Jakarta, PANRITA.News – Langit Teheran mendadak berubah jadi medan perang Iran vs Israel pada Jumat dini hari (13/6/2025). Israel meluncurkan serangan udara mengejutkan ke jantung Iran.
Ledakan hebat mengguncang ibu kota, menyusul klaim Israel bahwa mereka menargetkan fasilitas nuklir dan militer strategis milik Iran.
Serangan ini datang hanya sehari setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) secara resmi mengecam Iran karena dianggap menghalangi kerja para inspektur nuklirnya.
Dunia langsung menahan napas, menyadari ketegangan dua musuh bebuyutan Iran vs Israel bisa meledak kapan saja. Dan ledakan itu benar-benar terjadi.
Tak tinggal diam, Iran langsung melancarkan serangan balasan dalam skala besar. Ratusan drone diluncurkan ke arah Israel pada hari yang sama. Aksi ini menandai eskalasi paling serius dalam konflik Iran-Israel dalam beberapa dekade terakhir.
“Seluruh sistem pertahanan udara kami kini siaga penuh,” tegas Juru Bicara Militer Israel, Effie Defrin, seperti dikutip CNN World.
Ia memperingatkan bahwa serangan balasan Iran ini bukan insiden biasa, melainkan lonjakan konflik ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Kami bersiap menghadapi jam-jam yang sulit ke depan,” ujarnya serius.
Api Lama Iran vs Israel yang Kembali Menyala
Permusuhan antara Iran vs Israel bukan cerita baru. Ini adalah kisah panjang yang dimulai dari hubungan hangat, berubah menjadi kebencian ideologis. Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran dan Israel bahkan sempat jadi mitra dekat.
Namun segalanya berubah drastis saat Ayatollah Khomeini menggulingkan Shah dan mendirikan Republik Islam. Israel pun dijuluki “setan kecil” dan dijadikan simbol musuh dalam retorika rezim baru.
Sejak saat itu, Iran memutus hubungan diplomatik dengan Israel, menyerahkan kantor Kedutaan Israel ke PLO, dan menjadikan dukungan terhadap Palestina sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijakan luar negerinya.
Antara Roket dan Retorika
Bukan cuma saling sindir lewat mikrofon, Iran vs Israel sudah lama terlibat dalam apa yang disebut “perang bayangan.” Dari serangan udara tersembunyi di Suriah, pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, hingga sabotase kapal di laut, keduanya sudah saling hantam tanpa pernah benar-benar mengaku secara terbuka.
Iran mengandalkan jaringan kelompok bersenjata seperti Hizbullah dan milisi proksi lainnya. Sementara Israel memilih operasi intelijen dan serangan presisi untuk meredam ancaman sebelum sampai ke wilayahnya.
Gaza: Titik Didih Baru
Ketegangan Iran vs Israel meningkat tajam sejak serangan mengejutkan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023. Konflik Gaza memicu domino kekerasan yang meluas ke Lebanon, Suriah, Irak, dan bahkan Yaman, semuanya melibatkan kelompok pro-Iran.
Puncaknya terjadi saat Israel menyerang Konsulat Iran di Damaskus, menewaskan perwira tinggi Pasukan Quds. Iran pun membalas langsung, menembakkan drone dan rudal, langkah yang menghapus batas antara perang bayangan dan konfrontasi langsung.
Fase Baru, Bahaya Nyata
Kini, Israel menyeberangi garis merah dengan menyerang langsung wilayah Iran. Ini bukan sekadar aksi militer, tapi sinyal bahwa konflik dua kekuatan besar di Timur Tengah telah memasuki fase baru yang jauh lebih berbahaya.
Jika tidak segera diredam, dunia mungkin akan menyaksikan babak kelam dari sejarah modern Timur Tengah, di mana pertarungan ideologi, ambisi nuklir, dan dendam sejarah meledak menjadi perang terbuka.

Comment