Makassar, PANRITA.News – Seorang guru Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Barru berhasil menyelesaikan program doktor di Pascasarjana (PPs) Universitas Hasanuddin (Unhas)
Dia adalah Dr. Nurdiati, M.Pd, guru SD Negeri Bottolampe Kecamatan Tanete Riaja, Barru. Ibu tiga orang anak ini mencapai gelar doktor pada program studi pendidikan antropologi PPs Unhas.
Usai melakukan penelitian di SMP Negeri 3 Tanete Rilaudengan dengan judul “To Madeceng Pangampe, Studi Etnografi tentang pembentukan Karakter pada Anak Didik di Kabupaten Barru”, Nurdiati akhirnya berhasil menggelar sidang promosi doktor di Aula Prof Syukur Fakultas FISIP UNHAS, Rabu,(26/12/2018)
Nurdiati lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, usai diuji oleh beberapa Promotor. Diantaranya, Prof Dr. Mahmud Tang. MA (Promotor), Prof. Dr. Yamin Sani, MA (Co Promotor 1) dan Prof Dr. Sufriadi Hamdat, MA (Co Promotor 2).
Adapun nama-nama guru besar lain yang turut menjadi penguji, diantaranya Prof Dr. Hamka Naping, MA, Prof. dr. Pawennari Hijjang, MA, Dr. Safriadi, S.IP. M.Si dan Prof. Dr. Darman Manda, M.Si (penguji eksternal).
Usai menjalani promosi, Nurdiati mengungkapkan motivasinya melanjutkan studinya.
“Sejak saya masih kecil saya sering dikucilkan dan diremehkan mungkin karena orang tua saya kurang mampu, maka dari itu saya termotivasi untuk menjadi seseorang yang bisa merubah kondisi kehidupan, dan Alhamdulillah sekarang dapat tercapai atas izin Allah,” ungkapnya.
“Saya sempat mendengar waktu saya masih kecil, ada seseorang yang mengejek orang tua saya, ia mengatakan tidak usah kasi sekolah anak anak mu dimana kamu mau ambil uang” tambahnya.
“Disitulah saya merasa sedih dan ingin membuktikan bahwa orang miskin tidak selamanya tak mampu melanjutkan pendidikan, yang penting ada ikhtiar dan do’a, kalau Allah menghendaki tidak ada yang tidak mungkin,” jelasnya.
Selain itu, baginya, pencapaian ini merupakan persembahan terhadap orang-orang kesayangannya, terkhusus orang tua nya.
“Prestasi ini saya persembahkan untuk Ibu saya yg telah meninggal di Mekkah th 2004. Andai beliau masih ada, beliau akan sangat bahagia menyaksikan keberhasilan saya hari ini. Pasca ibu saya meninggal, saya memiliki orang tua sambung, dia keluarga suami saya tapi sama persis dengan ayah kandungku, H. Baharuddin Maggangka, beliau selalu ada mendampingi saya di Barru, menggantikan ayah kandung saya yang tinggal di Gowa,” curhatnya.
Dia mengaku tidak mudah untuk meraih gelar ini. Baginya, butuh pengorbanan waktu, tenaga, biaya bahkan air mata.
“Saya sudah beberapa kali ingin mundur, berhenti, karena perasaan capek dan sudah tidak bisa berpikir, sumpek, tapi beruntung saya punya orang-orang yang perhatian dan terus mensupport saya, ayah, ibu, suami, anak-anak, saudara dan sahabat saya yg tak hentinya memberi dukungan” ungkapnya.
Selain menjadi seorang akademisi, ia mengaku akan tetap memprioritaskan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.
“Manajemen waktu itu sangat penting kita harus pintar-pintar dalam mengatur waktu kapan waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan kapan untuk pendidikan, saya berharap ke depan semoga semua sekolah bisa mengaplikasikan ke dalam seluruh aspek kegiatan dan pembelajaran nilai-nilai budaya lokal dalam pembentukan karakter anak,” tutupnya.

Comment