibkan dan seminar tapi kenapa dosen-dosen yang terlibat sebagai pembimbing yang jelas-jelasmi dia beri nilai dan mengsahkan judul nantinya, itu tidak menyarankanji wajib seminar, membayar dan tidak mengancam-ancamji mau diberi nilai buruk,” bebernya.

Setelah berhembus wacana akan melakukan aksi demonstrasi, mahasiswa jurusan sosiologi ini menurutnya mendapat perlakuan kasar dan dipertemukan dengan petinggi jurusan sosiologi untuk membicarakan lebih lanjut soal seminar yang akan mereka ikuti.

“Saat kami ketemu dengan petinggi jurusan sosiologi tadi sore (2/11/2018), yang hadir itu Dosen Jamaluddin Arifin dan sekjur. Disini kentara ada dugaan permainan. Yang sebelumnya kami diancam-ancam, ternyata berubah. Dia bilang, mahasiswa yang tidak ikut seminar apalagi yang protes karena soal bayarnya, kalian bisa ikut secara gratis. Mungkin karena takut didemo, setelah itu saat ada ketua jurusan sosiologi, pendapat sekjur dan dosen jamaluddin Arifin berubah lagi dan menyangkal bukti adanya ancamannya di WhatsApp dan katakan ini pembayaran untuk bersama-sama memperbaiki dan meningkatkan akreditasi sosiologi. Ini yang mana benar, terlihat jelasmi disini ada dugaan permainan,” bebernya.

Kekeliruan ini juga ditanggapi Alumni Mahasisaa Jurusan Sosiologi oleh Oca, menurut Oca bahwa hal yang seperti ini tidak pernah terjadi semenjak masih aktif kuliah di Unismuh Makassar, baik dalam kewajiban mengikuti seminar, pembayaran apalagi berupa ancaman.

“Saya alumni di jurusan sosiologi, namun hal seperti ini baru saja terjadi. Dan saya dengar bahwa sekertaris jurusan baru saja menjabat telah menerapkan kebijakan ini yang dijurusan FKIP lainnya tidak ada seperti ini. Ini baru awal, jika dibiarkan, maka jangan sampai indikasi adanya dugaan pemerasan terus berlanjut kepada mahasiswa. Saya harap petinggi jurusan sosiologi untuk mengambil solusi secepatnya. Jika tidak, mungkin saja mahasiswa akan mengambil jalan yang dianggap benar. Ini tentu dapat mencemarkan nama baik jurusan dan umumnya Unismuh Makassar, jika sampai terdengar ke pusat,” terangnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh alumni mahasiswa jurusan Sosiologi lainnya yakni Ratih. Menurut Ratih bahwa dirinya yang berstatus alumni dan tidak aktif lagi, telah terdengar. Apalagi jika permasalahan ini masih terus dilanjutkan, tentunya memberatkan bagi pihak Unismuh sendiri.

“Saya yang sudah lama tidak berada dalam kampus, telah mendengar masalah ini. Bagaimana jika masalah ini dibiarkan. Sebagai alumni, harapan saya akreditasi kampus meningkat sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan kualitas mahasiswa dengan penyelesaian secara baik dengan keterlibatan adik-adik mahasiswa dalam penyusunan kebijakan, agar hal-hal yang tidak kita inginkan bersama itu terjadi seperti penerimaan mahasisawa kedepannya atau keterlibatan mahasiswa dalam berlembaga untuk menyukseskan program jurusan diharapkan tidak tersendak. Ini ratusan mahasiswa, saya tidak bisa membayangkan jika mereka bergerak dan isu ini sampai ke permukaan,”. harapnya.

Diketahui akhir pembayaran mengikut seminar tersebut pada 30 Oktober 2018 dan dimulai pada 9 November setelah mengalami pengunduran pada tanggal 8. Mahasiswa yang telah mengikuti seminar dengan bukti sertifikat diperbolehkan untuk mengajukan judul.(*/Rilis)

Tinggalkan Komentar