Ruang Strategis Idealisme Mahasiswa Era Disrupsi

Muh. Indar | Ketua Umum DEMA FTK UIN Alauddin

Muh. Indar | Ketua Umum DEMA FTK UIN Alauddin.

“Lebih baik diasingkan, dari pada menyerah pada kemunafikan” (Soe Hok Gie)

Slogan demi slogan bermunculan bak jamur di musim hujan untuk menggambarkan keteguhan dan bara api perjuangan Mahasiswa. Itu terjadi ditahun-tahun yang setiap hari antara hidup dan matinya aktivis tidak perlu diminta tetapi setiap saat secepat kilat menjemput jika memiliki tingkat kritisisme yang tinggi terhadap kekuasaan. Orde lama dan orde baru telah mengisahkan itu, sampai hari ini masih terkenang sebagai kenangan.

Sebutlah satu diantara sekian banyak aktivis adalah Soe Hok Gie yang begitu getol melakukan perlawanan terhadap kekuasaan melalui jalan demonstrasi, tulisan yang dimuat oleh surat kabar. Di Akhir perjuangannya memilih mati terasing dari hiruk-pikuk politik kekuasaan yang selama hidup dikritiknya. Itu kisah klasik perjuangan Mahasiswa tanah air, jangankan ruang untuk kritis, bahkan ruang untuk mati pun tidak dimiliki oleh Mahasiswa.

Lantas bagaimana nasib Mahasiswa hari ini? Adakah ruang khusus yang menampung nalar kritis Mahasiswa atau kah memang nalar kritis itu sejak awal tidak ada pada diri Mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat penulis sendiri ingin segera menghentikan tulisan mengenai tema ini karena sebanyak tulisan ini muncul dilayar, sebanyak itu pula tamparan, pukulan, mengenai muka sendiri. Tetapi ini harus terus dilanjutkan agar kabar kegelisahan ini sampai kepada kawan-kawan mahasiswa agar sisah-sisah kearifan perjuangan semoga masih terjaga.

Semoga penulis keliru dalam penilaian kali ini, bahwa keadaan Mahasiswa sebenarnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Kehormatan dan kedaulatan yang seharusnya menjadi harta karun yang sangat berharga, sebanyak harapan harus tetap tersimpan rapi pada tempatnya kini siapapun bisa menemukan dan mamatok harga untuk bisa membelinya sebagai bahan koleksi. Kita sama-sama tahu, hari ini sejak lampau selalu ada penguasa yang tertarik mengkoleksi “Idealisme/otak aktivis” dan memberi harga dari tiap-tiap koleksinya, sampai-sampai penguasa bisa tahu jenis kepala yang harganya paling murah. Entah ini yang dimaksud, “ruang idealisme mahasiswa ada di gudang-gudang para penguasa”.

Era disrupsi (distruption) adalah pertarungan pangsa pasar antara incumbent dalam hal ini pasar convensional dan pendatang baru yang meletakkan dunia dalam kendali genggaman (start-up). Apa sebenarnya yang diharapkan oleh Mahasiswa ketika meletakkan dan memposisikan idealisme untuk memiliki ruang di era disrupsi? Jika ini menjadi performa baru perjuangan Mahasiswa, penulis justru melihatnya seperti upaya mencari mutu dalam gerombolan kutu. Kekayaan informasi yang didapat oleh mahasiswa melalui gadget tidak menjadikan idealisme semakin teguh dan menyala, ini disebabkan karena benar dan salah datang bersamaan meracuni kepala mahasiswa, informasi yang silih berganti datang menghujani mahasiswa bukanlah sesuatu yang harus ditelan mentah-mentah. Pengetahuan yang seharusnya ada agar memiliki kekayaan metodologi agar bisa memagari dirinya dari kekacauan informasi.

Idealisme bukanlah sejenis jatah sedekah, yang bisa didapat hanya dengan menunggu panggilan nomor antrian. Meraihnya memerlukan kesungguhan, menempa diri agar tahan terhadap hujan dan panas. Lebih penting dari semua yang telah diajarkan oleh nenek moyang adalah mencari guru agar berlangsung tradisi berguru.

