Bone, PANRITA.News — Ketua DPRD Bone Andi Tenri Walinonong diketahui telah memberikan klarifikasi dan membantah melakukan penganiayaan terhadap stafnya. Dia bahkan mengancam akan melaporkan balik korban atas dugaan pencemaran nama baik.
“Apa yang disebut di media sosial itu tidak sepenuhnya benar, dan saya akan melapor balik karena nama baik saya sudah dicemarkan” kata Andi dikutip Selasa (28/7/2026).
Andi Tenri Walinonong lalu menjelaskan kejadian berawal saat adanya kunjungan kerja dari Komandan Batalyon (Danyon) Kavaleri 10/Mendagiri. Namun, saat itu dirinya masih berada di luar sehingga tamu diterima oleh Kepala Bagian (Kabag) DPRD.
“Saya kedatangan tamu tapi saat itu saya masih di luar kantor sehingga saya utus Kabag untuk melayani tamu dan setelah tiba di kantor ternyata tamu saya sudah pergi jadi saya langsung ke kantin bersama Pak Sekwan,” kata Andi.
Beberapa saat kemudian, Kabag DPRD berjalan sambil membawa kue lalu dibercandai oleh Andi yang meminta kue dan dijawab oleh Kabag DPRD bahwa kue itu merupakan sisa dari tamu tadi. Mendengar hal itu, seorang staf DPRD bernama Wahyu menelepon lounge agar sisa kue tamu undangan dibawa ke kantin oleh staf lain bernama Yanti.
“Kuenya kemudian dibawa ke kantin untuk dimakan bersama dan setelah beberapa lama kemudian Yanti melapor bahwa Yuli menanyakan keberadaan kue tersebut dengan alasan masih ada tamu yang akan segera tiba dari Sidrap,” kata Andi Tenri.
Adapun, Yuli disebut kesal lantaran kue itu akan dipersiapkan untuk tamu, tetapi dibawa tanpa sepengetahuannya. Andi kemudian mendapat aduan dari Yanti bahwa Yuli memarahinya sehingga Ketua DPRD Bone itu memanggil Yuli ke kantin untuk klarifikasi.
“Mendengar bahwa Yuli marah jadi saya langsung telepon dia untuk datang ke kantin dan saat tiba dia duduk di samping kiriku dan menyangkal dan banyak bicaranya dan secara spontan saya ambil satu biji kue dan suapi Yuli saya juga bahkan sempat pukul meja yang mengakibatkan kue dan botol mineral yang jatuh ke tanah dan saya akui itu di luar kontrol emosi saya,” kata Andi Tenri.
“Jadi saya pertegas bahwa saya tidak pernah melempari Yuli dengan botol apalagi melumuri wajahnya dengan kue,” tegasnya.
Duduk Perkara Ketua DPRD Bone dan Staf

Dugaan aksi kekerasan menimpa seorang staf perempuan di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, berinisial YNS.
Korban dilaporkan menjadi sasaran amarah Ketua DPRD Bone, Andi Tenri Walinonong, hingga wajahnya dilumuri kue dan disiram air di kantin kantor DPRD, Rabu (22/7/2026).
Insiden yang terjadi sekitar pukul 15.00 WITA tersebut dipicu oleh kesalahpahaman terkait penyediaan hidangan kue untuk tamu. Tidak terima atas perlakuan kasar yang dialaminya, YNS langsung melakukan visum dan melaporkan kejadian tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Bone.
Peristiwa bermula saat YNS diminta membeli kue untuk menyambut tamu dinas di Kantor DPRD Bone. Setelah salah satu rombongan tamu pulang, YNS kembali diminta menyiapkan hidangan karena ada tamu lain yang akan tiba.
Ia kemudian berinisiatif mengecek ketersediaan makanan di ruang penerima tamu (lounge). Di tempat itu, YNS bertanya kepada petugas jaga mengenai sisa kue yang ada.
“Saya bertanya, mana lagi kuenya. Saya hanya memastikan karena itu memang disediakan untuk tamu. Kalau tamu datang tidak ada kue, nanti saya juga yang dimarahi,” ujar YNS.
Namun, pertanyaan tersebut diduga disalahartikan oleh seseorang di lokasi. Oknum tersebut melaporkan kepada Ketua DPRD Bone bahwa YNS melarang orang lain memakan kue tamu. Tidak lama setelah kembali ke ruang kerjanya, YNS mendapat telepon yang memintanya segera menghadap Ketua DPRD di kantin.
Nahas, sesampainya di kantin DPRD, YNS langsung mendapat perlakuan kasar tanpa diberikan kesempatan untuk meluruskan duduk perkara.
“Baru saya duduk sebentar, saya belum sempat bicara satu kata pun, kue langsung dihamburkan ke muka saya,” ungkap YNS.
Ketegangan tidak berhenti di situ. YNS membeberkan bahwa kepalanya kemudian disiram menggunakan air mineral kemasan, lalu botol kosongnya dilemparkan ke arahnya. Pelaku juga sempat melempar botol sambal yang berada di meja kantin.
“Setelah habis airnya, botolnya langsung dilempar ke arah saya. Saya sudah agak jauh, jadi botolnya (sambal) jatuh di bawah. Tapi menurut saya, tidak pantas diperlakukan seperti itu sebelum saya diberi tahu apa kesalahan saya,” keluhnya.
YNS menyayangkan sikap orang-orang di sekitar lokasi kejadian. Menurut penuturannya, suasana kantin saat itu cukup ramai, namun tidak ada satu pun saksi yang bergerak untuk melerai atau menghentikan aksi tersebut.
Usai membersihkan sisa makanan di wajahnya dengan tisu, YNS menegaskan bahwa dirinya siap ditegur secara profesional jika memang melakukan kesalahan, bukan dengan cara-cara kekerasan.
“Kalau memang saya salah, ajak saya bicara baik-baik. Jelaskan apa kesalahan saya. Jangan langsung diperlakukan seperti itu,” tegasnya.
Laporan dugaan penganiayaan ini kini tengah diatensi serius oleh pihak kepolisian setempat. Aparat penegak hukum bergerak cepat melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan bukti-bukti penguat.

Comment