Meski Sudah Cerai, Mantan Suami Istri di Manggarai Timur Tetap Tinggal Serumah

Ilustrasi Perceraian.

Manggarai Timur, PANRITA.News – Perceraian dalam rumah tangga sering terjadi, dan salah satunya keluar dari rumah atau pindah namun berbeda dengan yang satu ini, seorang oknum PNS Guru Bahasa Arab yang bertugas di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Pota Kabupaten Manggarai Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bernama Hj. Muslimah, yang sudah diceraikan oleh suaminya bernama Mahmud tapi masih bertahan dalam rumah sekalipun sudah diusir oleh mantan suaminya.

Hj. Muslimah bertahan dengan alasan bahwa rumah tersebut adalah haknya, sementara jauh sebelum menikah menurut saksi (tetangga) dari suaminya, material bangunan rumah tersebut berupa batako, semen, pasir dan lain-lain selengkapnya sudah ada dan bukan hasil jeri payah bersama.

“Material untuk membangun rumah sudah lengkap, jauh sebelum mereka berdua nikah, semua sudah disediakan oleh almarhum istri sang suami (Duda red), sehingga untuk harta berupa rumah, sang istri yang diceraikan nggak ada hak untuk rumah tersebut, apalagi pernikahannya tidak ada anak,” ungkap tetangga yang tidak mau disebutkan namanya.

Sementara di tempat tepisah Mantan suami Hj. Muslimah yakni, Mahmud saat diwawancarai oleh Panrita.news membenarkan hal tersebut.

“Saya sudah kasih tau Muslimah (Mantan istri.red) untuk menuntut harta Gono-Gini di pengadilan Agama kalau memang merasa ada hak atas rumah ini, tapi ia tidak Berani menuntut, olehnya itu saya usir kasih keluar barang-barangnya, bahkan sampe putuskan aliran listrik yang masuk di kamarnya tapi masih bertahan,” kata Mahmud.

Dan menurut pengakuan Mahmud, sang mantan Istrinya tersebut juga masih bertahan karena adanya dukungan salah satu Oknum kepala Sekolah Madrasah Aliah Negeri Pota yang masih 1 (satu) instansi di bawah naungan Departemen Agama Kabupaten Manggarai Timur NTT yang bernama Drs H. Mustamin.

“Hal ini diperkuat dengan menyambungkan listrik dari Mesjid yang  bahkan tidak tanggung-tanggung menyambung melewati lorong tanpa ijin dari PLN kerumah yang di Klaim ada hak sang mantan Istri,” ujar Mahmud.

Sementara itu, saat Drs. H. Mustamin dimintai keterangan hanya mengungkapkan ”Jangan mendengar satu pihak, saya lakukan atas dasar jamaah,” katanya. Bahkan saat ditanya soal izin ke pihak PLN, ia berdalih bahwa di Pota manggarai Timur banyak yang menyambung listrik tanpa izin, makanya ia juga menyambungkan Ibu Muslimah”.

Bahkan dengan nada tinggi membentak awak media saat dimintai keterangan.

Sikap seorang kepala Sekolah yang paham hukum dan aturan serta menghargai tidak seharusnya berpihak, dan seharunya meminta izin ke pemilik rumah yakni Mahmud, sekalipun yang disambungkan listrik merasa punya hak atas rumah tersebut.

”Saya takut rumah saya terbakar kalau ada arus listrik pendek soalnya, yang menyambungkan bukan dari pihak PLN, apalagi pak Haji nggak konfirmasi juga sama saya “ungkap Mahmud.

Sementara Kepala Seksi pendidikan Agama islam Kabupaten Manggarai Timur Drs. Abd. Razak saat dikonfirmasi via Whatshap mengenai kelaukuan bawahannya tersebut untuk memberikan pemahaman kepada Hj. Muslimah mengungkapkan, ”Saya sudah melakukan pendekatan kepada Ibu Muslimah terkait dengan itu, tapi yang bersangkutan merasa punya hak atas rumah tersebut, mau gimana lagi,” jelasnya.

Lanjut mengenai diduga keberpihakan bawahannya yakni Kepala Madrasyah Aliah Negeri Pota Kabupaten manggarai Timur Drs. H. Mustamin ke Ibu Muslimah, awak media diarahkan konfirmasi langsung ke bersangkutan.

Namun saat di Tanya apakah Bapak mendukung apa yang di lakukan oleh bawahannya terkait ikut campur dalam masalah tersebut, Drs.Abd razak tidak mau menjawab.

“Saya sangat Berharap kepada Bapak Kanwil Departemen Agama NTT, untuk memberikan teguran kepada bawahannya Kepala sekolah Madrasah aliah Negeri Pota  Bapak Drs.Mustamin yang telah ikut campur dalam masalah saya,yang seharusnya netral serta tidak berpihak  walaupun satu instansi dengan mantan istri saya karena ia orang bependidikan dan panutan,” ungkap Mahmud.

“Memang ini harus jadi perhatian Kanwil Depag, agar bawahannya Netral tidak mencampuri masalah orang lain karena merupakan panutan pendidik penerus bangsa dalam agama,” tutup Mahmud.

Sementara sampai berita ini diturunkan, awak media belum bisa mengonfirmasi Hj. Halimah terkait masalah ini disebabkan sangat susah ditemui.
 
 

Tinggalkan Komentar