Air, Antara Berkah dan Petaka

PANRITA.News – Menjelang akhir Januari 2019, perhatian publik tertuju pada musibah banjir di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Rekaman video yang merekam derasnya arus air yang menghancurkan berbagai fasilitas yang ditemuinya serta berbagai bencana yang diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi, tersebar dengan cepat melalui berbagai media sosial.

Ketakutan terhadap peristiwa-peristiwa besar yang disebabkan oleh air menghinggapi masyarakat saat itu. Ditambah lagi dengan informasi yang beredar akan buruknya cuaca dan adanya imbauan untuk waspada bahkan siaga.

Air, memang memiliki sejarah kelam terhadap bencana-bencana besar yang pernah menimpa ummat manusia. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana air yang berwujud tsunami meluluhlantakkan kehidupan manusia di beberapa wilayah di Indonesia, begitupula di berbagai belahan dunia lainnya.

Tsunami, banjir, dan berbagai bencana yang disebabkan oleh air memang mematikan. Tidak hanya kematian manusia, tapi kehancuran infrastruktur dan kelumpuhan aktivitas secara masif. Dihadapan air, hampir tak ada kekuatan dan teknologi yang canggih, semua dapat dimusnahkan dalam tempo yang singkat.

Bukan hanya di abad ini, air telah menjadi salah satu sumber kematian massal sejak zaman dahulu. Ummatnya Nabi Nuh, Fir’aun bersama pasukannya, dan bangsa Saba’ adalah contoh kebinasaan oleh air yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Tragedi kemusnahan ummat Nabi Nuh adalah contoh bencana dahsyat melalui hujan dengan curah yang sangat tinggi, “Lalu kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah” (QS.54: 11).

Dalam ayat ini menggunakan kata “Fatahna” yang merupakan padanan kata dari kata “Fataha-Yaftahu” yang artinya membuka, ini dapat menjelaskan bahwa seakan-akan langit terbuka menumpahkan air hujan.

Berbeda dengan ayat yang lain, misalnya menggunakan kata “Nazzala” untuk turunnya hujan pada Surah Qaf ayat 9, dari kata “Nazzala-Yunazzilu” yang memang artinya adalah menurunkan, atau kata “Anzalna” pada Surah Al-Mu’minun ayat 18 dari kata “Anzala-Yunzilu” yang juga artinya adalah meurunkan.

Namun demikian, peristiwa banjir yang melegenda itu bukan hanya bersumber dari air hujan, tapi juga mata air dari bumi, “Dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air, maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan” (QS.54: 12).

Status WASPADA hingga SIAGA bendungan terbesar di Sulawesi Selatan, Bili-bili, beredar cepat melalui situs berita online juga mengingatkan pada peristiwa kehancuran Kaum Saba’. Seperti yang dijelaskan dalam Lubab at-Tafsir Min Ibni Katsir (Penjelasan tafsir QS. Saba’ ayat 15-17) bahwa negeri Saba’ adalah negeri yang makmur dengan kesuburan lahannya karena adanya bendungan besar yang dibangun oleh para raja mereka, sehingga perkebunan mereka menghasilkan pangan yang melimpah.

Namun demikian, bendungan itu pula yang pada akhirnya membinasakan mereka setelah runtuh dan memuntahkan luapan air yang maha dahsyat.

Bukan hanya menjadi sumber bencana besar bagi manusia, bahkan air yang dikandung oleh laut menjadi salah satu rangkaian pemusnahan manusia menjelang hari kiamat, “Dan apabila lautan dijadikan meluap” (QS.81: 6). Karena itu, ada benarnya jika film Kiamat 2012 menjadikan air sebagai salah satu instrumen utama untuk mengakhiri peradaban manusia.

Air Yang Menakutkan, Air Yang Dibutuhkan

Jika ada bangsa yang dikisahkan kehancurannya dengan air, maka ada pula yang dikisahkan kebinasaannya karena kekurangan/ ketiadaan air, contohnya Ashabu ar-Rass.

Seperti yang disebutkan dalam Qashash al-Anbiya bahwa Ashabu ar-Rass mengalami kemusnahan secara massal setelah kekeringan melanda mereka, kehausan hingga tanaman dan pepohonan yang menjadi layu dan kering menjadikan mereka binasa tak satu pun yang tersisa.

Meski air terkadang berubah menjadi sebuah kekuatan besar yang mengerikan, tanpanya, berbagai masalah hingga kematian pun mengancam manusia. Jangankan ketiadaan air, air yang tercemar saja menimbulkan masalah besar bagi manusia. Air yang terhenti mengalir di kran rumah kita, meski dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat membuat kita jengkel bahkan melakukan demonstrasi ke PDAM.

Belum lagi jika kita melihat air bukan lagi sekedar apa yang ada dalam bejana, ember atau kolam, tapi air yang menjadi jalur transportasi, pembangkit listrik, potensi pariwisata, bisnis dan berbagai resources yang terkandung di dalamnya, bahkan dapat menjadi potensi konflik internasional. Karena itu, air bukan lagi hanya sekedar kebutuhan hidup biasa, tapi memang menjadi fitur peradaban manusia.

