Cerita Mahasiswa Indonesia di Tengah Lockdown Italia karena Virus Corona

Erni Yusnita, Mahasiswa Program Doktoral di Milan, Italia. (Ist)

Milan, PANRITA.News – Erni Yusnita, Mahasiswa asal Indonesia yang saat ini menempuh program doktoral di Milan, Italia berbagi cerita tentang kasus virus Corona atau Covid-19 di Negara tersebut.

Mahasiswa asal Makassar ini menceritakan bahwa 85 persen korban jiwa akibat Covid-19 di negara tersebut adalah orang tua yang berumur 70 tahun ke atas atau rata-rata 80 tahun.

“Karena jutaan di sini orang tuanya, jadi banyak yang meninggal akibat kondisi tubuh yang lemah. Selain itu karena keterlambatan lokcdown,” kata Erni melalui video conference, Sabtu (4/4/2020) malam.

Akan tetapi, yang menjadi kekhawatiran menurut Erni, umur 70 tahunan orang di italia sama dengan 40 tahunan di Indonesia.

“Nah, itu yang saya khawatirkan di Indonesia, hal itu diakibatkan adalah pola makan dan pola hidup yang berbeda, dan itulah yang membuat saya sedih dan membuat saya khawatir di Indonesia,” kata Echi sapaan akrabnya.

Erni pun mengungkapkan bahwa, pemerintah Italia saat ini terus berupaya untuk menekan penyebaran kasus Covid-19 dengan “Lockdown”.

Italia kata Erni, yang merupakan negara pertama di eropa yang mengumumkan kasus Covid-19 berani membuat keputusan lockdown dan mengambil resiko kehancuran ekonomi demi melindungi masyarakatnya.

Seluruh Italia hingga saat ini diisolasi sampai batas waktu yang belum ditentukan akan tetapi pemerintah juga memberikan jaminan kebutuhan masyarakatnya.

“Semenjak Lockdown resmi sejak tanggal 11, seperti salah salah satu wilayah di Italia yakni di Lombardia, angka kasus virus Corona mulai menurun. Selain itu pemerintah yang memaksa masyarakat untuk tinggal di rumah namun pemerintah juga menjamin kehidupannya,” ujar Erni.

Erni mengatakan bahwa pertama kali saat Italia mengambil keputusan untuk lockdown, Italia bahkan diketawai dan dicemooh di seluruh Uni Eropa karena itu dianggap tindakan bunuh diri. “Akan tetapi setelah jerman kena, prancis kena, belanda kena apalagi UK, sekarang mereka semua angkat jempol untuk Italia yang mencatat sejarah dalam pengelolaan bencana seperti ini, dan sekarang Italia saat ini menjadi contoh dalam hal penanganan Covid-19,” jelasnya.

Erni juga menegaskan bahwa, walaupun memang banyak meninggal setiap hari karena keterlambatan lokcdown, akan tetapi kemudian kebijakan lockdown tersebut bukanlah sebabnya.

“Perlu digaris bawahi bahwa kebijakan tersebut bukanlah kegagalan yang mengakibatkan banyak kematian,” ujarnya.

Selain itu, Erni juga mengingatkan soal banyaknya hoax yang mengatasnamakan Italia dan beredar di Indonesia hingga membuat khawatir.

“Terkait video bunuh diri, video hambur uang di jalan, mayat dibuang dari truk hingga dikubur massal dengan perlakuan buruk di Italia, itu semuanya benar-benar hoax, dan banyak berita hoax lainnya mengatasnamakan Italia,” ungkapnya.

Terkahir, Erni membeberkan, ada hal yang bisa dibandingkan soal kasus virus Corona di Italia dengan di Indonesia.

“10 ribu meninggal akibat covid-19, 55 orang para medisnya yang meninggak sedangkan yang saya dengar di Indonesia, 114 yang meninggal dan 11 orang mi para medisnya yang meninggal. Kita bisa bayangkan kalau Lockdown tidak diberlakukan di Indonesia, Selain itu, Italia yang merupakan salah satu negara yang paling hebat dan terbaik di dunia fasilitas kesehatannya, nah, dalam kondisi terbaik saja Italia masih keteteran apalagi di Indonesia,” pungkas Erni.

Erni pun juga mengimbau agar masyarakat di Indonesia tetap di rumah saja dan senantiasa menjaga kesehatan di Tengah kondisi seperti ini

“Tinggal di rumah aja, Jangan ke mana-mana, kita pasti semua bisa,” tutup Erni.

Tinggalkan Komentar