Pak Kiai, Mengangguk atau Menggeleng?

“Bahwa kekuasaan dan politik merupakan tanggung jawab dan amanah dari Allah dalam rangka implementasi undang-undang-Nya bagi segenap manusia untuk kemaslahatan.”

Ibnu Khaldun

PANRITA.News – Sejatinya kemerdekaan mengangkat kebodohan dengan membuka akses pendidikan yang mencerdaskan, meningkatkan mutu hidup layak dari kemiskinan dan ketidakberdayaan yang di alami oleh masyarakat di bumi Indonesia.

Jalan terang terbuka sejak dibacakan teks proklamasi oleh Bung Karno untuk mengambil alih hak-hak rakyat Indonesia yang selama bertahun-tahun disalahgunakan oleh kolonial,. Sebab, memang menjadi tugas penting orang sadar adalah menampung seluruh aspirasi dan memperjuangkan hak-hak rakyat untuk mendapatkan kelayakan, ketentraman dan kedamaian hidup di negeri yang subur ini.

Tugas pendahulu di masa lalu juga tugas yang sama kepada kita di masa kini untuk mewujudkan masa depan yang lebih layak bagi kehidupan masyarakat pribumi Indonesia. Itulah pesan kemerdekaan dari mulut Bung Karno, “Bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas, di ujung jembatan kita akan membangun keadaban masyarakat”.

Penulis cukup tertarik melihat banyak tokoh agama masuk mengambil alih kekuasaan. Hitung-hitung perlu ada orang baik yang menduduki kursi kekuasaan sehingga kebijakan politik yang diambil dipertimbangkan atas nilai kemanusiaan seperti dalam banyak khutbah-khutbah keagamaan.

Tetapi menjadi lucu, para tokoh agama yang masuk dalam struktur kekuasaan justru menjadi lebih berdosa dalam segala macam kebijakan politik yang ditetapkan. Tidak ditemukan ada kumpulan kegelisahan rakyat yang ditampung, dikantongi dengan sarung dan surbannya untuk dibawa masuk dalam kursi kekuasaan, kemudian menggelinding menjadi kebijakan politik yang sangat penting.

Misi agama telah berubah menjadi misi aliran. Bahkan menjadi lebih hina-dina lagi jika menjadi misi pribadi yang sebelumnya mengatas namakan rakya seperti kartu kesempatan. Maka dimanfaatkan kesempatan itu untuk menjadi orang kaya berpengaruh, tetapi di balik itu menjadi bandit, ‘anjing’ kaki tangan kekuasaan. Sebab tidak ada yang lebih berkuasa di bumi manusia ini, kecuali mereka yang sudah sejak awal hidup di atas langit. Wallahua’lam

Kabinet Kerja untuk Siapa?

Ada banyak kisah pilu dari masyarakat pinggiran “rural society” yang hidup tanpa tersentuh proposal kerja dari kabinet kerja. Bahkan lebih buruk lagi hidupnya, sudah miskin sejak “kabinet pembangunan” dan tidak tersentuh proposal pembangunan. Dua model proposal dari dua kabinet itu, seorang tua renta hidup dan meninggal dunia tanpa tersentuh proposal sedikit pun.

Bahkan orang-orang menjadi senang berada pada skema “kesadaran palsu”. Yakni kemiskinan itu harus diresapi dengan baik, menjadi miskin yang baik, menjadi pembantu yang profesional, bekerjalah agar orang merasa senang, agar para tuan tempat bekerja memuji setiap waktu hasil dari pekerjaan orang miskin dan pembantu tersebut.

Negara dengan penduduk yang begitu agamis, tetapi nilai-nilai agama tercerabut dari akar ajaran dan hanya dijadikan sebagai akses merebut kekuasaan. Lebih buruk lagi, Moeslim Abdurrahman menyebutnya “agama sebagai kartu politik”, benar saja dijadikan sebagai kartu politik sebab misi agama hilang tertelan oleh kursi kekuasaan. Jika muncul, maka orang harus rela hidup menderita sebagai penguasa.