Guru merupakan batu tapal untuk muridnya, derasnya informasi bersamaan datang dengan arus yang dititip oleh kekuasaan. Tanpa batul tapal sebagai penyanggah, tanpa kesadaran untuk beruguru, mahasiswa akan terbawa oleh arus kekuasaan. Kita sama-sama tahu, semakin dekat mahasiswa dengan kekuasaan akan semakin besar peluang bertindak diluar batas wajar ilmiah. Seperti itulah maksud sederhana mengapa diperlukan ada guru dalam kehidupan ini, sebab kita tidak selamanya tahu apa yang akan dihadapi diluar diri. Apalagi dengan gadget, sesama kita akan mudah berbohong, menyimpang, menyeleweng, tidak patuh, semua jenis itu merupakan tindakan diluar koridor kedirian Mahasiswa.

Murid itu serupa kader dalam doktrin salah satu organisasi yang mencetak kader ideologis. Seorang bisa dinyatakan sebagai kader ketika ia hanya disuruh untuk melakukan sesuatu tanpa ada kesempatan bertanya dan selama menjalaninya tidak pernah menyatakan tidak, hanya siap melaksanakan semua perintah yang diberikan sekalipun itu mustahil dilakukan, karena ketika semua itu dilewati maka resmi ia dinyatakan kader. Begitulah seorang murid, ia harus selalu siap melewati semua jenis perintah dan selanjutnya selalu siap menempa diri, meningkatkan kualitas, kapasitas, sebab tiba waktu ia lah yang akan menjadi tulang punggung bagi yang lain (anggota).

Sekarang siapakah diantara kita semua sebagai mahasiswa yang siap menjadi tulang-punggung bagi mahasiswa yang lain bahkan masyarakat Indonesia? Maka saatnya lah mencari guru yang bisa menjadi batu tapal, penyanggah dari derasnya arus yang akan menghantam kita dengan idealisme yang kita banggakan.

Mahasiswa memerlukan guru bukan sekedar untuk mengamankan diri dari keadaan yang akan dihadapi melainkan meminta dan menerima pembinaan agar selalu tahan banting dengan segala macam situasi yang ada dan silih-berganti datang di hadapannya. Kesadaran sejarah sangat diperlukan agar kita tidak terlalu larut dan membanggakan mahasiswa lampau tanpa tahu seluk-beluk perjuangan dan warisannya hari ini. Seperti angkatan 1998 yang sampai hari ini menganggap diri paling mengerti pemerintahan dan pernah menggulingkan satu rezim, tetapi reformasi sebenarnya tidak pernah terjadi jika kita mengurai struktur pemerintahan yang tidak mengalami perubahan sedikitpun.

Reformasi merupakan perombakan sistem yang sebelumnya telah dicekoki oleh imperialisme, tetapi sampai hari ini imperialisme semakin mengakar dan menggurita dalam sistem, bahkan banyak angkatan 1998 yang menjadi pelayan dan selalu siap melayani imperialisme dalam sistem pemerintahan. Ibu pertiwi tidak pernah dibiarkan tenang, bahkan banyak mahasiswa yang ikut terlibat mengerayangi ibu pertiwi atas kendali imperialisme. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan luka disebabkan kegagalan perjuangan mahasiswa yang merasa diri sebagai “anak kandung reformasi”. Setelah reformasi dalam sistem gagal dan justru semakin meraja-lela imperialisme bahkan pribumi sendiri berubah wajah penjajah. Diluar sistem tidak kalah kejam, semua settingan pasar menyetir manusia Indonesia menjadi konsumen, hingga kesadaran pun hilang.

Penulis menyebut kegagalan ini sebagai rupa dari dosa sejarah atas kegagalan reformasi 1998 harus ditanggung sampai hari ini, tetapi juga secara pribadi penulis berterima kasih kepada seluruh aktivisme yang masih setia berjuang hingga hayat. Tanpa memungkiri situasi perjuangan hari ini cukup sulit, sekalipun mahasiswa dimudahkan dengan tekhnologi, karena justru tekhnologi juga by design yang melemahkan perjuangan dan kesadaran mahasiswa.

serupa rumah kaca ; “Aktivitas perkuanhan mahasiswa dikontrol hanya dengan menekan tombol alarm sebagai tanda sudah waktunya untuk makan, artinya perjuangan dengan embel-embel idealisme harus segera dihentikan”.

Tinggalkan Komentar