Jakarta, PANRITA.News – Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menegaskan bahwa data yang dikumpulkan badan pengawas nuklir PBB mengenai program nuklir Iran tidak cukup untuk dijadikan dalih serangan militer.
“Keputusan untuk menyerang adalah urusan politik, bukan kesimpulan teknis dari kami,” ujar Grossi dikutip dari CNN Global, Sabtu (21/6/2025).
Pernyataan ini muncul setelah Israel meluncurkan gelombang serangan pertama terhadap Iran, dengan mengutip laporan IAEA yang menyebut bahwa Iran memperkaya uranium ke level yang melampaui batas negara-negara tanpa program senjata nuklir. Hal ini menurutnya melanggar komitmen Iran terhadap perjanjian nonproliferasi nuklir.
Namun, Grossi menegaskan bahwa tidak ada bukti bahwa Iran secara aktif mengembangkan senjata nuklir.
“Kami belum melihat adanya program terstruktur yang mengarah ke sana,” tegasnya.
Namun, Presiden AS, Donald Trump, juga ikut bersuara, menyebut bahwa Iran sudah “sangat dekat” dengan senjata nuklir.
Para analis menilai bahwa Israel kemungkinan membutuhkan bantuan militer AS untuk menghancurkan situs nuklir Fordow yang terletak jauh di dalam pegunungan, lokasi yang hanya bisa dijangkau oleh bom ‘penghancur bunker’ milik AS.
IAEA: Diplomasi Satu-satunya Jalan

Saat ditanya tentang potensi dampak dari serangan terhadap Fordow, Grossi memberikan peringatan keras.
“Diplomasi adalah satu-satunya jalan. Fasilitas bisa dihancurkan, tapi pengetahuan dan kemajuan teknologi tak bisa dimusnahkan dengan bom,” katanya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, militer Israel mengklaim telah membunuh sembilan ilmuwan nuklir Iran dalam serangan baru-baru ini. Iran mengonfirmasi adanya korban di kalangan ilmuwan, meski tak menyebutkan angka pasti.
Grossi juga membantah tudingan Iran bahwa IAEA menyampaikan “narasi menyesatkan” soal program nuklir mereka. Ia menegaskan bahwa badan yang dipimpinnya siap untuk terus memantau dan mengevaluasi perkembangan terbaru, termasuk dampak dari serangan terhadap situs nuklir Iran.

Comment