Jakarta, PANRITA.News – AC Milan tampaknya menemukan stabilitas yang mereka cari sejak kedatangan Luka Modric di bursa transfer musim panas 2025. Gelandang Kroasia berusia 39 tahun itu langsung menjelma sebagai otak permainan Rossoneri. Usianya memang tak lagi muda, tapi kualitas yang ia bawa masih sekelas elite dunia.
Debut Modric melawan Cremonese memang berakhir pahit dengan kekalahan 1-2, namun rating 7,6 dari FotMob membuktikan perannya tetap krusial. Ia kemudian tampil semakin mantap saat membawa Milan menang 2-0 atas Lecce dengan rating 8,1.
Puncak performa datang pada laga ketiga kontra Bologna. Dengan rating 8,7, Modric nyaris mendikte jalannya pertandingan seorang diri hingga AC Milan pulang dengan kemenangan tipis 1-0.
Konsistensi itu berlanjut saat Rossoneri menggulung Udinese 3-0, dengan Modric tetap menjaga standar tinggi lewat rating 7,7.
Lebih dari sekadar nama besar, Modric benar-benar menjadi kepingan penting dalam puzzle Stefano Pioli musim ini. Dialah keseimbangan sekaligus penggerak utama yang membuat Milan tampil lebih meyakinkan di awal musim.
Jawaban AC Milan atas Gemerlap De Bruyne
Kedatangan Kevin De Bruyne ke Napoli sempat menjadi pusat perhatian Serie A. Namun Fabio Capello punya pandangan lain, AC Milan justru sudah menemukan bintang tandingan lewat Luka Modric.
“Sejak pekan pertama, ia menunjukkan kelasnya. Modric adalah jawaban Milan untuk Kevin De Bruyne,” ujar Capello dikutip dari La Gazzetta dello Sport.
Menurut Capello, kehadiran Modric bukan hanya membawa kualitas teknis, melainkan juga aura juara yang membentuk identitas baru Milan di lini tengah.
Serie A, Panggung Ideal untuk Luka Modric
Selain kemampuan individunya, gaya permainan Serie A yang cenderung lebih lambat dibanding Premier League atau La Liga justru membuat Modric semakin bersinar.
Dengan ritme yang tidak terburu-buru, ia punya ruang lebih untuk memainkan visi dan distribusi bolanya.
Setiap umpan, kontrol, hingga membaca jalannya pertandingan dilakukan dengan presisi tinggi, sesuatu yang sulit ditunjukkan jika ia kembali ke liga dengan tempo super cepat.
“Di Italia tempo permainan lebih lambat, tapi itu sama sekali tidak mengurangi kualitasnya. Justru di situ Luka bisa benar-benar menunjukkan kelas seorang juara,” tutur Capello.

Comment