DPPKB Bontang Dorong Sekolah Inisiasi Program SRA

Bontang, PANRITA.News – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bontang mencatat dari 2017 hingga saat ini. Sudah ada 24 sekolah yang mendapatkan SK untuk menjalankan program Satuan Penddidikan Ramah Anak (SRA).

Kepala DPPKB Bahtiar Mabe melalui Kepala Seksi (Kasi Pemenuhan Hak Anak) Trully Tisna Milasari, mengatakan bahwa SRA adalah satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi anak termasuk mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di satuan pendidikan

“Mungkin saat ini jumlahnya masih 24 sekolah, kedepan harapan kami adalah terus terjadi penambahan jumlah SRA yang inisiatif serta semangatnya tumbuh dari sekolah secara mandiri untuk menggalakan program sekolah ramah anak,” kata Truly saat ditemui awak media beberapa waktu lalu.

SRA adalah sebuah proses, jadi sebenarnya semua satuan pendidikan bisa memulai dan mengembangkan potensi untuk memenuhi 6 komponen SRA. Enam komponennya yaitu : komitmen/kebijakan SRA, pendidik dan tenaga pendidik terlatih Konvensi Hak Anak (KHA), proses belajar yang ramah anak, tersedia sarana prasarana yang ramah anak, partisipasi anak, dan partisipasi orangtua, lembaga masyarakat, alumni serta dunia usaha untuk ikut bersama mengembangkan SRA.

Selain itu untuk sekolah yang telah mendapatkan SK, diminta secara optimal dan melakukan kerjasama. Dengan memanfaatkan kolaborasi antar Dinas.

Karena dukungan kementrian/lembaga lain juga dapat mendukung SRA.

“Contoh bekerjasama dengan DPPKB soal perlindungan anak, penerapan disiplin positif, parenting, dengan, dengan BNNK soal bahaya narkoba, BPBD soal jalur evakuasi ketika ada bencana untuk sekolah aman bencana, kominfo untuk internet sehat dan aman, dan banyak lainnya,” sambungnya.

Selain sekolah, DPPKB juga sedang menggiatkan program pemenuhan hak anak di fasilitas publik seperti tempat bermain ramah anak, masjid ramah anak, untuk menjadikan Kota Bontang sebagai kota yang semakin peduli dan terhadap kepentingan terbaik terhadap anak.

“Semua adalah program satu kesatuan,karena pendekatan maupun intervensi anak harus dimulai dari keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan bermain, dan tentunya penguatan diri anak” tutupnya.

Tinggalkan Komentar