Lihatlah betapa banyak peradaban-peradaban besar dunia masa lampau yang ditopang oleh air, peradaban Mesopotamia dengan sungai Eufrat dan Tigris, peradaban Mesir Kuno dengan lembah sungai Nil, peradaban India Kuno dengan lembah sungai Indus dan lembah sungai Gangga, peradaban Tiongkok Kuno dengan sungai Kuning atau Hwang-ho, bahkan peradaban Mesoamerika dan Yunani Kuno serta Romawi pun memiliki bagian sejarah yang tak terpisahkan oleh air.

Mesoamerika misalnya di dataran rendah suku Maya Selatan yang terdapat beberapa sungai yang bisa dilalui kapal untuk perdagangan dan transportasi serta sistem irigasi. Yunani, meskipun tidak memiliki lahan pertanian yang subur dari sumber air, tapi letaknya di sekitar Laut Tengah menjadikannya sangat strategis dalam pelayaran, dan dari situlah masyarakat Yunani mengembangkan perekonomian melalui kegiatan pelayaran dan perdagangan, sekali lagi, air!.

Romawi Kuno, memang tak memiliki lembah sungai yang segaung Mesopotamia atau Mesri Kuno, tapi awal peradabannya tak bisa dilepaskan sepenuhnya dari peran sungai Tiber dan sungai Po.

Air, baik yang turun dalam bentuk hujan, maupun yang keluar sebagai mata air memang sebetulnya diciptakan sebagai berkah dan untuk kelestarian hidup manusia dan alam sekitarnya. “Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen” (QS. 50: 9).

Salah satu bentuk keberkahan turunnya hujan adalah mustajabnya doa, “Dua doa yang tidak ditolak: doa ketika azan dan doa ketika hujan turun.”(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Sementara mata air disebutkan dalam Al Qur’an, diantaranya “Dan setelah itu, bumi Dia hamparkan. Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh. (Semua) itu untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu” (QS. 79: 30-33).

Air juga disebutkan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah sebagai syarat pendirian kota, dimana dikatakan bahwa kota sebagai tempat tinggal dan tempat berlindung oleh bangsa-bangsa hendaknya berhampiran dengan sebuah sungai, atau dekat dengan mata air yang bersih dan mengalir sehingga dapat mempermudah kehidupan penduduk.

Selain itu, Ibnu Khaldun juga menyinggung faktor maritim dalam pembangunan sebuah bangsa, seperti pentingnya laut sebagai sarana transaksi perdagangan internasional. Belum lagi jika kita kaitkan kekuatan maritim dalam peran pertahanan dan keamanan negara. Tentang laut dan berbagai peran pentingnya telah disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an.

Pentingnya air sebagai faktor penopang utama peradaban manusia juga dapat dilihat dari sebagian sejarah awal munculnya kehidupan penduduk di Kota Makkah. Sebagaimana disebutkan dalam Qashash al-Anbiya bahwa kisah terbentuknya pemukiman di Kota Makkah berawal ketika orang-orang Jurhum melihat burung-burung yang beterbangan mengitari sumber air, yaitu air zam-zam, tempat dimana Nabi Ismail bersama ibundanya berada. Mereka pun berdatangan dan akhirnya terbentuklah sebuah paguyuban penduduk di Makkah.

Begitulah air menjadi magnet kehidupan bagi manusia. Tidak hanya di dunia, di Syurga pun air menjadi salah satu fasilitas yang disebutkan dalam banyak ayat Al Qur’an dalam bentuk mata air dan sungai-sungai.

Air hujan sebagai berkah di satu tempat sekaligus petaka di tempat lain juga direkam dalam sejarah perang Badar sebagaimana disebutkan oleh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam Al-Rahiq al-Makhtum. Hujan yang turun pada saat itu dirasakan kaum musyrikin sangat lebat sehingga mencegah mereka untuk maju, sementara bagi kaum muslimin hujan turun terasa bagaikan gerimis yang menyegarkan dan memantapkan langkah mereka.

Manusia, yang juga diciptakan dengan komposisi air sebagaimana banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an dan berbagai literatur, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan alam beserta berbagai sumber dayanya, baik secara lahiriah melalui pelestarian dan inovasi-inovasi pendayagunaan maupun melalui hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Semoga dapat merawat keselarasan hidup sehingga kekuatan-kekuatan alam tidak berubah menjadi musibah yang merusak tatanan kehidupan manusia.

Pentingnya air dan perlunya kesadaran manusia terhadap pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air ini juga telah menjadi keputusan Munas Tarjih Muhammadiyah yang ke-28 di Universitas Muhammadiyah Palembang pada tahun 2014 yang terangkum dalam Fikih Air yang dapat dibaca dalam buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah 3.

Semoga bermanfaat, Allahu A’lam bi al-Shawab.

Leave a Reply