Marak Teror Bom, Ketua HMI Sulselbar: BIN dan Kapolri Harus Dievaluasi

Makassar, PANRITA.News – Ketua Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Selatan dan Barat, Taufiq Husaini mendesak pemerintah untuk memberikan rasa nyaman dan aman terhadap kehidupan masyarakat. Hal tersebut disampaikan pasca terjadinya ledakan bom di beberapa titik di Surabaya.

Menurutnya, apa yang dilakukan kelompok atau oknum yang mengacaukan kedamaian di NKRI merupakan sebuah kebiadaban yang tak satu pun agama bisa membenarkan lagkah-langkah yang dilakukan oleh kelompok teroris.

“Kami meminta kepada pemerintah untuk bisa memberikan rasa nyaman dan aman pasca ledakan bom di Surabaya,” Kata Taufiq Husaini.

Kejadian yang menghebohkan Kota Surabaya Minggu pagi adalah sebuah bahan bagi pemerintah untuk mengevaluasi kinerja Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kapolri. Pasalnya, kejadian serupa telah berulang kali terjadi dan membuktikan fungsi inteligent yang tidak berjalan.

“Sepatutnya sebagai penegak hukum jangan membiarkan rakyat mengandai-andai atas peristiwa kemanusiaan yang terjadi di atas negara hukum ini. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang dalam tempo waktu yang singkat. Dari peristiwa di MAKO BRIMOB hingga peristiwa pengeboman Gereja di Surabaya,” lanjutnya.

Lebih jauh, penegak hukum papar Taufiq, harus melihat pentingnya nilai-nilai universal dari ajaran keagamaan sebagai pemecahan sebuah masalah atas peristiwa-peristiwa kebengisan yang terjadi. Bukan justru mengkambing hitamkan agama atas buruknya penegakkan hukum.

Nilai-nilai keagamaan, adat istiadat, kebudayaan masyarakat Indonesia merupakan sesuatu yang bersifat integral. Maka hukum selayaknya mengakui akar nilai ini bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.

UUD 1945 dan Pancasila sangat mengakui tingginya tingkat moralitas dari nilai tersebut sebagai cikal bakal moralitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rentetan peristiwa beberapa waktu terakhir disimpulkan mantan Presiden Mahasiswa UIN Alauddin Makassar ini sebagai kegagalan penegak hukum mengangkat dan mengkampanyekan kandungan nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

“Kegagalan itu semestinya jadi bahan refleksi dan evaluasi. Bukan justru menghabiskan energi untuk menampilkan kesucian istitusi di muka publik. Rakyat Indonesia menanti kepastian hukum agar tidak menafsir kejadian demi kejadian sebagai pertentangan agama atas labelisasi “terorisme” sebagai akar dari gulungan peristiwa yang terjadi selama ini,” Tambahnya.

Bahkan Taufiq menilai bahwa rakyat Indonesia saat ini telah jenuh dengan format “terorisme” dan tragedi pengeboman yang sama di Indonesia.

Yang paling penting harapannya saat ini adalah bagaimana penegakan hukum membuktikan ke muka publik tentang kepastian hukum dan kenyamanan masyarakat dalam kehiduapnnya.

“Kami sebagai kelompok muda kita senantiasa mengkampanyekan soal toleransi dan warisan nilai dari akar tradisi kerakyatan Indonesia tetapi rangkaian peristiwa ini mengganggu usaha kita dalam upaya mengangkat derajat rakyat Indonesia.” tutupnya.(**)

Editor: Aswin

Comment