Aksi Demonstrasi di Nikaragua Tewaskan 197 Jiwa

Seorang mahasiswa terjatuh terkena tembakan peluru karet saat aksi demonstrasi di Nikaragua
Seorang mahasiswa terjatuh terkena tembakan peluru karet saat aksi demonstrasi di Nikaragua, Managua. Foto: Istimewa.

Managua, PANRITA.News – Aksi demonstrasi di Nikaragua mengakibatkan korban tewas mencapai 197 jiwa. Atas kejadian tersebut, Pemerintah Nikaragua menyalahkan pihak oposisi. Ia menuduh pihak oposisi telah melakukan kudeta yang digerakkan oleh terorisme terhadap Presiden Daniel Ortega.

Tuduhan itu dilontarkan oleh istri presiden Ortega sekaligus Wakil Presiden dan kepala juru bicara pemerintah, Rosario Murillo.

Ia pun bersumpah bahwa pengunjuk rasa dan simpatisan oposisi yang telah dihukum atas kerusuhan demonstrasi di Nikaragua, akan membayar kejahatan mereka.

Korban tewas 197 yang dimajukan oleh pemerintah Ortega jauh lebih rendah daripada jumlah korban yang diberikan oleh organisasi hak asasi manusia di negara itu.

Salah satu organisasi terkemuka, Pusat Hak Asasi Manusia Nikaragua, mengatakan 317 orang tewas dan sedikitnya 2.000 orang terluka dalam penindasan brutal oleh pasukan keamanan Ortega terhadap protes.

Namun data itu dibantah oleh Murillo.

“Angka-angka itu dimanipulasi untuk merusak citra pemerintah Nikaragua,” tegas Murillo seperti dikutip dari AFP, Rabu (8/8/2018).

Ia menghitung 22 petugas polisi tewas, tetapi hanya lima demonstran mahasiswa yang meregang nyawa.

Lebih dari 130 tokoh oposisi telah ditangkap. Mereka dituduh melakukan pelanggaran terorisme di bawah undang-undang baru dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara.

Ortega, dalam kesibukan wawancara dengan media asing akhir bulan lalu, menegaskan bahwa kerusuhan telah berakhir. Dan negara itu berjalan normal. Ia mengatakan gejolak itu digerakkan oleh Amerika Serikat (AS).

Namun para tokoh oposisi mengatakan mereka akan mempertahankan aksi protes untuk menuntut Ortega dan Murillo mundur.

Mereka bertekad untuk melihat Nikaragua yang bebas, seorang pemimpin oposisi mahasiswa, Lesther Aleman, 20, mengatakan kepada AFP dalam sebuah wawancara minggu ini.

Mahasiswa universitas lain di Managua yang tidak bersedia menyebutkan identitasnya karena takut akan aksi balasan pemerintah, mengatakan: “Banyak kawan kami telah ditangkap. Kami tahu mereka disiksa, bahwa mereka ditahan tanpa makan.”