Apakah sebuah kebohongan bahwa di Morowali TKA begitu banyak? bahkan telah memiliki kampung sendiri, rumah sendiri, jalanan sendiri, tempat perbelanjaan sendiri, rezim kabinet kerja mengucurkan proposal kerja hanya untuk tenaga kerja asing. Sementara untuk menunjang kedaulatan bangsa, masyarakat pribumi dikirim menjadi TKI. Apa yang lebih hina selain menjadi Tenaga Kerja Indonesia yang di kirim menjadi pembantu?.

TKI lebih tepatnya adalah budak belian dari Indonesia, untuk mengerjakan seluruh kebutuhan tuan-tuan di luar negeri. Tidak jarang budak yang melawan akan dicambuk, diperkosa, bahkan berhadapan dengan hukuman mati dari pengadilan luar negeri.

Menjadi lebih miris tokoh agama menduduki kursi kekuasaan. Rebutan kursi kekuasaan dari tokoh-tokoh agama sesungguhnya sikap tunduk, yakni mental feodalisme. Sedikitpun tidak ada sikap kritis dan ‘menggeleng’ untuk menampung keresahan masyarakat yang telah banyak mendapatkan penderitaaan.

Khutbah Keagamaan yang Hilang

“Pemimpin kafir yang adil lebih baik daripada pemimpin muslim yang korup”

Imam Al-Ghazali

Momentum politik seperti saat ini, semestinya menjadi ruang terbuka mengkampanyekan hal-hal yang memiliki spirit pembebasan dari agama itu sendiri. Bukan justru mengaburkan hakikat dari perebutan kekuasaan. Bahwa benar politik dan kekuasaan adalah jalan mencipta kemaslahatan manusia. Bukan untuk menipu dan kembali menyiksa rakyat dengan khutbah-khutbah yang tidak konstruktif dan revolusioner.

Akal manusia Indonesia perlu dihidupkan. Jalan menghidupkan adalah dengan mengisi ruang-ruang masjid dan majelis di seluruh tanah air ini dengan isi ceramah yang membebaskan. Memberikan spirit agar manusia Indonesia tidak berada pada pusaran pesimisme dan skeptis, sehingga menjadi acuh terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetapi menjadi warga negara aktif yang melanjutkan setiap kampanye dari para tokoh-tokoh agama. Bukan untuk menakuti tetapi mendamaikan kehidupan warga Negara.

Tanpa menafikan adanya hari akhir, kita tidak boleh terlalu fokus dulu membahas surga dan neraka, sebagai konsekuensi kehidupan di semesta yang subur ini. Melainkan, perlu menanam spirit menangkap makna ibadah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rukun Islam semisal syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji semestinya menjadi jalan pembebas bagi manusia dari segala macam jeratan duniawi. Melainkan, mengisi bumi manusia dengan kehidupan manusia yang lebih layak dan manusiawi.

Juga politik dan kekuasaan semestinya menjadi jalan implementasi undang-undang Tuhan. Menjadikan manusia amanah setiap menjalankan tugas dan fungsinya. Bumi manusia yang subur, yang mengajak mata dunia jelalatan untuk datang menggali, menguasai, serta menggeser tradisi manusia melalui misi global ; Gold, Glory, Gospel.

Hantaman global ini perlu dihalau dengan doktrin etik dari agama-agama yang juga tumbuh subur di Indonesia. Bukan justru menjadi pintu eksploitasi besar-besaran, bahkan mengabaikan unsur-unsur kemanusiaan yang sejak lama dibebaskan dan dibiarkan hidup oleh ajaran agama.

Back to Mosque seharusnya menjadi spirit jalan pulang dalam diskursus panjang tentang “hijrah”. Memberikan nyawa, agar ajaran Islam lebih hidup setelah begitu lama umat ini dibawa lari oleh globalisasi untuk masuk pasar modern; Mall, Bioskop, Play Station, Warung Kopi, KFC, Pizza Hut, McDonald’s, Holand Bakeri dan lain-lain.

Hanya Tuhan pemberi petunjuk terbaik. Amin

Leave a Reply