Gowa, PANRITA.News — Upaya penyelamatan Kapten Ashari Samadikun (33), nahkoda asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang disandera perompak di perairan Somalia masih menemui jalan buntu.
Ketidakjelasan pihak negosiator dan nilai uang tebusan yang terus berubah-ubah menjadi hambatan utama dalam proses pembebasan ini.
Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada kontak resmi maupun perwakilan kelompok penyandera yang dapat dijadikan mitra negosiasi yang valid.
“Daripada laporan yang kami terima, tidak jelas contact person atau lembaga yang bertanggung jawab untuk diajak bernegosiasi. Jadi para pihaknya tidak jelas,” ujar Syamsu Rizal dikutip Rabu (29/7/2026).
Selain kebuntuan komunikasi, lokasi penyanderaan yang terus berubah-ubah menyulitkan proses pelacakan. Hambatan finansial juga diperparah oleh nilai tebusan yang tidak pasti dan terus melonjak drastis.
Menurut Syamsu Rizal, kelompok perompak awalnya meminta uang tebusan sebesar 2 juta dolar AS. Namun, nominal tersebut kemudian naik menjadi 5 juta dolar AS dan informasi belakangan menyebutkan tuntutan telah mencapai 10 juta dolar AS.
Sementara itu, pihak perusahaan pemilik kapal MT Honour 25 dilaporkan memiliki kemampuan finansial yang sangat terbatas untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Melihat situasi kritis ini, Syamsu Rizal mendesak pemerintah untuk segera mengambil peran lebih besar dengan membentuk satuan tugas khusus (task force).
“Kita ingin pemerintah hadir dengan membentuk task force supaya informasi mengenai tuntutan tebusan menjadi jelas. Tetapi yang paling penting adalah keselamatan WNI kita,” tegas Syamsu Rizal.
Kapten Ashari merupakan salah satu dari 19 awak kapal MT Honour 25 yang telah disandera selama kurang lebih tiga bulan. Dari total kru tersebut, terdapat empat warga negara Indonesia (WNI).
Dalam rapat bersama TNI dan Kementerian Luar Negeri, Syamsu Rizal memperlihatkan bukti video dari ayah korban, Syamsuddin Dg Ngawing, yang merekam kondisi memprihatinkan para sandera.
Di tengah pengawasan ketat kelompok bersenjata, para awak kapal mengalami krisis air bersih dan harus menyaring air keruh menggunakan botol mineral sebelum diminum.
Ayah Ashari, Syamsuddin Dg Ngawing, menyatakan kekecewaannya karena belum melihat adanya perkembangan nyata maupun kepedulian dari pihak perusahaan terhadap nasib para kru di atas kapal.
Komunikasi dengan anaknya kini juga semakin sulit dilakukan seiring menipisnya persediaan logistik.

Comment