Jakarta, PANRITA.News – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara tegas menolak seruan Presiden AS Donald Trump yang menuntut penyerahan total Iran, di saat ribuan warga berbondong-bondong meninggalkan Teheran untuk menyelamatkan diri dari gempuran udara Israel yang semakin brutal.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, penampilan publik pertamanya sejak Jumat, Khamenei, yang kini berusia 86 tahun, mengingatkan bahwa setiap langkah militer dari AS akan membawa konsekuensi besar yang tak bisa dipulihkan.
“Amerika harus sadar bahwa mengancam Iran hanya akan membawa bencana,” tegas Khamenei, dikutip dari Reuters, (19/6/2025)
“Bangsa kami tidak akan pernah tunduk pada bahasa ancaman. Sejarah Iran penuh dengan perlawanan,” lanjutnya.
Sementara itu, Trump yang awalnya mendorong penyelesaian diplomatik kini tampak berubah haluan. Dalam unggahan media sosial pada Selasa malam, ia bahkan mengancam akan membunuh Khamenei dan menuntut Iran untuk “MENYERAH TANPA SYARAT!”
Menurut sumber yang mengetahui percakapan di lingkaran dalam Gedung Putih, Trump dan para penasihatnya sedang mempertimbangkan opsi militer, termasuk kemungkinan bergabung dengan Israel untuk menyerang fasilitas nuklir Iran.
Israel sendiri telah meningkatkan serangan. Militer mereka mengonfirmasi bahwa 50 jet tempur menggempur sekitar 20 titik strategis di Teheran semalam, menargetkan lokasi produksi rudal dan bahan bakunya. Warga pun diminta segera mengungsi dari wilayah ibu kota demi keselamatan.
Akibatnya, jalan keluar Teheran macet total. Seorang warga bernama Arezou (31) mengaku sudah mengungsi ke Lavasan.
“Kami tidak akan kembali selama perang ini masih berkecamuk. Rumah teman saya hancur, saudara laki-lakinya terluka. Kami hanya warga biasa. Kenapa kami yang harus menanggung beban dari keputusan rezim?” keluhnya.
Di sisi lain, warga Israel juga hidup dalam ketegangan. Sirene peringatan meraung, dan stasiun kereta di Ramat Gan berubah jadi tempat pengungsian darurat. Kasur, kursi lipat, dan botol air berserakan, jadi saksi kepanikan yang melanda.
“Saya takut dan stres. Kota kami padat dan bangunannya tua. Tidak ada tempat aman,” ujar Tamar Weiss sambil memeluk bayinya yang baru berusia empat bulan.
Dunia internasional mulai panik. Kementerian luar negeri Rusia memperingatkan bahwa situasi ini sudah berjarak milimeter dari bencana global.
Menteri Luar Negeri Jerman pun mendesak Iran untuk memberikan jaminan bahwa mereka tak berniat membuat senjata nuklir, dan mau membuka jalan menuju solusi damai.


Comment