Jakarta, PANRITA.News — Jalur urat nadi pasokan energi dunia di Selat Hormuz dilaporkan mengalami pembatasan lalu lintas kapal yang cukup ketat akibat eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah.
Kondisi mencekam ini terjadi tepat saat harga minyak mentah dunia kembali meroket dan sukses menembus level psikologis baru di atas 100 dollar AS (sekitar Rp 1,79 juta) per barel.
Data awal yang dirilis oleh perusahaan analisis pelayaran global, Kpler, menunjukkan penurunan aktivitas yang sangat drastis.
Sepanjang periode 22 Juli hingga 24 Juli 2026, tercatat rata-rata hanya ada tiga kapal per hari yang berani melintasi Selat Hormuz.
Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini merupakan rute paling strategis bagi ekspor minyak mentah dunia, sehingga setiap gangguan keamanan di titik ini langsung mengancam stabilitas pasokan energi global.
Di tengah situasi yang penuh risiko tersebut, pergerakan sejumlah kapal tanker raksasa kini menjadi sorotan pasar keuangan.
Pada perdagangan Jumat (24/7/2026), kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) bernama Romania Prosperity terpantau tertahan dan mengapung di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab, tepat di luar pintu masuk Selat Hormuz.
Direktur energy futures Mizuho, Bob Yawger, menjelaskan bahwa kombinasi antara risiko militer dan hambatan logistik di jalur laut menjadi motor utama meroketnya harga komoditas ini.
“Meningkatnya potensi perang darat serta terganggunya lalu lintas kapal tanker di dua jalur pelayaran utama dunia mendorong harga minyak mendekati rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir,” kata Bob Yawger dalam keterangannya.
Ia juga menambahkan peringatan mengenai arah pergerakan harga ke depan jika eskalasi terus memburuk. “Apabila gangguan pasokan terus berlanjut, harga minyak berpotensi kembali menguji level tertinggi sekitar US$ 126,41 per barel,” ujarnya.
Kapal raksasa tersebut diketahui mengangkut minyak mentah jenis Murban, namun dokumen tujuan akhir pelayarannya masih belum diketahui.
Pada hari yang sama, dua kapal pengangkut komoditas dalam kondisi kosong dilaporkan memilih keluar dari Selat Hormuz menuju Teluk Persia demi keamanan.
Sehari sebelumnya, Kamis (23/7/2026), kapal tanker VLCC New Giant yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Basrah asal Irak dilaporkan berhasil meloloskan diri melintasi Selat Hormuz.
Kapal tersebut kini tengah berlayar dan dijadwalkan tiba di Pelabuhan Rizhao, China, pada pertengahan Agustus mendatang. Bersamaan dengan itu, dua kapal lainnya termasuk VLCC Noble yang sedang tidak membawa muatan terpantau memasuki kawasan Teluk.
Terbatasnya pergerakan kapal di Selat Hormuz ini berbanding lurus dengan intensitas militer yang terus meningkat di kawasan darat.
Komando militer Amerika Serikat (AS) secara resmi mengumumkan bahwa pihaknya baru saja menyelesaikan gelombang serangan udara malam ke-13 secara berturut-turut terhadap sejumlah target di dalam wilayah Iran.
Aktivitas Bab el-Mandeb Justru Meningkat
Pemandangan berbeda justru terlihat di titik nadi pelayaran lainnya, yakni Selat Bab el-Mandeb.
Meski sempat diwarnai isu keamanan, data Kpler justru mencatat adanya lonjakan aktivitas pelayaran di selat tersebut dengan total 32 kapal komoditas yang melintas pada Kamis (23/7/2026), naik dari hari sebelumnya yang hanya 26 kapal.
Memasuki hari Jumat (24/7/2026), pergerakan kapal masih terpantau lambat di mana baru dua kapal yang tercatat melintas hingga sore hari.
Dari total pergerakan di Bab el-Mandeb baru-baru ini, sebanyak 14 kapal dilaporkan bergerak masuk menuju Laut Merah, sementara 18 kapal lainnya memilih keluar menuju Teluk Aden.
Menariknya, dari 18 kapal yang bergerak keluar melalui Selat Bab el-Mandeb tersebut, sembilan di antaranya merupakan kapal pengangkut minyak mentah komersial.
Termasuk di dalamnya adalah dua kapal tanker super (supertanker) milik perusahaan China yang membawa muatan minyak penuh dan saat ini sedang berlayar langsung menuju Negeri Tirai Bambu.

Comment